Hizbut Tahrir Mengingkari Adzab Kubur?

Ini adalah tuduhan keliru, hasil kesimpulan mentah pihak penuduh, lalu kesimpulan keliru itu disematkan kepada Hizbut Tahrir.

Yang benar, Hizbut Tahrir mewajibkan pembenaran (tashdîq) atau percaya (îmân) terhadap keberadaan adzab kubur, tanpa mengadopsi pendapat apakah yang mengingkarinya dihukumi kafir ataukah dihukumi berdosa saja, sebagaimana para ‘ulama juga berbeda pendapat tentang itu.

Tuduhan ini mungkin  bermula dari konsep dalil yang diadopsi Hizbut Tahrir dalam perkara akidah, yakni:

1. Dalil akidah haruslah dalil yang bersifat pasti.

2. Dalil yang memenuhi hal tersebut (no 1) adalah al-Qur`an dan hadits mutawatir, dengan syarat masing-masing dari keduanya memiliki penunjukan arti yang pasti (qath’îy dalâlah).

3. Orang yang mengingkari dalil no 2, atau mengingkari apa yang ditunjukkannya dihukumi kafir, baik itu terkait akidah maupun hukum syara’.

(selengkapnya baca: Inti Pandangan Hizbut Tahrir Terkait Khabar Ahad dalam Masalah Aqidah)

Mungkin penuduh hanya memahami sampai batas ini, lalu membangun logika sendiri: “kalau khabar ahad bukan dalil dalam akidah menurut HT, sementara siksa kubur dalilnya hadits ahad, berarti HT menolak membenarkan adanya siksa kubur!”.

Padahal kalau mau membaca lanjutannya:

Sedangkan untuk dalil yang tidak memenuhi kriteria sebagai dasar akidah, yakni khabar ahad, maka Hizbut Tahrir mensikapinya:

a. Jika shahih maka ia berfaidah dugaan kuat, sehingga perkara akidah yang dikandungnya dibenarkan dengan pembenaran yang bersifat zhanni, bukan pembenaran yang bersifat jâzim (pasti).

b. Tidak boleh (point a) didustakan.

c. Orang yang mengingkarinya tidak dihukumi kafir.

Bagaimana dengan Siksa Kubur?

Hizbut Tahrir tidak mengadopsi tentang adzab kubur dari sisi rinciannya: apakah derajat pembenaran di situ mencapai derajat pasti (tashdîqan jâziman) yang pengingkarnya dihukumi kafir; ataukah sebatas dugaan atau dugaan kuat (tashdîqan zhanniyyan) yang pengingkarnya tidak sampai kafir, melainkan dosa atau fasik. Dengan kata lain, HT tidak mengadopsi apakah hadits-hadits siksa kubur itu sendiri mencapai derajat mutawâtir ma’nan (lâ lafzhan) sehingga meniscayakan ‘ilm (kepastian, keyakinan); ataukan masih dalam batasan ahad sehingga meniscayakan zhann (dugaan) atau ghalabat zhann (dugaan kuat).

Di sinilah Hizbut Tahrir memberi kelonggaran kepada syabab-nya untuk memilih mana di antara keduanya yang dipandang lebih tepat, mengingat juga adanya perbedaan pendapat yang muktabar tentangnya.

Ada sebagian ulama yang menilainya sudah mencapai mutawâtir ma’nan lâ lafzhan, dan ada juga yang menilainya masih dalam batasan ahad. Diantara yang menilai hadits-hadits tentang adzab kubur masih terkategori hadits ahad adalah Prof. Dr. Syaikh Muhammad Hasan Hitou (lihat Prof. Hasan Hitou, Akidah dan Hadits Ahad), juga pandangan Imam al-Sarakhsi al-Hanafi (w. 483 H), dalam kitab usulnya[1] dan juga al-Imam al-Hafizh Zainuddin Abdur Rahim al-‘Iraqi (w. 806 H)[2].

Beliau menyebut hadits siksa kubur masih dalam batasan masyhur meski sudah di ambang batas kemutawatiran. Dan masyhur dalam istilah jumhur masih terkategori ahad dengan faidah ghalabat zhann (dugaan kuat/sangat kuat). Belum mencapai derajat ‘ilm (keyakinan pasti) betapapun sangat kecil dan nyaris hilang sudah kemungkinan salahnya.

Sebagai indikasi bahwa sebagian ulama tidak sampai menganggapnya mutawatir adalah masih dianggapnya pengingkarnya sebagai bagian dari umat Islam, belum sampai dianggap kafir. Misalnya apa yang dikatakan oleh al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (w. 324 H) ini:

قَوْلُهُمْ فِي عَذَابِ الْقَبْرِ. وَاخْتَلَفُوْا فِي عَذَابِ الْقَبْرِ : فَمِنْهُمْ مَنْ نَفَاهُ وَهُمُ الْمُعْتَزِلَةُ وَالخَوَارِجُ، وَمِنْهُمْ مَنْ أَثْبَتَهُ وَهُمْ أَكْثَرُ أَهْلِ الْإِسْلَامِ، …

Pendapat Mereka (umat Islam) tentang Siksa Kubur. Mereka telah berbeda pendapat dalam perkara siksa kubur. Di antara mereka ada yang menegasikannya, mereka adalah kaum Muktazilah dan Khawarij. Di antara mereka ada yang membenarkan keberadaannya, mereka adalah mayoritas umat Islam. [3]

Perihal tidak sampai kafirnya Muktazilah dan Khawarij di antaranya juga dinyatakan oleh al-Imam Abu Manshur Abdul Qahir al-Baghdadi (w. 429 H) dalam kitabnya al-Farq bayn al-Firaq, saat menjelaskan kategorisasi umat Islam.[4]

Jadi dengan Hizbut Tahrir mewajibkan pembenaran (tashdîq) atau percaya (îmân) terhadap keberadaan adzab kubur, tanpa mengadopsi pendapat apakah yang mengingkarinya dihukumi kafir ataukah berdosa saja, sebagaimana para ‘ulama juga berbeda pendapat tentang itu. Allahu A’lam. [diadaptasi dari tulisan panjang Ustadz Azizi Fathoni]


Baca Juga:

 

 

[1] ثُمَّ قَدْ يَثْبُتُ بِالْآحَادِ مِنَ الْأَخْبَارِ مَا يَكُوْنُ الْحُكْمُ فِيْهِ الْعِلْمَ فَقَطْ، نَحْوُ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَسُؤَالِ مُنْكَرٍ وَنَكِيْرٍ، وَرُؤْيَةِ اللهِ تَعَالَى بِالْأَبْصَارِ فِي الْآخِرَةِ، فَبِهَذَا وَنَحْوِهِ يَتَبَيَّنُ أَنَّ خَبَرَ الْوَاحِدِ مُوْجِبٌ لِلْعِلْمِ. وَلَكِنَّا نَقُوْلُ : هَذَا الْقَائِلُ كَأَنَّهُ خُفِيَ عَلَيْهِ الْفَرْقُ بَيْنَ سُكُوْنِ النَّفْسِ وَطُمَأْنِيْنَةِ الْقَلْبِ وَبَيْنَ عِلْمِ الْيَقِيْنِ. فَإِنَّ بَقَاءَ احْتِمَالِ الْكَذِبِ فِي خَبَرِ غَيْرِ الْمَعْصُوْمِ مُعَايِنٌ لَا يُمْكِنُ إِنْكَارُهُ، وَمَعَ الشُّبْهَةِ وَالْاِحْتِمَالِ لَا يَثْبُتُ الْيَقِيْنُ، وَإِنَّمَا يَثْبُتُ سُكُوْنُ النَّفْسِ وَطُمَأْنِيْنَةُ الْقَلْبِ بِتَرَجُّحِ جَانِبِ الصِّدْقِ بِبَعْضِ الْأَسْبَابِ. وَقَدْ بَيَّنَّا فِيْمَا سَبَقَ أَنَّ عِلْمَ الْيَقِيْنِ لَا يَثْبُتُ بِالْمَشْهُوْرِ مِنَ الْأَخْبَارِ بِهَذَا الْمَعْنَى فَكَيْفَ يَثْبُتُ بِخَبَرِ الْوَاحِدِ؟

Lalu ada kalanya terdapat perkara-perkara tertentu yang ditetapkan berdasarkan hadits-hadits ahad yang hukum di dalamnya hanya keyakinan saja. Seperti siksa kubur, pertanyaan Munkar-Nakir, melihat Allah dengan mata telanjang di akhirat. Maka berdasarkan ini dan yang semacamnya menjadi jelas bahwa hadits ahad meniscayakan keyakinan. Akan tetapi kami (al-Imam al-Sarakhsi) katakan: Orang yang berkata demikian itu seolah-olah belum jelas baginya perbedaan antara ketenangan jiwa, ketentraman hati, dan antara keyakinan pasti. Bahwa adanya kemungkinan salah pada hadits yang diriwayatkan perawi yang tidak ma’shum adalah perkara yang terindera yang tidak mungkin diingkari. Dan dengan adanya syubhat serta kemungkinan salah tersebut maka keyakinan tidak dapat terealisasi. Yang ada hanyalah ketenangan jiwa dan ketentraman hati, berdasarkan lebih menonjolnya aspek benarnya dikarenakan sejumlah sebab. Kami telah menjelaskan pada kesempatan yang lalu bahwa keyakinan pasti tidak dapat terealisasi dengan hadits masyhur karena alasan ini, lantas bagaimana bisa itu terealisasi dengan hadits ahad? (Ahmad bin Abu Sahal al-Sarkhasi. 1993. Ushûl al-Sarakhsî. (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah). vol. 1 hlm. 329)

[2] Al-Imam al-‘Iraqi (w. 806 H),

(الْعَاشِرَةُ) فِيْهِ إثْبَاتُ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَهُوَ مَذْهَبُ أَهْلِ الْحَقِّ خِلَافًا لِلْمُعْتَزِلَةِ، وَقَدْ اشْتَهَرَتْ بِهِ الْأَحَادِيثُ حَتَّى كَادَتْ أَنْ تَبْلُغَ حَدَّ التَّوَاتُرِ، وَالْإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ.

Ke-Sepuluh: di dalamnya (hadits yang sedang disyarah, -penj.) terdapat penetapan adanya siksa kubur, dan ini merupakan madzhab ahlul haq, berbeda dengan Muktazilah. Sungguh telah masyhur hadits-hadits tentangnya hingga hampir mencapai batas ke-mutawatir-an. Dan mempercayainya adalah wajib (Zainuddin Abdur Rahim al-‘Iraqi. t.t. Tharh al-Tatsrîb fî Syarh al-Taqrîb. (Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi). vol. 3 hlm. 111)

[3] Abu al-Hasan al-Asy’ari. 2005. Maqâlât al-Islâmiyyîn. (Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah). vol. 2 hlm. 318

[4] Ahmad bin Abu Sahal al-Sarahasi. 1993. Farq bayn al-Firaq. Cet. 2. (Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah). hlm. 11

Iklan

Posted on 9 Juli 2017, in Aqidah and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s