Jima’ di Siang Hari Bulan Ramadhan

Jima’ (bersetubuh) di siang hari dengan sengaja membatalkan puasa. Namun jika terpenuhi delapan syarat[1], disamping membatalkan puasa juga menjadikan suami wajib membayar kaffârat. Delapan syarat tersebut adalah:

1. Dia membatalkan puasanya. Jika jima’nya tidak membatalkan puasa, seperti karena lupa, maka tidak wajib kaffârat.

2. Dilakukan di siang hari bulan Ramadhan. Puasa qodho’, nadzar dll tidaklah mewajibkan kaffarat jika dibatalkan dengan jima’.

3. Jika hari yang dia batalkan itu sempurna. Orang yang wafat atau gila setelah jima’ dan sebelum Maghrib maka tidak ada kaffârat bagi dia.

4. Membatalkannya dengan jima’. Jika dia batal puasanya dengan makan, lalu jima’ maka tidak ada kaffârat baginya.[2]

5. Jima’nya sempurna, yakni masuknya seluruh hasyafah (‘kepala burung’) nya ke dalam farj (baik lewat jalan depan (qubul) maupun belakang (dubur)[3]). Jika sebagian kepala saja yang masuk maka tidak wajib kaffarat, bahkan tidak batal puasanya jika tidak keluar sperma. Jika seluruh kepalanya masuk, walau tidak keluar sperma, maka batal puasanya dan wajib kaffarat.

6. Berdosa dengan adanya jima’ tersebut. Jika suami menjima’ istrinya di siang hari bulan Ramadhan pada saat safar thowil (81 km atau 89 km), dengan niat mengambil rukhsoh/keringanan bolehnya berbuka bagi musafir, maka tidak wajib kaffarat. Begitu juga jika suaminya saat safar tidak berpuasa, kemudian di hari itu dia pulang ke rumah, dan mendapati istrinya juga tidak puasa karena baru bersih dari haidl setelah fajar, maka merekapun tidak kena kaffarat jika mereka melakukan jima’. Tidak kena kaffarat juga orang yang sakit yang melakukan jima’ saat dia memang berniat tidak puasa disebabkan sakit tersebut.

7. Dosa jima’ tersebut karena membatalkan puasa. Jika dia musafir, tidak puasa, lalu berzina, na’udzu billaah, maka dia tidak kena kaffarat, walaupun dia berdosa besar. Berbeda halnya jika dia bukan musafir, tidak juga ada udzur, lalu membatalkan puasa dengan berzina, maka dia wajib kaffârat.

8. Jima’nya tidak ada syubhat (kesamaran). Maka tidak ada kaffarat bagi seseorang yang jima diwaktu subuh namun dia mengira masih waktu sahur, atau diwaktu sore, namun dia mengira sudah waktunya berbuka.

Hanya saja jika dia jima’ di waktu sahur, kemudian tepat saat terbit fajar dia keluarkan ‘burungnya’, dan saat itu pula dia keluar sperma, maka tidak batal puasanya, dan tidak wajib kaffarat. Sama juga jika seseorang lupa sedang puasa Ramadhan, lalu jima’ dan pas ingat lalu dia tarik ‘burung’nya dan pas keluar spermanya di luar maka juga tidak batal. Namun jika pas pertengahan dia ingat kalau sedang puasa, namun dia merasa nanggung dan diteruskan, maka batallah puasanya dan wajib baginya kaffarat. Allaahu A’lam. [MTaufikNT]

Rujukan utama: kitab at Taqrirat as Sadidah juz 1 hal 450-451

Baca Juga:

 

kitab at Taqrirat as Sadidah juz 1 hal 450-451:

clip_image002

clip_image004

 


[1] Delapan ini sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam kitab at Taqrirat as Sadidah juz 1 hal 450-451. Adapun di kitab lain ada yang menyebutkan 9, ada pula yang menyebutkan 14 syarat sebagaimana di kitab al Fiqhul Islamy wa Adillatuhu.

[2] Ini menurut Syafi’iyyah dan Hanabilah, sedangkan menurut Malikiyyah dan Hanafiyyah walau dia makan dulu baru jima’, tetap wajib kaffârat.

[3] Namun jima’ lewat (memasuki) dubur itu haram, walau diluar Ramadhan.

Iklan

Posted on 15 Mei 2017, in Ibadah and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s