Kebenaran itu Berat , Namun Lezat

Imam Abdullah bin Mubarak (w. 181 H) meriwayatkan bahwa sahabat Hudzaifah bin al Yaman r.a berkata:

إِنَّ الْحَقَّ ثَقِيلٌ، وَهُوَ مَعَ ثِقَلِهِ مَرِيءٌ، وَإِنَّ الْبَاطِلَ خَفِيفٌ، وَهُوَ مَعَ خِفَّتِهِ وَبِيءٌ، وَتَرْكَ الْخَطِيئَةِ أَيْسَرُ – أَوْ قَالَ خَيْرٌ مِنْ طَلَبِ التَّوْبَةِ – وَرُبَّ شَهْوَةِ سَاعَةٍ أَوْرَثَتْ حُزْنًا طَوِيلًا

Sesungguhnya kebenaran itu berat, (namun) bersama dengan beratnya itu ada kelezatan, sedangkan kebatilan itu ringan, (namun) bersama ringannya itu ada penyakit. Meninggalkan kesalahan lebih mudah – atau dia katakan lebih baik – dari pada meminta taubat, betapa banyak syahwat sesaat yang menyebabkan kesedihan yang berkepanjangan” [Az Zuhdu war Raqâ-iq, hal 291. Maktabah Syâmilah].[1]

Membawa kebenaran itu memang berat, karena tabiat manusia itu inginnya hidup santai, apalagi jika kebenaran itu ditentang oleh penguasa.

Allah menceritakan Nabiyullah Ibrahim as, ketika menyampaikan kebenaran kepada Namrudz:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (al Baqarah: 258)

Kekalahan secara intektual ini menjadikan rezim Namrudz Kalap. Lalu menggunakan kekerasan untuk menghadang dakwah Nabi Ibrahim as.

فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا اقْتُلُوهُ أَوْ حَرِّقُوهُ فَأَنْجَاهُ اللَّهُ مِنَ النَّارِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan: “Bunuhlah atau bakarlah dia”, lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman. (al Ankabuut: 24)

Karena membawa kebenaranlah Nabi Ibrahim a.s di lemparkan ke api, Nabi Yusuf a.s dipenjara bertahun-tahun, Nabi Zakariyya di gergaji, putra beliau, Nabi Yahya di pengggal kepalanya, Nabi Isa hidup dalam kefaqiran yang sangat, dan karena kebenaran pula Nabi Muhammad saw mendapatkan gangguan, fitnahan dan siksaan. Akankah kita berangan-angan tetap santai dalam membawa kebenaran?

Hanya saja, bagi orang-orang yang berakal, sedikit rasa berat dan susah itu akan bisa mereka jalani dengan riang gembira, karena mereka melihat apa yang Allah janjikan pada kehidupan yang kekal kelak.

وَهُوَ مَعَ ثِقَلِهِ مَرِيءٌ

“dan kebenaran itu, bersama dengan beratnya ada kelezatannya”

Beratnya kebenaran itu juga akan terasa ringan jika dibarengi dengan tekad yang kuat, dan pandangan serta pikiran yang besar. Al Mutanabbi’ dalam sya’irnya mengatakan:

على قدْرِ أهلِ العزمِ تأتي العزائمُ *** وتأتي على قدْرِ الكِرامِ الـمَكارمُ

“Kemauan itu datang sesuai dengan kadar keteguhan seseorang *** Kemulian itu datang sesuai dengan kadar kebaikan seseorang.”

وَتَعْـظُمُ في عَـينِ الصّــغيرِ صغارُها *** وَتَصْغُرُ في عَين العَــظيمِ العَــظائِمُ

“Perkara kecil dianggap besar di mata orang (yang pikirannya) kerdil *** Perkara besar akan dianggap kecil di mata orang (yang berpikir) besar.” [2]

Oleh karena itu, walaupun dipenjara, dengan kebesaran jiwanya, Imam Ahmad pantang untuk menutupi kebenaran, bahkan ketika sahabatnya memintanya untuk berpura-pura beliau menjawab:

إذَا أَجَابَ الْعَالِمُ تَقِيَّةً وَالْجَاهِلُ بِجَهْلٍ فَمَتَى يَتَبَيَّنُ الْحَقّ؟

Jika orang yg mengetahui menjawab dg taqiyyah (berpura-pura), dan orang bodoh menjawab dg kebodohannya, maka kapan yang Haq akan jelas (tersampaikan)? (Imam Ahmad, dalam Al Âdâbu asy Syar’iyyah).

Oleh karena itu, jangan sampai karena ingin mendapatkan dunia kita sampai meningalkan kebenaran, apalagi sampai menentang kebenaran. Jika itu dilakukan, dunia yang diinginkan belum tentu didapatkan, sementara ancaman Allah sudah pasti akan dia rasakan, jika tidak segera bertaubat. Yahya bin Muadz Ar Razi dalam kitab al Ghuroba’ karya al Âjurry menyatakan:

يا ابنَ آدم طلبتَ الدنيا طلبَ مَنْ لا بُدَّ له منها، وطلبتَ الآخرةَ طلبَ مَنْ لا حاجةَ له إليها، والدنيا قد كُفِيتَها وإنْ لم تطلبْها، والآخرةُ بالطلبِ منك تنالُها، فاعقِلْ شأنَك

“Wahai anak adam, engkau mencari dunia dengan pencarian orang yang tidak bisa tidak harus melakukannya, dan engkau mencari akhirat dengan pencarian orang yang tidak memerlukannya. Padahal untuk urusan dunia engkau telah dicukupi-Nya walaupun engkau tidak (bersusah payah) mencarinya, sedangkan akhirat (hanya) engkau dapatkan dengan mencarinya, pikirkanlah keadaanmu.” Allaahu A’lam.[MTaufikNT]

Baca Juga:

[1] وجاء في (إحياء علوم الدين) للغزالي فى وصية أبي بكر لعمر رضي الله عنهما: «الحَقُّ ثَقِيلٌ، وَهُوَ مَعَ ثِقَلِهِ مَرِيءٌ، والبَاطِلُ خَفِيفٌ، وَهُوَ مَعَ خِفَّتِهِ وَبِيءٌ

[2] Al Wâhidi (w. 468 H), Syarh Dîwân al Mutanabbi’, hal 274. Maktabah Syâmilah.

Iklan

Posted on 19 Mei 2017, in XYZ(Matematika, Komputer dll) and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s