Bersuci (Thaharah)

Bersuci menduduki peran sangat penting dalam ibadah, karena berbagai Ibadah tidak  sah tanpa bersuci. Tulisan ini merujuk kepada kitab at Taqrib atau Ghayatul Ikhtishor (puncak ringkasan) karya Imam Abu Syuja’ (434H-593 H), (kun-yahnya Abu Thayyib). ditambah berbagai penjelasan dari kitab-kitab fiqh lain dalam Madzhab Syafi’i.

***

Kitab Thaharah[1]

الْمِيَاه الَّتِي يجوز بهَا التَّطْهِيرُ سبعُ مِيَاهٍ مَاءُ السَّمَاء وَمَاء الْبَحْر وَمَاء النَّهر وَمَاء الْبِئْر وَمَاء الْعين وَمَاء الثَّلج وَمَاء الْبرد

Air yang dapat dibuat untuk bersuci ada 7 (tujuh) yaitu air hujan (langit), air laut, air sungai, air sumur, air sumber (mata air), air salju, air dingin[2]

ثمَّ الْمِيَاه على أَرْبَعَة أَقسَام طَاهِرٌ مطهِّرٌ غيرُ مَكْرُوه وَهُوَ الـمَاء الْمُطلق، وطاهر مطهر مَكْرُوه وَهُوَ الـمَاء المشمس، وطاهر غير مطهر وَهُوَ المَاء الْمُسْتَعْمل والمتغير بِمَا خالطه من الطاهرات، وَمَاء نجس وَهُوَ الَّذِي حلت فِيهِ نجاسه وَهُوَ دون الْقلَّتَيْنِ أَو كَانَ قُلَّتَيْنِ فَتغير

Jenis air ada empat yaitu:

1. air suci dan mensucikan, yakni air mutlak.

2. air yang makruh yaitu air musyammas (terkena terik matahari);

3. air suci tapi tidak meyucikan yaitu air musta’mal dan air yang berubah karena tercampur benda suci;

4. air najis yaitu (i) air kurang 2 qullah yang terkena najis atau (ii) air mencapai 2 qullah terkena najis dan berubah[3]. Adapun ukuran 2 qullah adalah 500 (lima ratus) kati baghdad menurut pendapat yang paling sahih.[4]

====================================================================

Air mutlak adalah air yang masih dalam asal kejadiannya, tidak terkena najis dan tidak pula tercampuri oleh barang suci yang lain secara berlebihan (at Ta’rifat, 195).

Air musyammas, makruh digunakan pada badan, namun tidak makruh untuk mencuci barang. Kemakruhannya hanya jika: 1) di daerah yang bersuhu tinggi sekiranya kuat terik matahari bisa mengangkat karat kepermukaan wadah air yang terbuat dari logam, sehingga mengakibatkan timbulnya pencemaran pada air. ( Al- Bajuri 1/30), adapun kalau didaerah yang dingin atau sedang, seperti di Jawa tidaklah makruh (Nihayatuz Zain, hal 14). 2) air ditampung dalam tempat yang terbuat dari logam yang bisa berkarat. 3) airnya masih panas, kalau sudah dingin maka tidak makruh lagi. Hanya saja Imam an Nawawi tidak memakruhkan sama sekali penggunaan air musyammas (Fathul Qarib, hal 26).

Air Musta’mal adalah air yang telah digunakan untuk menghilangkan hadats atau najis yang tidak mengalami perubahan didalamnya. Ada empat syarat air bisa dikatakan musta’mal:

(1) Volume air sedikit (kurang dari dua qullah),

(2) Sudah digunakan dalam rukun wajib thoharoh,

(3) sudah terpisah dari anggota tubuh,

(4) tidak ada niat sekedar nyiduk saja ketika memasukkan tangan ke dalam wadah air ataupun ketika anggota tubuh menyentuh air. [I’ânatut Thôlibîn, I/37][5].

Adapun jika air muthlaq terpercik air musta’mal, maka terdapat beberapa pendapat ulama sebagai berikut[6]:

(1) Bila diperkirakan pencampurannya mengakibatkan perubahan maka tidak dapat dipakai mensucikan lagi, bila tidak mengalami perubahan masih bisa dipakai mensucikan, ini pendapat yang paling shahih dalam mazhab Syafi’i.

(2) Bila air musta’mal yang mencampuri lebih sedikit maka masih bisa dipakai mensucikan lagi, bila lebih banyak atau sepadan maka tidak bisa dipakai mensucikan lagi

(3) Bila air musta’mal yang mencampuri banyak dan membuat perubahan maka tidak dapat digunakan bersuci bila sedikit maka masih bisa.

Air Mutanajjis Yang ‘Didaur Ulang’

Air Mutanajjis jika sudah kembali murni ini, dalam artian tidak berasa, berbau dan berwarna maka dihukumi suci sehingga boleh dikonsumsi ataupun digunakan untuk bersuci.

فَإِنْ صَفَا الْمَاءُ وَلَا تَغَيُّرَ بِهِ طَهُرَ – (قَوْلُهُ فَإِنْ صَفَا الْمَاءُ) أَيْ: زَالَ رِيحُ الْمِسْكِ أَوْ لَوْنُ التُّرَابِ أَوْ طَعْمُ الْخَلِّ، وَقَوْلُهُ طَهُرَ أَيْ: حَكَمْنَا بِطَهُورِيَّتِهِ لِانْتِفَاءِ عِلَّةِ التَّنْجِيسِ.

“Apabila air menjadi jernih dan tidak berubah maka sucilah air itu, (yang dimaksud jik aair telah jernih) adalah bahwa bau misik atau warna tanah atau rasa cuka telah hilang, (dan yang dimaksud suci) yakni kami menghukuminya suci lantaran ‘illat kenajisan telah tiada”. (Hasyiyah albujairimi ‘ala syarhil minhaj juz 1 hal. 26).

Sucinya Kulit Bangkai Setelah Disamak

(فصل) وجلود الميتة تطهر بالدباغ إلا جلد الكلب والخنزير وما تولد منهما أو من أحدهما وعظم الميتة وشعرها نجس إلا الآدمي. ولا يجوز استعمال أواني الذهب والفضة ويجوز استعمال غيرهما من الأواني.

Kulit bangkai dapat suci dengan disamak kecuali kulit anjing dan babi dan hewan yang terlahir dari keduanya atau dari salah satunya. Adapun tulang bangkai itu najis kecuali tulang mayat manusia. Tidak boleh menggunakan wadah yang terbuat dari emas dan perak. Boleh menggunakan wadah yang selain dari emas dan perak.

Hukum Siwak

(فصل) والسواك مستحب في كل حال إلا بعد الزوال للصائم وهو في ثلاثة مواضع أشد استحبابا: عند تغير الفم من أزم وغيره وعند القيام من النوم وعند القيام إلى الصلاة.

Bersiwak itu hukumnya sunnah dalam setiap keadaan kecuali setelah condongnya matahari bagi yang berpuasa. Bersiwak sangat disunnah dalam 3 tempat yaitu (a) saat terjadi perubahan bau mulut; (b) setelah bangun tidur; (c) hendak melaksanakan shalat. [MTaufikNT]


Baca Juga:

[1] Thahârah secara bahasa artinya adalah an nadzâfah (bersih atau suci dari segala kotoran). Secara istilah syara’ thahârah adalah mengerjakan sesuatu yang menyebabkan seseorang diperbolehkan untuk mengerjakan shalat , yakni whudhu, mandi dan tayammum dan menghilangkan najis. (Fathul Qarib, hal 24)

[2] Secara ringkas yakni air yang turun dari langit (al Anfal :11), dan air yang memancar dari bumi (dalilnya antara lain hadits riwayat at Tirmidzi tentang air laut: هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ، الحِلُّ مَيْتَتُه, tentang air sumur adl hadits riwayat abu Dawud tentang sumur, tentang salju dan barod adl hadits riwayat Imam Bukhari:… اللَّهُمَّ اغسلني من خطاياي بِمَاء الثَّلج وَالْبرد).

[3] Sebagian ulama syafi’iyyah seperti al Ghazali dan ar Rouyani menyatakan air banyak ataupun sedikit jika kena najis namun tidak berubah warna, bau atau rasanya maka tetap suci (albahjatul wirdiyah (1/30)). Begitu juga madzhab imam Malik.

[4] Dalam ukuran liter, jumhur ‘ulama menyatakan dua qullah itu setara 216 liter, Imam an Nawawi sekitar 175 liter, Ulama Iraq menyatakan sekitar 255 liter.

[5] واعلم أن شروط الاستعمال أربعة، تعلم من كلامه: قلة الماء واستعماله فيما لا بد منه، وأن ينفصل عن العضو، وعدم نية الاغتراف في محلها وهو في الغسل بعد نيته، وعند مماسة الماء لشئ من بدنه.فلو نوى الغسل من الجنابة ثم وضع كفه في ماء قليل ولم ينو الاغتراف صار مستعملا.وفي الوضوء بعد غسل الوجه وعند إرادة غسل اليدين، فلو لم ينو الاغتراف حينئذ صار الماء مستعملا.

[6] فصل : و ان كان الواقع في الماء ماء مستعملا عفي عن يسيره قال إسحاق بن منصور قلت ل أحمد الرجل يتوضأ فينضح من وضوئه في إنائه ؟ قال لا بأس به قال إبراهيم النخعي : لا بد من ذلك ونحوه عن الحسن وهذا ظاهر حال النبي صلى الله عليه و سلم وأصحابه لأنهم كانوا يتوضؤون من الاقداح والانوار ويغتسلون من الجفان وقد روي أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يغتسل هو وميمونة من جفنة فيها أثر العجين واغتسل هو وعائشة من اناء واحد تختلف أيديهما في كل واحد منهما يقول لصاحبه أبق لي ومثل هذا لا يسلم من رشاششش يقع في الماء وان كثر الواقع تفاحش منع على إحدى الروايتين وقال أصحاب الشافعي إن كان الأكثر المستعمل منع وإن كان الأقل لم يمنع (المغني : ج 1 ص 44)

Iklan

Posted on 30 Mei 2017, in Fiqh, Ibadah and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s