Riya (Pamer)

Melakukan perbuatan-perbuatan hanya semata karena riya, ingin dilihat orang, tidak terkesan pada jiwa dan tidak meresapi rahasia dan hikmahnya adalah salah satu sifat pendusta agama. Allah berfirman:

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

Orang-orang yang berbuat ria. (Al-Ma’un: 6)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Saw. yang telah bersabda:

إِنَّ فِي جَهَنَّمَ لَوَادِيًا تَسْتَعِيذُ جَهَنَّمُ مِنْ ذَلِكَ الْوَادِي فِي كُلِّ يَوْمٍ أَرْبَعَ مِائَةِ مَرَّةٍ، أُعِدَّ ذَلِكَ الْوَادِيَ لِلْمُرَائِينَ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ: لِحَامِلِ كِتَابِ اللَّهِ. وَلِلْمُصَّدِّقِ فِي غَيْرِ ذَاتِ اللَّهِ، وَلِلْحَاجِّ إِلَى بَيْتِ اللَّهِ، وَلِلْخَارِجِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Sesungguhnya di dalam neraka Jahanam benar-benar terdapat sebuah lembah yang neraka Jahanam sendiri meminta perlindungan kepada Allah dari (keganasan) lembah itu setiap harinya sebanyak empat ratus kali. Lembah itu disediakan bagi orang-orang yang riya (pamer)dari kalangan umat Muhammad yang hafal Kitabullah dan suka bersedekah, tetapi bukan karena Zat Allah, dan juga bagi orang yang berhaji ke Baitullah dan orang yang keluar untuk berjihad(tetapi bukan karena Allah Swt.). (HR. at Thabarany)[1]

Imam Ibnu Katsir berkata:

أَنَّ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لِلَّهِ، فَاطَّلَعَ عَلَيْهِ النَّاسُ، فَأَعْجَبَهُ ذَلِكَ، أَنَّ هَذَا لَا يُعَدُّ رِيَاءً

Orang yang melakukan suatu perbuatan karena Allah, lalu orang lain melihatnya, dan membuatnya merasa takjub dengan perbuatannya, maka sesungguhnya hal ini bukan termasuk perbuatan riya.

Hal ini didasarkan pada riwayat dari Abu Hurairah bahwa dia berkata:

كُنْتُ أَصَلِّي، فَدَخَلَ عَلَيَّ رَجُلٌ، فَأَعْجَبَنِي ذَلِكَ، فَذَكَرْتُهُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: “كُتِبَ لَكَ أَجْرَانِ: أَجْرُ السِّرِّ، وَأَجْرُ الْعَلَانِيَةِ”

Ketika aku sedang salat, tiba-tiba masuklah seorang lelaki menemuiku, maka aku merasa kagum dengan perbuatanku. Lalu aku ceritakan hal tersebut kepada Rasulullah Saw., maka beliau Saw. bersabda: Dicatatkan bagimu dua pahala, pahala sembunyi-sembunyi dan pahala terang-terangan. (HR. Abu Ya’la al Maushuli dalam Musnadnya, juga at Thabarany dalam Mu’jamul Awsath)[2]

Imam al Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan hakikat riya:

وَحَقِيقَةُ الرِّيَاءِ طَلَبُ مَا فِي الدُّنْيَا بِالْعِبَادَةِ، وَأَصْلُهُ طَلَبُ الْمَنْزِلَةِ فِي قُلُوبِ النَّاسِ.

“Hakikat riya’ adalah mencari dunia dengan (berbagai amal) ibadah, asal (pokok)nya adalah mencari kedudukan di hati manusia.” (Tafsir al Qurthubi, 20/212).

Riya bisa berwujud dengan menunjukkan baiknya tujuan dia, “saya ini bermaksud baik, berjuang untuk agama” dengan tujuan semata-mata agar manusia memandang dia baik. Bisa juga riya’ dengan pakaian, semata ingin dilihat orang lain bahwa dia zuhud, bisa juga riya dengan ucapan, semisal menunjukkan marah kepada orang-orang yang terjerat dunia, atau menunjukkan penyesalan karena luput dari berbuat kebaikan, bisa juga dengan menampakkan shalat dan shadaqah, intinya semua hal baik yang dimaksudkan semata-mata karena manusia atau kedudukan di hati manusia itu terkategori riya.

Hanya saja, yang perlu digarisbawahi, tidak boleh menyembunyikan, apalagi meninggalkan berbagai kewajiban dengan alasan takut riya, sebagaimana sabda Nabi saw:

وَلَا غُمَّةَ[3] فِي فَرَائِضِ اللَّهِ

“Tidak ada tutupan (menyembunyikan) amal dalam perkara yang diwajibkan Allah” [4].

Adapun perkara sunnah, maka afdhol untuk disembunyikan (dari pandangan manusia), namun jika ditampakkan dalam rangka memberi contoh kepada manusia maka hal itu juga bagus, lalu kalau ditampakkan, apa bedanya dengan riya? bedanya ada didalam hati pelakunya, yang satu karena Allah dan karena ingin memberi teladan kepada manusia, yang satunya lagi karena ingin dapat kedudukan dan pencitraan dihati manusia. Allaahu A’lam.[MTaufikNT]

Rujukan: Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al Qurthubi dan Tafsir Depag RI


Baca Juga:

[1] المعجم الكبير (12/175) ، وقال المنذري في الترغيب والترهيب (1/ 67) : “رفع حديث ابن عباس غريب، ولعله موقوف، والله أعلم”.

[2] ورواه الطبراني في المعجم الأوسط برقم (4949) “مجمع البحرين”، وقال الطبراني: “لم يروه عن سعيد إلا محمد بن معاذ، ومحمد بن بكار”. وقال الهيثمي في المجمع (10/290) : “رجاله ثقات”

[3] أي لا تستر ولا تخفى فرائضه، وإنما تظهر وتعلن ويجهر بها

[4] وَقَالَ أَبُو سُلَيْمَانَ فِي حَدِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَنَّهُ كَتَبَ لِوَائِلِ بْنِ حُجْرٍ : ” مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ إِلَى الأَقْيَالِ الْعَبَاهِلَةِ ، وَالأَرْوَاعِ الْمَشَابِيبِ مِنْ أَهْلِ حَضْرَمَوْتٍ بِإِقَامِ الصَّلاةِ الْمَفْرُوضَةِ ، وَأَدَاءِ الزَّكَاةِ الْمَعْلُومَةِ عِنْدَ مَحِلِّهَا ، فِي التِّيعَةِ شَاةٌ ، لا مُقَوَّرَةُ الأَلْيَاطِ وَلا ضِنَاكٌ ، وَأنْطُوا الثَّبَجَةَ ، وَفِي السُّيُوبِ الْخُمْسُ ، وَمَنْ زَنَى مِم بِكْرٍ فَاصْقَعُوهُ مِائَةً وَاسْتَوْفِضُوهُ عَامًا ، وَمَنْ زَنَى مِم ثَيِّبٍ فَضَرِّجُوهُ بِالأَضَامِيمِ ، وَلا تَوْصِيمَ فِي الدِّينِ وَلا غُمَّةَ فِي فَرَائِضِ اللَّهِ ، وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ ، وَوَائِلُ بْنُ حُجْرٍ يَتَرَفَّلُ عَلَى الأَقْيَالِ ، أَمِيرٌ أَمَّرَهُ رَسُولُ اللَّهِ فَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا ” . حَدَّثَنِيهِ مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ , قَالَ : أَخْرَجَ إِلَيْنَا أَبُو إِسْحَاقَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ دَاوُدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ بْنِ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ صَاحِبُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كتابًا فِي أَدَمٍ ، ذَكَرَ أَنَّهُ كِتَابٌ كَتَبَهُ رَسُولُ اللَّهِ لِجَدِّهِ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ إِمْلاءً عَلَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ , وَقَالَ : قَلَّدَنِي أَبِي هَذَا الْكِتَابَ عِنْدَ مَوْتِهِ ، وَقَالَ : يَا بُنَيَّ ، تَوَاصَيْنَا بِهَذَا الْكِتَابِ كُبْرًا عَنْ كُبْرٍ حَتَّى صَارَ إِلَيَّ ” . (غريب الحديث للخطابي )

Iklan

Posted on 14 Juli 2017, in Akhlaq, Tafsir and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. ustadz, jika beramal di depan manusia, dg 2 sebab:
    1. krn menjalankan perintah Allah,
    2. krn dia pengemban dakwah, agar ujung2nya dakwahnya diterima manusia.

    apakah termasuk riya? syukran.

    Suka

    • Kalau memang dalam hatinya seperti itu maka tidak mengapa, yakni agar dakwahnya diterima, hanya kadang samar, antara “agar dakwah diterima” dengan “agar diri kita diterima”, moga Allah murnikan ketaatan kita. Aamiin

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s