Puasa 6 Hari di Bulan Syawwal

Hukumnya

Menurut jumhur (mayoritas) ahli fiqh kalangan Malikiyah, Syafi’iyyah, Hanabilah dan ulama’ muta-akhhirin kalangan Hanafiyyah, puasa enam hari di bulan syawwal (selain tanggal 1) hukumnya adalah sunnah. Dalilnya adalah sabda Nabi saw:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian dia ikuti (dengan berpuasa) enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)

Akan tetapi imam Abu Hanifah memandang puasa enam hari di bulan syawwal hukumnya makruh, baik melakukannya berturutan ataupun tidak, sementara murid beliau, imam Abu Yusuf memandang makruh jika berturutan, sementara jika tidak berturutan tidak makruh. Alasan mereka memakruhkan adalah tidak aman dari dianggapnya puasa 6 hari tersebut merupakan bagian dari puasa Ramadhan, juga karena menyerupai puasa Nashrany.[1]

Imam Malik juga berpendapat bahwa puasa 6 hari bulan Syawal adalah makruh, dengan alasan dikhawatirkan orang-orang jahil menganggap puasa tersebut wajib sebagaimana puasa Ramadhan, namun bagi orang yang puasa untuk dirinya sendiri tidaklah makruh.[2]

Namun alasan kemakruhan tersebut dibantah oleh Imam an Nawawi, ‘ulama besar Madzhab Syafi’i, dalam al Majmu’ (6/379), setelah beliau menegaskan bahwa dalil riwayat Imam Muslim tersebut cukup kuat dan tidak ada kontradiksi dengan dalil lain, beliau menyatakan bahwa argumentasi kemakruhan puasa Syawal itu karena dikhawatirkan akan dianggap sebagai sesuatu yang wajib adalah argumen yang lemah. Karena tidak samar lagi, semua orang mengetahui puasa Syawal adalah puasa sunnah.[3]

Waktu Pelaksanaannya

Menurut Syafi’iyyah, afdholnya puasa syawwal ini dilaksanakan berturut-turut setelah ‘Ied, alasannya karena bersegera dalam melaksanakan ibadah itu lebih utama, namun jika dilaksanakan terpisah-pisah atau di akhirkan di bulan syawwal juga boleh (Al Majmu’ 6/379).[4]

Qodho’ Dulu atau Puasa Sunnah Dulu?

Hendaknya yang wajib didahulukan daripada yang sunnah, qodho’ puasa Ramadhan lebih dahulu daripada puasa sunnah. Bahkan jika seseorang puasa qodho’ atau nadzar atau puasa yang lain di bulan syawwal, maka dia telah mendapati kesunnahan puasa syawwal, namun dari sisi pahala yang disebutkan dalam hadist tersebut (yakni seperti puasa setahun) tidak akan diperoleh khususnya jika dia mengqodho’ ketinggalan puasa di bulan Ramadhan (Al Mu’tamad, 2/209).

Maka jika seseorang puasa senin kamis di bulan syawwal, dia akan dapat dua keutamaan; keutamaan puasa senin kamis, dan kutamaan puasa syawwal.

Bahkan Imam Syamsuddin ar Ramli menegaskan diperolehnya keutamaan puasa Syawwal ketika seseorang mengqodho puasa Ramadhan di bulan Syawwal, walaupun tidak dia gabung dengan niat puasa sunnah syawwal.[5]. Allaahu A’lam. [MTaufikNT]

Baca Juga:


[1] لأَِنَّ الْكَرَاهَةَ إِنَّمَا كَانَتْ لأَِنَّهُ لاَ يُؤْمَنُ مِنْ أَنْ يُعَدَّ ذَلِكَ مِنْ رَمَضَانَ، فَيَكُونَ تَشَبُّهًا بِالنَّصَارَى

[2] كَرِهَ مَالِكٌ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى – ذَلِكَ مَخَافَةَ أَنْ يَلْحَقَ بِرَمَضَانَ مَا لَيْسَ مِنْهُ مِنْ أَهْل الْجَهَالَةِ وَالْجَفَاءِ، وَأَمَّا الرَّجُل فِي خَاصَّةِ نَفْسِهِ فَلاَ يُكْرَهُ لَهُ صِيَامُهَا.

[3] Imam an Nawawi berkata dalam al Majmu’ 6/379. Maktabah Syamilah:

وَدَلِيلُنَا الْحَدِيثُ الصَّحِيحُ السَّابِقُ وَلَا مُعَارِضَ لَهُ (وَأَمَّا) قَوْلُ مَالِكٍ لَمْ أَرَ أَحَدًا يَصُومُهَا فَلَيْسَ بِحُجَّةٍ فِي الْكَرَاهَةِ لِأَنَّ السُّنَّةَ ثَبَتَتْ فِي ذَلِكَ بِلَا مُعَارِضٍ فَكَوْنُهُ لَمْ يَرَ لَا يَضُرُّ وَقَوْلُهُمْ لِأَنَّهُ قَدْ يَخْفَى ذَلِكَ فَيُعْتَقَدُ وُجُوبُهُ ضَعِيفٌ لِأَنَّهُ لَا يَخْفَى ذَلِكَ عَلَى أَحَدٍ وَيَلْزَمُ عَلَى قَوْلِهِ إنَّهُ يُكْرَهُ صَوْمُ عَرَفَةَ وَعَاشُورَاءَ وَسَائِرِ الصَّوْمِ الْمَنْدُوبِ إلَيْهِ وَهَذَا لا يقوله أحد

[4] Al Majmu’ 6/379. Maktabah Syamilah:

(أَمَّا) حُكْمُ الْمَسْأَلَةِ فَقَالَ أَصْحَابُنَا يُسْتَحَبُّ صَوْمُ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ لِهَذَا الْحَدِيثِ قَالُوا وَيُسْتَحَبُّ ان يصومها متتايعة فِي أَوَّلِ شَوَّالٍ فَإِنْ فَرَّقَهَا أَوْ أَخَّرَهَا عن أول شَوَّالٍ جَازَ وَكَانَ فَاعِلًا لِأَصْلِ هَذِهِ السُّنَّةِ لِعُمُومِ الْحَدِيثِ وَإِطْلَاقِهِ وَهَذَا لَا خِلَافَ فِيهِ عِنْدَنَا وَبِهِ قَالَ أَحْمَدُ وداود

[5] Bughyatul Musytarsyidin:

بل رجح (م ر) حصول أصل ثواب سائر التطوعات مع الفرض وإن لم ينوها، ما لم يصرفه عنها صارف، كأن قضى رمضان في شوّال، وقصد قضاء الست من ذي القعدة، ويسنّ صوم الست وإن أفطر رمضان

“bahkan (Imam Romli) mengunggulkan pendapat didapatnya pahala ibadah-ibadah sunah lainnya yang dilakukan bersamaan ibadah fardhu meskipun tidak ia niati, selama tidak terbelokkan arah ibadahnya seperti ia puasa qadha ramadhan dibulan syawal dan ia niati puasa qadha 6 hari dibulan dzil hijjah (maka tidak ia dapati kesunahan puasa syawalnya.

Namun Abu Makhromah menyatakan tidak dapatnya pahala keduanya bila ia niati keduanya bersamaan seperti saat ia niat shalat dhuhur dan shalat sunah dhuhur bahkan Abu Makhromah menyatakan tidak sahnya puasa 6 hari bulan syawal bagi yang memiliki tanggungan Qadha puasa ramadhan secara muthlak.

Iklan

Posted on 29 Juni 2017, in Fiqh, Ibadah and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s