Pentingnya Belajar Fiqh

Fiqh secara bahasa bermakna al fahmu (pemahaman), sedangkan secara istilah, fiqh didefinisikan sebagai

الفقه هو العلم بالأحكام الشرعية العملية المستنبطة من الأدلّة التفصيلية

Fiqh adalah ilmu tentang hukum-hukum syara’ praktis yang digali dari dalil-dalil yang terperinci[1].

Tidak ada yang memungkiri bahwa belajar fiqh adalah sangat penting, karena fiqh lah yang menjelaskan kepada kita hukum-hukum terkait ibadah dan mu’amalah. Aktivitas apapun yang kita lakukan, agar menjadi amal terbaik, yang kita harapkan diterima disisi Allah swt, harus memenuhi dua syarat; ikhlas dan benar. Ikhlas namun tidak benar tidak akan diterima, sebaliknya benar namun tidak ikhlas juga tidak akan diterima.[2]

Taqwa adalah sebaik-baik bekal, dan taqwa tidak bisa diraih tanpa ilmu. Tanpa ilmu, sesuatu yang jelek bisa jadi disukai dan dilaksanakan, sementara yang baik justru dibenci dan dijauhi. Oleh sebab itu Rasulullah menyatakan:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْراً يُفَقهْهُ في الديَنِ

“Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan padanya, maka Dia akan memahamkannya dalam urusan agama”. (Muttafaqun ‘Alaih).

Bahkan, seseorang tidak akan bisa membersihkan hati, berlaku zuhud dan aktivitas bathin yang lain tanpa mengetahui fiqh.

Pernah ditanyakan kepada Imam Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani (w. 189 H)[3].

أَلَا تُصَنِّفُ فِي الزُّهْدِ شَيْئًا

”Mengapakah engkau tidak menyusun (kitab) dalam masalah zuhud sedikitpun?”

Maka beliau menjawab :

قَدْ صَنَّفْتُ كِتَابَ الْبُيُوعِ

“Sungguh aku telah menyusun kitab tentang jual-beli” (Al Mabsûth, 12/110).[4]

Maksud beliau adalah bahwa tidaklah zuhud itu melainkan menjauhi yang haram dan menyukai yang halal.[5]

Oleh sebab itu, adalah kebodohan jika seseorang mengaku mementingkan zuhud, mendalami berbagai sisi peyakit bathin, mengaku tenggelam dalam dunia tashawwuf, namun mengabaikan fiqh. Bagaimana mungkin seseorang mengaku membersihkan bathin jika aktivitas kesehariannya justru dikotori dengan berbagai pelanggaran hukum syari’ah?

Mungkin mulutnya senantiasa berdzikir sembari melakukan riba dalam aktivitas jual beli, hatinya merasa tunduk kepada Allah sambil membuat Undang-undang dan peraturan yang menentang aturan Allah, bibirnya senantiasa bertasbih namun dia hidup dengan wanita yang dia tidak tahu bahwa pernikahannya dengan wanita tersebut sebenarnya sudah terputus karena telah jatuh talak tiga kali tanpa dia tahu.

Bisa jadi dirinya merasa dekat dengan Allah dan senantiasa berdzikir kepada-Nya, padahal sebenarnya termasuk dalam kategori orang-orang yang lalai karena perbuatannya menentang aturan syari’ah-Nya.

Atha’ rahimahullah mengatakan:

مجالسُ الذِّكر هي مجالسُ الحلال والحرام، كيف تشتري وتبيعُ وتصلّي وتصومُ وتنكحُ وتطلّق وتحجّ

“Majelis dzikir itu adalah majelis halal dan haram, bagaimana engkau melakukan jual beli, shalat, puasa, haji, menikah, bercerai, dan berhaji.” (Al Adzkar lin Nawawi, hal 10. Maktabah Syamilah).

Ini bukan berarti bahwa berdzikir lisan dan hati itu tidak baik, sama sekali bukan bermakna begitu, namun hendaknya dzikir lisan dan hati tersebut hendaknya dibarengi dengan ‘dzikir perbuatan’, yakni senantiasa menjadikan perbuatan selaras dengan ketentuan Allah Ta’ala. Allaahu A’lam. [MTaufikNT]

Baca Juga:

 

[1] An Nabhany, Syakhsiyyah al Islamiyyah, 3 /11. Az Zarkasyi, Bakhrul Muhit, 1/21.

[2] Al Fudhail bin Iyadh dalam kitab Taqarrub Ilallah

[3] Beliau berguru kepada Imam Abu Hanifah, Imam Abu Yusuf, Imam Malik, Sufyan at Tsauri, al Awza’i dll. Imam as Syafi’i pernah berguru kepada beliau. Pada Masa Khalifah Harun ar Rasyid beliau diangkan jadi Qadhi (hakim) di Riqqah (Iraq). Lihat kiyab ”Tabaqat al-Hanafiyyah” karya Abu al-’Adl Zainuddin Qasim.

[4] Imam as Sarakhsi, Al Mabsûth, 12/110. Darul Ma’rifah. Maktabah Syamilah

[5] Imam as Sarakhsi, idem.

Iklan

Posted on 30 Mei 2017, in Fiqh, Ibadah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s