‘Amr bin Hisyâm, Sang Bapak Kebodohan (Abu Jahal) *)

Sebelum Islam datang, ‘Amr bin Hisyâm (570 – 624 M) adalah orang yang dikenal kebijaksanaan dan kecerdasannya. Dalam usia yang masih muda, para tetua Quraisy sudah sering meminta bantuannya dalam menghadapi masalah, oleh karena itu ia dikenal dengan sebutan Abul Hakam (Bapak Kebijaksanaan).

Hanya saja, semua itu berubah ketika Islam datang, kecerdasan otaknya tidak digunakan untuk membela Islam, bahkan sebaliknya, digunakan untuk memutarbalikkan fakta dalam rangka menentang kebenaran Islam. Kedudukan dan reputasinya yang sudah tinggi menghalangi dia untuk menerima Islam, ajaran yang bakalan memposisikan manusia sederajat, hanya dibedakan oleh ketaqwaannya.

Al Mughirah bin Syu’bah r.a menceritakan: “Sesungguhnya hari pertama aku mengenal Rasulullah saw. ialah ketika aku dan Abu Jahal bin Hisyam tengah berjalan kaki di sebagian gang kota Makkah. Ketika itu kami bertemu dengan Rasulullah saw.. Beliau bersabda kepada Abu Jahal,

يَا أَبَا الْحَكَمِ، هلمَّ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ، أَدْعُوكَ إِلَى اللَّهِ

“Hai Abu Hakam, marilah menuju Allah dan Rasul-Nya. Aku menyeru kamu kepada Allah.”

Abu Jahal berkata,

يَا مُحَمَّدُ، هَلْ أَنْتَ مُنْتَهٍ عَنْ سَبِّ آلِهَتِنَا؟ هَلْ تُرِيدُ إِلَّا أَنْ نَشْهَدَ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ؟ فَنَحْنُ نَشْهَدُ أَنَّ قَدْ بَلَّغْتَ؟ فَوَاللَّهِ لَوْ أَنِّي أَعْلَمُ أَنَّ مَا تَقُولُ حَقٌّ لَاتَّبَعْتُكَ

“Hai Muhammad, apakah kamu mau berhenti mencaci tuhan-tuhan kami? Adakah yang kamu inginkan selain supaya kami bersaksi bahwa kamu telah menyampajkan seruanmu? Maka kami bersaksi bahwa kamu telah menyampaikan (dakwah kepada kami)?. Demi Allah, seandainya aku mengetahui bahwa ucapanmu itu benar, pasti aku akan mengikutimu”

Rasulullah saw. pun pergi, lalu Abu Jahal berkata kepadaku:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أن ما يقول حق، ولكن [يمنعني] شئ.

“Demi Tuhan, sesungguhnya aku mengetahui bahwa yang dikatakannya adalah benar, akan tetapi ada sesuatu yang menghalangiku untuk membenarkan ucapannya.”

Abu Jahal lalu menjelaskan alasannya:

إِنَّ بَنِي قُصَيٍّ قَالُوا: فِينَا الْحِجَابَةُ. فَقُلْنَا نَعَمْ، ثُمَّ قَالُوا فِينَا السِّقَايَةُ، فَقُلْنَا نَعَمْ. ثُمَّ قَالُوا فِينَا النَّدْوَةُ، فَقُلْنَا نَعَمْ. ثُمَّ قَالُوا فِينَا اللِّوَاءُ، فَقُلْنَا نَعَمْ. ثُمَّ أَطْعَمُوا وَأَطْعَمْنَا. حَتَّى إِذَا تَحَاكَّتِ الرُّكَبُ قَالُوا مِنَّا نَبِيٌّ، وَاللَّهِ لَا أَفْعَلُ

Sesungguhnya Bani Qushay (kakek keempat Rasulullah) telah berkata, “al Hijâbah adalah milik (hak) kami.” Maka kami pun berkata, “Ya.” Lalu mereka berkata, “as Siqâyah adalah hak kami.” Kami pun berkata, “Ya.” Lalu mereka berkata, “An Nadwah adalah hak kami” Kami berkata, “Ya.” Lalu mereka berkata, “Panji (al Liwa’) adalah hak kami (kami yang memegang).” Kami berkata, “Ya.” Kemudian mereka memberi makan dan kami juga memberi makan. Kemudian ketika lutut-lutut sudah saling bersentuhan (sama kedudukannya dalam kemuliaan) mereka berkata, “Kenabian ada pada kami. Demi Allah, aku tak mau mengakuinya.” [al Bidâyah wan Nihayah, 3/83. Maktabah Syamilah].

Al hijâbah adalah kekuasaan terkait dengan mengurus Ka’bah termasuk mengganti hijab (kain penutup)nya, as siqâyah terkait dengan mengurus dan memberi minum jama’ah haji, dan an nadwah terkait dengan kepemimpinan dalam musyawarah. Ketika nenek moyang Abu Jahal dulu berada dalam posisi dibawah nenek moyang nabi, lalu pada saat ini (masanya Abu Jahal) posisi mereka sudah hampir setara, maka jika kenabian ada pada Nabi, maka jelas kemuliaan pada Nabi tidak bisa lagi tersaingi, inilah yang menjadikan Abu Jahal bersumpah tidak akan mau mengikuti kebenaran yang sudah jelas baginya.

Kecerdasan, kemuliaan, bahkan gelar sebagai ‘bapak kebijaksanaan’ (Abul Hakam), dan reputasi cemerlang sebelumnya, tidaklah selalu berakibat baik, justru hal-hal tersebut bisa ‘menghalangi’ untuk tunduk kepada kebenaran, terutama jika berhadapan dengan pembawa kebenaran yang levelnya sejajar dengannya apalagi jauh dibawah levelnya.

Begitu juga dengan gelar-gelar sekarang, tidak usah heran, jika dulu sebelum mendapatkan jabatan, seseorang bisa mendukung dakwah, sangat bijak, track recordnya baik, namun setelah mendapatkan posisi dan jabatan tertentu lalu berbalik menyerang dakwah.

Lalu kenapa nabi mengganti gelar ‘bapak kebijaksanaan’ (Abul Hakam) menjadi ‘bapak kebodohan’ (Abu Jahal)?, tidak lain karena penentangannya yang sangat keji terhadap dakwah, dialah yang sering ‘membubarkan’ pengajian yang dilakukan Nabi, memprovokasi orang yang sudah cenderung menerima dakwah nabi hingga orang-orang tersebut berbalik menentang nabi, paling bernafsu dalam memboikot total Nabi, Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.

Abdullah bin Mas’ud menceritakan bahwa ketika Nabi sedang sujud di Baitullah, kaum kafir Quraisy meletakkan kotoran unta di punggung beliau di antara kedua pundaknya, lalu mereka, diantaranya adalah Amr bin Hisyam, tertawa-tawa dan mengolok-olok.

Dalam keadaan sujud, beliau tidak mengangkat kepalanya hingga datang Fatimah. Fatimah lalu membersihkan kotoran itu dari punggung beliau, setelah itu baru Rasulullah mengangkat kepalanya seraya berdo’a, diantara yang beliau ucapkan:

اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِأَبِي جَهْلٍ …

“Ya Allah, aku serahkan (urusan) Abu Jahal kepada-Mu (HR. al Bukhary).

Adakah orang yang digelari ‘bapak kebijaksanaan’ sanggup melakukan hal sekeji itu?. Jika seseorang tidak mau menerima sesuatu karena tidak tahu, mungkin dia hanya disebut ‘bodoh’ saja. Jika dia tidak tahu, lalu tidak mau diberi tahu karena merasa dirinya lebih tahu, lalu menghalangi orang lain agar orang lain juga tidak tahu mungkin dia hanya disebut jahil murokkab (bodoh berlipat-lipat).

Namun seseorang yang sebenarnya dia tahu akan kebenaran, tahu resikonya ketika menolak kebenaran, tetapi dia tetap menolak kebenaran tersebut, menentang, menghalang-halangi, memprovokasi, bahkan memerangi orang yang menyampaikan kebenaran tersebut, maka dia bukan sekedar bodoh, namun sudah menjadi ‘bapak kebodohan’ itu sendiri.

Demikianlah Abu Jahal, penentangannya kepada Nabi akhirnya menghilangkan sikap bijaknya, bahkan menghilangkan kecerdasannya. Syaithan telah menghiasi kejelekannya sehingga dia melihat perbuatannya tersebut sebagai perbuatan terpuji, hingga dirinya merasa sebagai pembela kebenaran, pembela nilai-nilai luhur nenek moyang dan layak mendapatkan ridha Allah SWT!.

Karena itulah, sehari sebelum berhadapan dengan Nabi pada perang Badar, dengan ‘pede’ dia berdo’a kepada Allah:

اللَّهُمَّ أَقْطَعُنَا لِلرَّحِمِ، وَآتَانَا بِمَا لَا نَعْرِفُ، فَأَحِنْهِ الْغَدَاةَ

“Ya Allah, orang yang paling memutuskan tali silaturahim di antara kami, dan orang yang membawa (gagasan/ide) yang tidak kami kenal, maka binasakanlah dia esok hari”

Ia juga berdo’a:

اللهم انصر أحب الدينين إليك، دينَنا العتيق، أم دينهم الحديث

“Ya Allah, tolonglah agama yang paling engkau sukai dari dua agama ini, agama kami yang sudah lebih dahulu, atau agama mereka yang baru” [Imam at Thabari (w. 310 H), Jâmi’ul Bayân fi Ta’wîlil Qur’ân, juz 13 hal 454. Maktabah Syamilah].

Lihatlah, dalam berdo’a pun Abu Jahal melakukan ‘framing’ bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang suka bermusuhan (memutus silaturahim), dan menyalahi nenek moyang (dengan membawa ajaran baru), difikirnya Allah bisa dihasutnya sehingga membelanya, dia lupa bahwa yang dibawa Nabi, ajaran Islam, adalah kebenaran sebagaimana yang dia ketahui dan yakini dulu, saat awal-awal didakwahi Nabi.

Tidak perlu heran jika ada orang menentang dakwah, namun orang tersebut merasa sebagai pembela kebenaran, begitu juga kita tidak perlu merasa diri hebat dan bijak, karena Abu Jahal justru tertipu dengan diri, gelar dan kemuliaannya sendiri. Allâhu A’lam. [MTaufikNT]

*) Catatan: Jangan menggelari seseorang dengan gelar Abu Jahal, apalagi kalau dzohirnya dia masih muslim, siapa tahu dia bertaubat dan mati dalam husnul khotimah.

Baca Juga:

Iklan

Posted on 28 Juli 2017, in Akhlaq, Dakwah, Kisah & Motivasi, Tarikh and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s