Benarkah HTI Anti Pancasila?

Sekitar dua puluh tahun lalu, ketika berbicara dalam stadium general di depan ratusan mahasiswa, diantara yang saya sampaikan dan jelaskan adalah bahwa kehidupan kita ini akan rusak jika tidak kita jalani sesuai dengan petunjuk Sang Pencipta, yakni Syari’ah Islam, dan menjadi kewajiban kita untuk memperbaiki kehidupan ini dengan berusaha menerapkannya dalam kehidupan.

Dalam sesi dialog, seorang mahasiswa bertanya: “bukankah Indonesia ini negara Pancasila? Tidakkah kalau kita memperjuangkan diterapkannya Islam berarti kita menentang Pancasila?”.

Waktu itu, saya jawab dengan pertanyaan balik kepada seluruh yang hadir: “menurut kalian, apakah syari’ah Islam ini bertentangan dengan Pancasila?”. Ternyata, sebagian mahasiswa menjawab iya, dan sebagian lagi menjawab tidak.

Lalu saya katakan: “kepada yang menjawab Pancasila tidak bertentangan dengan syari’ah Islam, lalu apa yang membuat kita khawatir untuk mengkaji, memahaminya, dan mengajak agar umat sama-sama memperjuangkannya?”

Lalu saya katakan lagi: “kepada yang menjawab Pancasila bertentangan dengan syari’ah Islam, saya mau tanya: ‘kalian memilih memperjuangkan Pancasila atau memilih memperjuangkan Islam’?” peserta banyak yang terdiam. Saya lanjutkan: “kita semua, baik yang mengakui kebenaran Islam atau tidak, kelak di akhirat akan dinilai amal kita berdasarkan kesesuaiannya dengan syari’at Islam, bukan dengan yang lain. Mendakwahkan penerapan syari’ah-Nya, adalah suatu kebaikan, baik orang lain memandang itu bertentangan dengan Pancasila ataupun sesuai dengan Pancasila.”[1]

***

Mungkin ada yang mengatakan bahwa yang saya katakan dalam jawaban tersebut hanya sekedar ‘ngeles’, atau menghindar untuk menjawab dengan tegas bahwa “Pancasila bertentangan dengan Islam” atau menjawab “Pancasila selaras dengan Islam”, kalau itu yang anda pikirkan, pikiran anda tidak sepenuhnya keliru.

Kenapa tidak saya jawab dengan tegas waktu itu, dan juga sampai sekarang sepertinya jawaban saya itu belum berubah, karena, meminjam ungkapannya Ustadz Ismail, Pancasila adalah set of philosophy atau seperangkat pandangan filosofis tentang ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan yang dijadikan sebagai dasar negara.

Sebagai pandangan yang sifatnya filosofis, tentu penjabaran dan aplikasinya bisa bersifat subyektif. Seorang kyai yang shalih mungkin akan memaknai Pancasila sesuai dengan ide-ide Islam, sehingga dalam benaknya ajaran Islam tentang tauhid, keadilan, musyawarah itu semua ‘dikandung’ oleh Pancasila. Seorang preman yang suka mabuk, bisa jadi memandang Pancasila dengan sudut pandang sendiri, bahwa mabuk itu bagian dari kemanusiaan yang harus dilindungi, dan itu sesuai dengan Pancasila, apalagi kalau mabuk itu bisa menyebabkan manfaat bagi orang lain, misalnya bisa membuka lapangan kerja dengan berdirinya pabrik-pabrik miras. Bagi orang liberal, mungkin liberalisasi sumber daya alam yang semakin marak juga dipandang sesuai dengan Pancasila. Begitu juga bagi orang sosialis/komunis akan memandang Pancasila itu cocok dengan mereka, apalagi ada sila ‘keadilan sosial…’ yang bisa mereka interpretasikan sesuai pandangan sosialis tentang konsep keadilan.

Oleh sebab itu, bisa kita lihat dalam sejarah, bahwa Pancasila bisa dibawa kemana saja oleh rezim yang berkuasa, berawal dari Piagam Jakarta yang disepakati[2] oleh panitia 9, diubah sepihak oleh sebagian kecil mereka hingga terjadilah tragedi hilangnya 7 kata tentang wajibnya penerapan syari’at Islam pada sila pertama.

Ir. Soekarno juga memeras Pancasila menjadi Trisila; Sosio Nasionalisme, Sosio Demokrasi, dan Ketuhanan yang berkebudayaan, bahkan memeras Pancasila hingga menjadi satu sila (Ekasila) yaitu Gotong Royong. Ia pun mengemukakan gagasan konsep politik Nasakom (Nasionalisme-Agama-Komunisme), serta Poros Jakarta-Peking (China)-Pyongyang (Korea Utara)-Moskow (Rusia). Pada masa itu, aplikasi Pancasila dominan menggunakan corak Ideologi Sosialisme.

Kemudian, saat rezim orde baru (Soeharto), Pancasila lebih didominasi corak warna ideologi Kapitalisme. Perusahaan-perusahaan asing secara legal bebas mengeruk kekayaan negeri ini. Ketika orde baru jatuh, hingga muncullah era reformasi sampai sekarang ini, pengaruh warna Ideologi Kapitalisme bahkan semakin kental mencengkram. Maka muncullah aneka Perundang-undangan yang sarat muatan kepentingan asing-aseng, privatisasi-liberalisasi merambah aneka sektor, bahkan berkembang usulan agar penjara (lapas) juga di kelola swasta.

Dan anehnya, dari mulai Pancasila dengan rasa komunisme, Pancasila dengan rasa kapitalisme, hingga Pancasila dengan rasa liberalisme saat ini, semua rezim mengaku Pancasilais, hanya satu yang dianggap tidak Pancasilais, yakni jika mau mengaplikasikan syari’ah Islam di negeri ini!.

***

Kalau mau jujur, sebenarnya para pejuang Islam itu justru menginginkan syari’ah Islam sebagai aplikasi Pancasila yang mereka ‘sepakati’ itu.

Kibagus Hadi Kusumo, dalam sidang BPUPKI, dalam pidatonya saat membahas dasar negara beliau menginginkan Islam, lalu mengkritik kalangan sekuler dengan pertanyaan: “jika ada yang berkata agama itu tinggi dan suci, dan tidak pantas diterapkan untuk mengurus negara, maka apakah mereka mau bernegara diikat oleh pikiran yang rendah dan tidak suci?” Diakhir pidatonya Ki Bagus Hadikusumo menutup dengan kalimat, “Mudah-mudahan Negara Indonesia baru yang akan datang itu, berdasarkan agama Islam dan akan menjadi negara yang tegak dan teguh, serta kuat dan kokoh. Amien!”[3]

Begitu juga ketika Soekarno pada 27/1/1953, di Amuntai menyatakan bahwa kalau Islam digunakan untuk memerintah negara, banyak daerah akan lepas, maka KH. Wahid Hasyim (bapaknya Gus Dur) menyatakan: “pernyataan bahwa pemerintahan Islam tidak akan dapat memelihara persatuan bangsa dan akan menjauhkan irian, menurut pandangan hukum Islam adalah perbuatan mungkar yang tidak dibenarkan syari’at Islam. Dan wajib bagi tiap-tiap orang muslimin menyatakan ingkar dan tidak setuju” (Biografi KH. Wahid Hasyim).

Oleh karena itu, bisa ditarik benang merah bahwa yang diinginkan para pejuang dan ‘ulama muslim pada saat itu adalah penerapan syari’ah Islam, nampak jelas hal tersebut dalam sejarah.

***

Tinggal pertanyaan: “Apakah HTI Anti Pancasila?”, jawabannya adalah bahwa dalam kitab-kitab yang diadopsi Hizbut Tahrir tidak ada pembahasan khusus tentang Pancasila. Hanya saja jika dilihat tujuan didirikannya Hizbut Tahrir, yakni memulai (kembali) kehidupan Islam, menjadikan masyarakat hidup dalam masyarakat yang Islamy, dimana semua hal berjalan sesuai dengan hukum-hukum syari’ah dan mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia, maka bagi orang-orang penganut “Pancasila rasa sosialisme/komunisme”, atau “Pancasila rasa kapitalisme/liberalisme” tentu HTI dipandang anti Pancasila. Namun bagi yang melihat akar sejarah bahwa yang diinginkan para ‘ulama founding father negeri ini adalah Islam, tentu mereka akan bilang HTI itu lebih Pancasilais. Oleh karena itu kita dapati komentar para tokoh berbeda-beda, tergantung pemahaman mereka terhadap Pancasila.

Jadi, kalau ada orang yang mengatakan HTI anti Pancasila, kemungkinannya ada dua: 1) orang tersebut tidak faham HTI atau 2) Pancasila yang dia maksud adalah “Pancasila rasa sosialisme/komunisme”, atau “Pancasila rasa kapitalisme/liberalisme”. Allaahu A’lam. [MTaufikNT]

Baca Juga:

[1] Redaksinya kurang lebih begitu.

[2] Kesepakatan yang setelah perdebatan panjang, kalangan Muslim menghendaki dasar negara adalah Islam, lalu bergeser dengan menginginkan sila pertama: “ketoehanan, dengan kewadjiban menjalankan sjariat Islam” yang maknanya syariat Islam dalam masalah publik diberlakukan untuk seluruh warga negara, kecuali dalam perkara akidah dan ibadah, non muslim tidak boleh dipaksa. Lalu dengan berat hati… akhirnya mereka ‘mengalah’ dan mau berkompromi dengan menerima “ketoehanan, dengan kewadjiban menjalankan sjariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja”. Tragisnya, hasil kompromi dan ‘mengalah, inipun akhirnya dihapus sepihak oleh rezim saat itu.

[3] Ki Bagus Hadikusumo, Islam Sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin, Pustaka Rahaju, Jogjakarta. Tanpa tahun terbit. Hal 22. [suara-islam.com, 9/7/2012: Sebuah Janji untuk Ki Bagus Hadikusumo]

Iklan

Posted on 18 Mei 2017, in Afkar, Dakwah, Kritik Pemikiran, Politik and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s