Madzhab Sahabat Lebih Benar Daripada Madzhab Empat?

Pengertian

Madzhab Sahabat, biasa disebut juga Qaul (perkataan) Sahabat adalah pendapat-pendapat Shahabat secara perorangan dalam masalah-masalah Ijtihad.

Madzhab sahabat berbeda dengan ijma’ sahabat yakni kesepakatan sahabat atas hukum suatu peristiwa (dan) bahwa hukum tersebut merupakan hukum syara.

Kehujjahan

Madzhab sahabat bukanlah dalil syara’ yang menjadi hujjah/dasar dalam menghukumi sesuatu, inilah pendapat jumhur Asyariyah, Mu’tazilah, Imam Syafi’i dalam madzhabnya (Syafi’iyah) juga Abul Hasan Al-Kharha dari kalangan Hanafiyah, ini pula yang ditabanni dalam Hizbut Tahrir[1], alasannya:

  1. Sahabat itu tidak maksum (terpelihara) dari kesalahan, sehingga pendapatnya sama kedudukannya dengan pendapat mujtahid yang lain, keutamaan sahabat bukanlah alasan untuk mewajibkan mengikuti semua hal dari mereka radhiyallaahu ‘anhum.
  2. Sebagian sahabat itu menyelisihi sahabat lainnya. Mewajibkan mengikuti pendapat satu sahabat, berarti melarang mengikuti pendapat sahabat yang lain.
  3. Sebagian tabi’in juga menyelisihi madzhab/qaul sahabat.

Imam Syafi’i mengatakan:

لا يجوز الحكم أو الإفتاء إلا من جهة خبر لازم، وذلك الكتاب أو السنة، أو ما قاله أهل العلم لا يختلفون فيه، أو قياس على بعض هذا

“Tidak boleh menetapkan hukum atau memberikan fatwa kecuali dengan dasar yang pasti, yaitu Al-Qur’an dan al-hadits, atau apa yang dikatakan para ahli ‘ilmu yang mereka tidak berbeda pendapat (ijma’), atau dengan mengkiaskan kepada sebagian dasar ini”.

Itu dari sisi apakah madzhab (pendapat) sahabat merupakan dalil syara’, namun dari sisi lain pendapat sahabat adalah hukum syara’ bagi yang mengambilnya, sebagaimana pendapat mujtahid ketika berijtihad.

Madzhab Sahabat Lebih Rajih?

Belum tentu pendapat seorang sahabat lebih rajih dari madzhab yang lain, semisal madzhab Syafi’i, Ahmad, dll. Begitu juga pendapat tabi’in tidaklah selalu lebih tepat dibandingkan dengan pendapat ‘ulama setelah mereka.

Sebagai contoh, perkataan Ali r.a bahwa banyaknya mahar minimal adalah sepuluh dirham, makruh jika kurang dari ini, tidaklah ini pasti lebih kuat dari pandangan imam Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsur, dan fuqaha` Madinah dari kalangan tabi’in yang berpendapat bahwa tidak ada batasan minimal jumlah mahar. Mana yang lebih kuat dikembalikan kepada dalil yang mereka jadikan hujjah.

Begitu juga pendapat tabi’in, tidak mesti lebih kuat dibandingkan pandangan ’ulama setelah mereka, contohnya dalam kasus talak tiga, mayoritas ‘ulama mengharamkan istri yang ditalak tiga suaminya untuk menikah lagi dengan suaminya tadi kecuali si istri sudah menikah dengan suami yang lain, merasakan jima’ dengan suami yang lain tadi, dan suami yang lain tadi menceraikannya.

Namun Sa’id bin al-Musayyib dan Sa’id bin Jubair, keduanya tabi’in, membolehkan suami pertama menikahi istri talak tiga tersebut hanya dengan adanya pernikahan yang sah dan tanpa jima’ oleh suami kedua. Pendapat ini ditolak oleh mayoritas ulama, dan bahkan madzhab Abu Hanifah menyatakan bahwa orang yang mengikuti pendapat Sa’id bin al-Musayyib maka aparat pemerintah (Qadhi) harus membatalkannya, oleh karena pandangan tersebut telah menyalahi konsensus para Shahabat, Tabi’in, dan mayoritas ulama dalam hal ini, dan tidak sesuai dengan hadits yang diriwayatkan dari Aisyah bahwa ada seorang laki-laki menceraikan isterinya dengan talak tiga. Lalu wanita itu menikah dan diceraikan lagi [2]. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun ditanya, apakah wanita itu telah halal untuk suaminya yang pertama. Maka beliau menjawab:

لَا، حَتَّى يَذُوقَ عُسَيْلَتَهَا كَمَا ذَاقَ الْأَوَّلُ

“Tidak, hingga laki-laki kedua itu merasakan madunya sebagaimana laki-laki pertama telah merasakannya.” (HR. al Bukhory). Allaahu a’lam. [MTaufikNT]

 
Baca Juga:

[1] Adapun Imam Maliki, Abu Bakr Ar-Razi, Abu Said sahabat Imam Abu Hanifah, begitu juga Imam Syafi dalam Madzhab Qadimnya, termasuk juga Imam Ahmad Bin Hanbal dalam salah satu riwayat menyatakan madzhab sahabat sebagai dalil syara’.

[2] Dalam riwayat muslim disebutkan, قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ بِهَا (sebelum wanita tersebut ‘dicampurinya’)

Iklan

Posted on 25 Mei 2017, in Ushulul Fiqh and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s