Sabar Hingga Akhir

Usianya sudah senja, rambutnya ‘menyala’, putih semua. Saya mengenalnya sekitar 13 tahun lalu, ketika saya menyampaikan pengajian di sebuah masjid di Banjarmasin.

Ada satu hal yang menarik dari beliau, yakni keseriusan beliau dalam menghadiri setiap kajian, mendengarkan, mencatat, bertanya, hingga menyampaikan pandangan diantara para hadirin, sepertinya itu yang tidak berubah dari beliau, sejak 13-an tahun lalu.

Pasca sebuah kajian di bulan Syawwal 1438 H, kami berdua duduk di emper sebuah masjid di Banjarmasin, sambil menunggu waktu dzuhur. Beliau membuka ‘rahasia’ kenapa hampir selalu hadir dalam setiap kajian, terutama yang menyangkut perjuangan untuk tegaknya syari’ah Allah di muka bumi.

“Pak Taufiq, (kadang beliau manggil saya pak, kadang ustadz), satu hal yang mendorong saya untuk senantiasa terlibat dalam setiap kegiatan yang diadakan, termasuk seperti saat tekanan terhadap dakwah makin kuat seperti saat ini, (adalah karena) saya ingin mendapat ‘kabar gembira’ di akhir kehidupan saya”.

Beliau berkata dengan mimik serius dan mata menerawang, membayang kekhawatiran terhadap akhir kehidupan yang tidak pasti. Lalu beliau menyebut surat Fush shilat 30 (tidak dibaca beliau), lalu bertanya seolah meminta kepastian: “kalau kita istiqomah, Allah akan mematikan kita dalam kebaikan kan ustadz?”

Saya cuma berkata: “Allah tidak akan mengingkari janji-Nya, dan tidak akan berlaku zalim kepada hamba-Nya yang memang serius mendekati-Nya”. (Yang ditanya juga khawatir akan nasib dirinya sendiri).

***
Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushshilat : 30)

Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang mengatakan dan mengakui bahwa Tuhan Yang menciptakannya, memeliharanya, menjaga kelangsungan hidupnya, memberinya rezeki dan yang berhak disembah, hanyalah Allah saja, kemudian mereka tetap teguh dalam pendiriannya itu, maka para malaikat akan turun kepada mereka, untuk mendampingi mereka dalam saat-saat yang mereka perlukan, seperti di saat mereka meninggal dunia, waktu di dalam kubur dan di waktu mereka dihisab di akhirat nanti, sehingga segala kesulitan yang mereka hadapi akan terasa ringan.

Imam Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat ini menyatakan bahwa maknanya adalah:

أَخْلَصُوا الْعَمَلَ لِلَّهِ، وَعَمِلُوا بِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى مَا شَرَعَ اللَّهُ لَهُمْ

(Yakni) mereka ikhlas dalam beramal hanya karena Allah Swt., dan mereka melakukan ketaatan kepada Allah diatas apa yang Allah telah syari’atkan bagi mereka.[1]

Sampai kapan menjaga diri, berusaha ikhlas, menundukkan nafsu untuk taat kepada-Nya, dan menundukkan pikiran agar selaras dengan syari’at-Nya? Tidak lama, hanya sampai ajal menjemput kita saja.

Rasulullah berkata tentang ayat ini

}إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا} قَدْ قَالَهَا نَاسٌ ثُمَّ كَفَرَ أَكْثَرُهُمْ، فَمَنْ قَالَهَا حَتَّى يَمُوتَ فَقَدِ اسْتَقَامَ عَلَيْهَا

{Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka. (Fushshilat: 30)} Sesungguhnya ada segolongan manusia yang telah mengucapkannya, tetapi setelah itu kebanyakan dari mereka kafir. Maka barang siapa yang mengucapkannya dan berpegang teguh kepadanya hingga mati, berarti dia telah meneguhkan pendiriannya pada kalimah tersebut. (HR Abu Ya’la).

Bagaimana bisa sampai ‘ke sana’?, sekitar 78% *) dari semua itu kembali kepada pikiran dan hati kita; hidup kita itu cuma ada 3 masa, 1/3 itu masa lalu, 1/3 masa depan, dan 1/3 adalah masa sekarang. 1/3 dari masa sekarang terkait dengan pikiran dan hati, 1/3nya lagi terkait dengan lidah (ucapan) dan 1/3nya lagi terkait dengan perbuatan anggota badan.

Masa lalu dan masa depan (1/3 + 1/3) itu juga tinggal diperbaiki dengan pikiran dan hati saja. Masa lalu ‘diperbaiki’ dg taubat dan penyesalan, dan itu perkara pikiran dan hati, masa depan ‘diperbaiki’ pula dengan niat dan tekad, dan itu juga perkara pikiran dan hati, kalaupun niat dan tekad itu tidak kesampaian, maka sudah terhitung ganjaran seolah itu terlaksana.

Oleh karena itu sekitar 78% (yakni 1/3 + 1/3 + 1/3×1/3) urusan akhir hidup kita tergambar dari apa yang paling mendominasi pikiran dan hati kita. Apa yang paling menjadi perhatian dan mendominasi pemikiran dan hati kita saat hidup, kemungkinan besar itu pula yang jadi perhatian kita saat mati. Sedangkan mati dalam keadaan hati dan pikiran terpaut dan fokus pada selain mencari ridha Allah sudah tergolong mati yang buruk menurut Imam al Ghazali.

Adapun lidah dan perbuatan, itu lazimnya mengikuti saja. Lihatlah anak-anak yang fokus pikirannya dominan main bola, walaupun setelah dzuhur udaranya panas, tetap saja mereka senang main bola, susah, malas dan berlambat-lambat ketika diminta masuk ke kelas.

Begitu juga ketika kita merasa malas mengaji, selalu ada alasan untuk tidak hadir pengajian, kalaupun hadir hobbinya terlambat, malas muthala’ah hingga salah bawa kitab, sholatpun jarang fokus … namun dalam mencari harta sangat disiplin, sakit sedikit masih memaksakan diri untuk hadir, hujan, petir dan badai diterjang dengan penuh semangat, padahal harta yang diberkan Allah masih ada, rekening masih ‘berwibawa’, untuk makan esok, esok dan esoknya lagi masih tersedia,…hal-hal tersebut menunjukkan kurangnya perhatian kita terhadap urusan yang seharusnya menjadi fokus perhatian kita.

Padahal Allah berfirman

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (QS. Al Qashash: 77)

Berkata Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash r.a:

اعمل لدنياك كأنك تعيش أبدا، و اعمل لآخرتك كأنك تموت غدا

“Bekerjalah untuk duniamu, seakan kamu hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu mati besok.”

Adapun maknanya bukan menggiring opini manusia untuk fokus terhadap urusan dunia dan menyepelekan akhirat. Namun sebaliknya, maknanya adalah mengajak untuk menyegerakan amalan akhirat serta menunda pekerjaan dunia. Karena perkataan, “bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya” bermakna bahwa sesuatu (urusan dunia) yang tidak dapat dikerjakan hari ini, masih dapat dikerjakan besok dan yang tidak bisa dikerjakan besok bisa dikerjakan lusa. Maka bekerjalah pelan-pelan dan jangan tergesa-gesa. Andaikan hari ini terlewat, maka masih ada hari esok yang datang.

Adapun tentang akhirat, “bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati besok”, maknanya adalah segeralah beramal, jangan sepelekan, seakan kamu akan mati besok. Allaahu A’lam. [MTaufikNT]


[1] Tafsir Ibnu katsir, 7/175. Maktabah Syamilah.

*) angka 78% itu tidak ada dalilnya, hanya hitung-hitungan kasar, jangan ditafsiri secara matematis, apalagi mistis. Saya cuma ingin menyatakan bahwa perannya sangat besar, kalau dalam hadits shahih diungkapkan tentang hati, “kalau dia baik, maka baik seluruh jasad…” lihat arba’in an nawawiyyah.

Baca Juga:

Iklan

Posted on 12 Agustus 2017, in Akhlaq and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s