Status Kepemilikan Harta Istri

1) Bagaimana status harta penghasilan istri yang bekerja?

2) Jika harta istri dan suami bercampur untuk modal usaha, bagaimana pengaturannya?

3) Jika bercerai, padahal hartanya tercampur, bagaimana membaginya?

***

Salah satu masalah yang menimpa sebagian kaum muslimin saat ini adalah sudah terlanjur berbuat sesuatu padahal belum mengetahui bagaimana hukum syari’ah tentang sesuatu itu. Sudah ‘terlanjur’ menikah padahal belum mengerti bagaimana hukum terkait thalak (cerai), rujuk, nafkah, hadhonah, bahkan ada yang mandi junub saja tidak beres.

Belasan tahun yang dihabiskan di bangku pendidikan tidak memberikan pemahaman yang memadai terkait apa yang nyata-nyata dihadapi dalam kehidupan nyata.

Alhamdulillah jika di sisa-sisa usia, masih ada semangat untuk ‘mengejar ketertinggalan’ dengan mengkaji apa yang seharusnya dikaji sejak awal.

Diantara hal yang sering jadi problem dan tidak jarang memunculkan percekcokan suami istri dalam berumah tangga adalah tentang harta.

Dalam pandangan Islam, seorang suami wajib menafkahi istrinya walaupun istrinya tersebut kaya, asalkan istrinya tidak melakukan nusyuz (pembangkangan). Allah berfirman:

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ

‘’Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf, Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.’’ (QS.al-Baqarah 233)

Seorang suami juga tidak pantas merasa rugi dalam menafkahi istrinya, karena nafkah tersebut merupakan kewajiban syari’at dan juga bernilai sedekah, tentunya jika dia ikhlas karena Allah.

Rasulullah bersabda:
إِذَا أَنْفَقَ المُسْلِمُ نَفَقَةً عَلَى أَهْلِهِ، وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا، كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً
”Apabila seorang muslim memberikan nafkah kepada keluarganya dan dia mengharap pahala darinya maka itu bernilai sedekah.” (HR. al Bukhari).
Adapun kadar nafkah, insya Allah dibahas pada kesempatan yang lain.

Status Harta Penghasilan Istri

Berbeda dengan harta suami, dimana didalamnya ada hak istri dan siapa saja yang wajib dinafkahinya, harta istri adalah mutlak menjadi milik istri, suami tidak boleh mengambilnya kecuali dengan kerelaan istri. Istri berhak mentashorrufkan (mengelola dan menggunakan) hartanya walau tanpa izin suaminya, bahkan tidak ada hak suami dari harta istrinya, suami juga tidak memiliki hak untuk menghalangi istri dalam pentashorrufan harta miliknya. [al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaytiyyah, 26/329].[1]

Ini dari sisi hukum asalnya, namun dari sisi pergaulan yang baik (mu’asyaroh bil makruf) suami sebagai kepala keluarga wajib memberikan nasehat kepada istrinya sesuai dengan kemashlahatan rumah tangga. Juga sangat tidak patut jika suami sedang dalam kesulitan finansial, sang istri ‘cuek bebek’ saja padahal dalam rekeningnya banyak harta, sebagai teman saja tidak layak, apalagi sebagai istri. Bahkan ketika suami lapar, sementara istri kenyang banyak harta, dan dia tahu namun tidak membantu, maka dia terkena sabda Nabi:

مَا آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ

Tidaklah beriman kepadaku orang yang bermalam dalam kondisi kenyang, sedangkan tetangga sebelahnya lapar dan dia mengetahui (HR. Thabrani dan Al Bazzar dari Anas dg sanad shahih).

Sebaliknya, suami harus sadar diri jika istrinya membantu dalam menafkahi keluarga, tidak semena-mena memperlakukan harta istri, walau istri rela. Begitu juga istri, tidak boleh ‘mengundat-undat’ (mengungkit-ungkit) pemberiannya ke suami, apalagi sampai menghinanya, karena hal ini sungguh menyakitkan dan melecehkan harga diri seorang lelaki, dan hal ini menjadi jalan paling mudah bagi wanita untuk meluncur ke neraka.

Rasulullah bersabda:

أُرِيْتُ النَّارَ، فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ. قِيْلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ، وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ.

“Diperlihatkan neraka kepadaku dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita, mereka kufur.” Para Shahabat bertanya: “Apakah disebabkan kufurnya mereka kepada Allah?” Rasul menjawab: “(Tidak), mereka kufur (ingkar) kepada suaminya dan mereka kufur kepada kebaikan suaminya…(HR. al Bukhary dan Muslim).

Pengaturan Harta Istri dan Suami yg Bercampur Untuk Modal Usaha

Jika harta istri mau digabung dengan harta suami untuk suatu usaha, maka pengaturannya adalah sebagaimana pengaturan dalam kerja sama bisnis yang sudah diatur oleh syara’, apakah yang dilakukan syirkah ‘inan ataukah mudhorobah, atau yang lain. Besaran modal, persentase pembagian keuntungan, dan hal-hal lain hendaknya disepakati diawal agar tidak menimbulkan sengketa di kemudian hari (baca Berbagai Kerjasama Bisnis dalam Islam)

Pembagian Harta Yang Tercampur Saat Bercerai

Jika hartanya bercampur namun masih bisa dibedakan, maka harta istri diberikan ke istri, dan harta suami diberikan ke suami.

Jika bercampur dan sudah tidak bisa dibedakan, maka dilakukan perdamaian dan saling memberi sesuai kesepakatan suami dan istrinya.

Jika tidak tercapai kesepakatan, maka harta benda yang berada pada diri suami dan suami mengklaim itu hartanya, maka itu dianggap harta suami asal suami bersumpahnya bahwa itu miliknya.

Apabila harta itu ditangan keduanya maka masing-masing menyumpah yang lainnya kemudian hartanya dibagi dua. [Bughyatul Mustarsyidin, hal. 159][2]. Allaahu A’lam. [MTaufikNT]

 
Baca Juga

[1] Lihat al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaytiyyah, 26/329:

ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ: (الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَهُوَ الرَّاجِحُ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ) إِلَى أَنَّ الْمَرْأَةَ الْبَالِغَةَ الرَّشِيدَةَ لَهَا حَقُّ التَّصَرُّفِ فِي مَالِهَا، بِالتَّبَرُّعِ، أَوِ الْمُعَاوَضَةِ، سَوَاءٌ أَكَانَتْ مُتَزَوِّجَةً، أَمْ غَيْرَ مُتَزَوِّجَةٍ. وَعَلَى ذَلِكَ فَالزَّوْجَةُ لاَ تَحْتَاجُ إِلَى إِذْنِ زَوْجِهَا فِي التَّصَدُّقِ مِنْ مَالِهَا وَلَوْ كَانَ بِأَكْثَرَ مِنَ الثُّلُثِ (2)

وَالدَّلِيل عَلَى ذَلِكَ مَا ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَال لِلنِّسَاءِ: تَصَدَّقْنَ وَلَوْ مِنْ حُلِيِّكُنَّ، فَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ (3) وَلَمْ يَسْأَل وَلَمْ يَسْتَفْصِل، فَلَوْ كَانَ لاَ يَنْفُذُ تَصَرُّفُهُنَّ بِغَيْرِ إِذْنِ أَزْوَاجِهِنَّ لَمَا أَمَرَهُنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالصَّدَقَةِ، وَلاَ مَحَالَةَ أَنَّهُ كَانَ فِيهِنَّ مَنْ لَهَا زَوْجٌ وَمَنْ لاَ زَوْجَ لَهَا، كَمَا حَرَّرَهُ السُّبْكِيُّ (4) .

وَلأَِنَّ الْمَرْأَةَ مِنْ أَهْل التَّصَرُّفِ، وَلاَ حَقَّ لِزَوْجِهَا فِي مَالِهَا، فَلَمْ يَمْلِكِ الْحَجْرَ عَلَيْهَا فِي التَّصَرُّفِ بِجَمِيعِهِ، كَمَا عَلَّلَهُ ابْنُ قُدَامَةَ (5) .

__________

(1) شرح صحيح مسلم للنووي 7 / 112، وشرح الترمذي لابن العربي 7 / 178.

(2) الاختيار 3 / 91، والمجموع (التكملة للسبكي) 12 / 272، والمغني لابن قدامة 4 / 513.

(3) حديث: ” تصدقن ولو من حليكن. . . ” أخرجه البخاري (الفتح 3 / 328 – ط السلفية) ومسلم (2 / 695 – ط. الحلبي) .

(4) تكلمة المجموع للسبكي 13 / 272، 273.

(5) المغني لابن قدامة 4 / 514.

[2] Bughyatul Mustarsyidin, 159

اختلط مال الزوجين ولم يعلم لأيهما أكثر ولا قرينة تميز أحدهما وحصلت بينهما فرقة إلى أن قال نعم إن جرت العادة المطردة أن أحدهما يكسب أكثر من الآخر كان الصلح والتواهب على نحو ذلك، وإن لم يتفقوا على شيئ من ذلك ممن بشيئ بيده شيئ من المال فالقول قوله بيمينه أنه ملكه فإن كان بيدهما فلكل تحليف الآخر ثم يقسم نصفين.

Iklan

Posted on 10 Agustus 2017, in Fiqh, Rumah Tangga and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s