Wanita Haidl Memegang dan atau Membaca al Qur’an

Berbeda hukumnya bagi wanita haidl antara membaca al Qur’an dengan menyentuh al Qur’an.

Wanita Haidl Membaca Al Qur’an

Menurut mayoritas ahli fikih: Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah, wanita haidl termasuk nifas dan orang junub diharamkan membaca al Qur’an. Alasannya Sabda Nabi SAW:

لَا تَقْرَأِ الحَائِضُ، وَلَا الجُنُبُ شَيْئًا مِنَ القُرْآنِ

“Tidak boleh orang yang sedang haidl atau junub membaca sesuatu dari al-Quran” (HR. at-Tirmidzi).

Yang dimaksud dengan “membaca” adalah mengucapkan ayat-ayat al-Quran melalui mulut, baik dengan melihat mushhaf ataupun lewat hafalan. Adapun membacanya dalam hati tidak terkategori “membaca”.

Hanya saja mereka berbeda pendapat tentang seberapa banyak ayat yang dibaca hingga hukumnya haram.

Hanafiyyah mengharamkannya walau membaca kurang dari satu ayat asal yang dibaca tersebut membentuk tarkib (susunan) kalimat, kecuali membaca dengan maksud berdo’a, hanya saja kalau redaksi ayatnya tidak mengandung do’a tetap saja haram dibaca meski berniat berdo’a. Adapun bagi yang mengajar baca al Qur’an boleh membaca satu kata demi satu kata secara terputus, karena membaca satu kata saja tidak termasuk “membaca” al Qur’an.

Syafi’iyyah menganggap haram wanita haidl membaca al Qur’an walaupun hanya sebagian ayat, apapun maksud dia membacanya, baik maksudnya tilawah ataupun berdo’a. Namun boleh membaca dalam hati maupun menggerakkan lidah asalkan tidak keluar suara yang bisa didengar dirinya sendiri (dengan catatan telinganya normal, dalam suasana yang hening).

Sementara dalam pandangan Hanabilah, yang haram bagi wanita haidl itu jika membaca satu ayat atau lebih. Adapun Ibnu Taymiyyah membolehkan wanita haid membaca al Qur’an jika dia takut lupa akan hafalannya.

Berbeda dengan mayoritas ahli fiqh, kalangan Malikiyyah membolehkan bagi orang haidl untuk membaca al Qur’an secara mutlaq, baik berniat berdoa atau tidak, berniat mengajar atau tidak, khawatir lupa atau tidak, baik sebelum haid itu dia junub atau tidak. Hanya saja itu ketika darah haidl masih mengalir (belum bersih), adapun kalau sudah bersih, dia haram membaca al Qur’an sebelum mandi junub dulu.

Wanita Haidl Menyentuh/Membawa al Qur’an

Adapun terkait menyentuh mush-haf al Qur’an, secara umum para fuqoha sepakat (ittifaq) bahwa orang haidl haram menyentuhnya. Dengan alasan firman Allah Ta’ala:

لاَ يَمَسُّهُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُونَ

tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. (QS. Al Waqi’ah : 79)

dan juga riwayat bahwa Rasulullah menulis kepada penduduk Yaman

لاَ يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلاَّ طَاهِرٌ[1]

Tidak menyentuh al Qur’an kecuali orang-orang yang suci (HR. ad Daruquthni).

Hanya saja kalangan Malikiyyah mengecualikan bagi wanita yang belajar atau mengajarkan al Qur’an boleh membawa dan menyentuhnya sebatas dalam kerangka belajar. Allaahu A’lam.[MTaufikNT]


Baca Juga:

 

 

[1] حديث عمرو بن حزم: ” لا يمس القرآن إلا طاهر “. أخرجه الدارقطني (2 / 285 – دار المحاسن) وصوب ابن عبد البر الإرسال فيه كما في حاشية الموطأ (1 / 199 – ط الحلبي) ولكن له شواهد تقويه، ذكرها ابن حجر في التلخيص (1 / 131 – ط شركة الطباعة الفنية) .

Iklan

Posted on 10 Juni 2017, in Fiqh, Ibadah, Ikhtilaf and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s