Inti Pandangan Hizbut Tahrir Terkait Khabar Ahad dalam Masalah Aqidah

Secara ringkas, dalam masalah aqidah, Hizbut Tahrir memberikan ketentuan-ketentuan mendasar berkenaan dengan karakter akidah, kriteria dalil yang mendasarinya, sikap terhadap hadits ahad, dan konsekwensi bagi orang yang mengingkarinya, ringkasnya sebagai berikut:

1. Dalil akidah haruslah dalil yang bersifat pasti.

2. Dalil yang memenuhi hal tersebut (no 1) adalah al-Qur`an dan hadits mutawatir, dengan syarat masing-masing dari keduanya memiliki penunjukan arti yang pasti (qath’îy dalâlah).

3. Orang yang mengingkari dalil no 2, atau mengingkari apa yang ditunjukkannya dihukumi kafir, baik itu terkait akidah maupun hukum syara’.

Sedangkan untuk dalil yang tidak memenuhi kriteria sebagai dasar akidah, yakni khabar ahad, maka Hizbut Tahrir mensikapinya:

a. Jika shahih maka ia berfaidah dugaan kuat, sehingga perkara akidah yang dikandungnya dibenarkan dengan pembenaran yang bersifat zhanni, bukan pembenaran yang bersifat jâzim (pasti).

b. Tidak boleh (point a) didustakan.

c. Orang yang mengingkarinya tidak dihukumi kafir.

****

Point 1 s/d 3 termaktub dalam kitab yang diadopsinya, al-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah.  hlm. 192: *)

وَعَلَى هَذَا فَلَابُدَّ أَنْ يَكُوْنَ دَلِيْلُ الْعَقِيْدَةِ يَقِيْنِيًّا أَيْ دَلِيْلاً قَطْعِيًّا، لِأَنَّ الْعَقِيْدَةَ قَطْعٌ وَجَزْمٌ وَيَقِيْنٌ، وَلَا يُفِيْدُ الْقَطْعَ وَالْجَزْمَ وَالْيَقِيْنَ إِلَّا الدَّلِيْلُ الْقَطْعِيُّ. وَلِهَذَا لَابُدَّ أَنْ يَكُوْنَ قُرْآنًا أَوْ حَدِيْثًا مُتَوَاتِرًا عَلَى أَنْ يَكُوْنَ كُلٌّ مِنْهُمَا قَطْعِيَّ الدَّلَالَةِ. وَيَجِبُ أَخْذُهُ فِي الْعَقَائِدِ وَفِي الْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ، وَيُكَفَّرُ مُنْكِرُهُ وَمُنْكِرُ مَا دَلَّ عَلَيْهِ، سَوَاءٌ أَكَانَ عَقِيْدَةً أَمْ حُكْمًا شَرْعِيًّا.

Point a s/d c (tentang khabar ahad) termuat pada al-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, hlm. 192 pada paragraph berikutnya: **)

أَمَّا إِذَا كَانَ الدَّلِيْلُ خَبَرَ آحَادٍ فَإِنَّهُ لَا يَكُوْنُ قَطْعِيًّا، فَإِنْ كَانَ صَحِيْحاً فَإِنَّهُ يُفِيْدُ غَلَبَةَ الظَّنِّ، فَتُصَدَّقُ الْعَقَائِدُ الَّتِي جَاءَ بِهَا تَصْدِيْقاً ظَنِّيًّا، لَا تَصْدِيْقًا جَازِمًا. وَلِهَذَا لَا يَجُوْزُ أَنْ تُعْتَقَدَ، وَلَا أَنْ يُجْزَمَ بِهَا. لِأَنَّ الْعَقِيْدَةَ قَطْعٌ وَجَزْمٌ، وَخَبَرُ الْآحَادِ لَا يُفِيْدُ قَطْعًا وَلَا جَزْمًا، وَإِنَّمَا يُفِيْدُ ظَنًّا، وَلَا يُكَفَّرُ مُنْكِرُهُ، وَلَكِنْ لَا يَجُوْزُ أَنْ يُكَذَّبَ، لِأَنَّهُ لَوْ جَازَ تَكْذِيْبُهُ لَجَازَ تَكْذِيْبُ جَمِيْعِ الْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْمَأْخُوْذَةِ مِنَ الْأَدِلَّةِ الظَّنِّيَّةِ، وَلَمْ يَقُلْ بِذَلِكَ أَحَدٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ.

Pandangan yang diadopsi  Hizbut Tahrir ini sama seperti pandangan mayoritas ‘ulama, (baca: Fatâwa Al Azhar Tentang Khabar Ahad juga Prof. Hasan Hitou, Akidah dan Hadits Ahad). Allahu A’lam. [MTaufikNT]

Baca Juga:

*) terjemahnya: “dan karena  inilah, dalil dalam perkara akidah harus bersandarkan pada dalil yang yakin, yaitu dalil yang qath’i. Karena akidah itu adalah pasti, tegas dan yakin. Kepastian, ketegasan dan keyakinan itu tidak akan ada kecuali didasari dengan dalil yang qath’i. Oleh karena itu (dalil aqidah) adalah al-Quran atau hadits mutawatir, dengan (syarat) keduanya qath’i dilalah (pasti penunjukan maknanya),  wajib diambil dalam perkara akidah maupun hukum-hukum syara’, dan dikafirkan orang yang mengingkarinya  dan mengingkari apa yang ditunjukkan oleh keduanya, baik itu perkara akidah maupun hukum syara’.

**) terjemahnya: “Jika suatu dalil tergolong khabar ahad maka dalil tersebut bukan dalil yang qath’i, jika dia  shahih maka berfaedah  ghalabatu adz-dzan (dugaan kuat) saja, maka dibenarkan perkara akidah yang ditunjukkan olehnya  dengan pembenaran yang bersifat dzanni, bukan pembenaran  pasti. Oleh karena itu tidak boleh diyakini dan dipastikan, karena akidah itu bersifat pasti dan jazm. Sedangkan khabar ahad tidak menunjukkan kepastian atau keyakinan, khabar ahad hanya menunjukkan dzan, maka tidak dikafirkan orang yang mengingkarinya tidak dianggap kafir, namun tidak boleh pula khabar tersebut didustakan, karena jika khabar ahad boleh didustakan maka boleh pula didustakan seluruh hukum-hukum syara’ yang diambil dari dalil-dalil yang bersifat dzanni, dan tidak ada satu kaum Muslim pun yang berkata demikian.”

Iklan

Posted on 8 Juli 2017, in Aqidah and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s