Jika Allah Menghendaki Sesuatu, Dia Akan Mengatur Sebab-Sebabnya

Pernahkah terbayang bagaimana caranya 38 kerajaan/kesultanan yang ada di Indonesia ini bisa bersatu menjadi satu negara, Indonesia? Padahal mereka, secara total telah hidup selama 443 tahun? Pernahkah terbayang, bagaimana bisa Majapahit yang telah hidup selama 207 tahun akhirnya menjadi bagian Indonesia?

Kalau sekarang orang berfikir, “dimana NKRI kalau negeri ini mau jadi kekhilafahan?” tidakkah mereka juga berfikir, dulu sebelum merdeka apakah kesultanan-kesultanan tersebut memikirkan hal yang sama: “dimana kesultanan kami jika kalian memproklamasikan Indonesia?”.

Jika Allah menghendaki sesuatu, Dia akan mengatur sebab-sebab agar sesuatu itu terjadi. Ketika mereka sadar bahwa mereka terjajah oleh Belanda dan kemudian Jepang, kesadaran itu membuka pikiran sebagian besar mereka, tidak semuanya, karena masih ada saja kacung-kacung penjajah yang mendapatkan secuil kenikmatan dari penjajahan tersebut, kesadaran seperti inilah yang menyatukan mereka untuk ‘memberontak’ terhadap penjajah. Penjajahan itulah, yang atas idzin Allah, menjadi ‘sebab’ meleburnya puluhan kerajaan tersebut kedalam satu negara Indonesia. Tentu bukan hanya karena penjajahan, namun disamping penjajahan tersebut, Allah munculkan pula orang-orang yang sadar dan ‘menularkan’ kesadarannya untuk menyatukan kekuatan dalam melawan penjajahan tersebut.

Memang, kadang Allah menjadikan sesuatu yang tidak menyenangkan sebagai sebab terjadinya suatu hal yang lebih baik. Dibuangnya Nabi Yusuf a.s ke sumur dan dipenjaranya beliau beberapa tahun menjadi ‘sebab’ diperolehnya kemuliaan di Negeri Mesir. Dilarutkannya Musa a.s ke sungai menjadi ‘sebab’ selamatnya beliau dari pembunuhan yang akan dilakukan oleh Fir’aun, bahkan akhirnya mendapatkan kehidupan yang lebih layak, justru dari Fir’aun. Ditindasnya dakwah Rasulullah saw di Makkah menjadi ‘sebab’ makin kuatnya keimanan para sahabat yang menjadikan mereka layak menerima amanah yang lebih besar dalam mengemban risalah Islam ke seluruh dunia.

Kembalinya kekhilafahan adalah janji Allah dan kabar yang disampaikan oleh Rasulullah, selain itu juga merupakan kewajiban, sebagaimana yang diungkapkan Imam an Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shohih Muslim (12/205):

وَاَجْمَعُوْا عَلَى اَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ نَصْبُ خَلِيْفَةٍ

“Dan mereka (kaum muslimin) ber ijma’ (sepakat) bahwa sesungguhnya wajib bagi kaum muslimin untuk mengangkat Khalifah…”.

Terkait khilafah, apa yang disampaikan Rasulullah saw adalah benar. Allah sendirilah yang akan mengatur sebab-sebab tegaknya khilafah: memilih siapa yang dikehendaki diantara hamba-hamba-Nya untuk memperjuangkannya, menyiapkan kondisi yang akan men-trigger kesadaran umat agar serius memikirkannya dan selanjutnya memperjuangkannya, menyiapkan hambatan-hambatan yang akan memperkuat dan menyaring siapa saja yang layak untuk mengemban amanah itu, dan pada saatnya akan memilih siapa diantara hamba-Nya yang diamanahi kekuasaan yang akan menyokong dan menegakkan kekhilafahan.

Oleh sebab itu, apapun yang terjadi dengan dakwah ini, dan siapapun yang berupaya menghalangi, sama sekali tidak akan memundurkan apa yang Allah kehendaki. Tidakkah kita lihat bahwa ide dan kesadaran akan wajibnya khilafah yang akan menerapkan syari’ah ini makin gencar di masyarakat, walau propaganda negatif dihembuskan? Walau kita tidak tahu persis kapan Allah akan bukakan hati mayoritas tokoh umat untuk melangkah bersama dalam perjuangan ini. Haruskah negeri ini benar-benar dijajah secara riil sebagaimana penjajahan gaya lama dulu baru kesadaran itu muncul? Itu tidaklah terlalu penting difikirkan, yang terpenting adalah bagaimana kita selalu berupaya memperbaiki diri agar menjadi orang yang layak dipilih-Nya dalam mengemban risalah ini, hingga akhir hayat kita.

***

Khilafah tidaklah akan menghancurkan negeri ini, sebagaimana dulu Indonesia tidaklah menghancurkan kerajaan-kerajaan yang sudah ada. Ibarat komputer, khilafah itu hanyalah seperti software yang canggih, yang tidak akan merusak perangkat komputer, justru akan mengoptimalkan kinerjanya, membersihkan virus-virus yang merusak data, ‘menggerogoti‘ memori, dan mencuri data rahasia untuk dikirim ke komputer musuh. [MTaufikNT]

Baca Juga:

Iklan

Posted on 20 Mei 2017, in Afkar, Politik and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s