Awam dan Dengki; Sulit Mencerna Informasi

Awam bukanlah suatu cela, karena setiap orang adalah orang awam dalam suatu permasalahan, walaupun bisa jadi dia ‘alim dalam permasalahan yang lain. Bahkan Rasulullah SAW yang memiliki sifat cerdas (fathônah) saja bisa keliru dalam urusan penyerbukan kurma, hingga beliau berkata “antum a’lamu bi ‘umûri dun-yâkum”, kalian lebih tahu urusan dunia kalian (yakni teknik penyerbukan kurma dan yang semisalnya). Seorang Kyai yang ‘alim, dan menguasai berbagai cabang keilmuan, bisa jadi beliau awam dalam urusan teknologi, menyimpan nomor telpon ke hp saja tidak bisa, atau beliau awam dalam urusan politik, karena membaca berita saja tidak mau, hidupnya hanya beralih dari membaca satu kitab ke kitab yang lain, ini semua pada dasarnya bukanlah ‘aib.

Permasalahan itu bertingkat-tingkat levelnya, begitu juga setiap cabang ilmu/pengetahuan ada levelnya. Disinilah kadang letak masalahnya kenapa seseorang begitu sulit menerima kebenaran yang disampaikan pihak lain, tidak lain karena belum sampai levelnya, ibarat mengajarkan penjumlahan bilangan basis dua kepada anak-anak SD, lalu gurunya mengajarkan: 1 + 1 = 10, itu tentu akan ditolak anak SD bahkan gurunya bisa disebut “guru gobl*k!”, walaupun 1 + 1 = 10 itu benar dalam basis dua.

Ada seorang ustadzah meminta pendapat ketika beliau mengisi pengajian, ada jama’ah yang selalu mendebat. Bahkan ketika membahas rukun sholat, ketika beliau bilang tidak sah sholat kalau rukunnya tidak terpenuhi, si jamaah tersebut bilang, “jangan bilang tidak sah, itu kasar ustadzah, bilang saja tidak afdhol!”. Tentu orang begini tidak bisa diajak membahas tentang wajibnya menerapkan syari’ah apalagi membahas khilafah.

Orang awam pun ada dua tipe; 1) orang awam namun dia cerdas. Orang seperti ini insya Allah bisa cepat faham jika dia serius mengkaji hal yang tidak diketahuinya. 2) orang ‘awam, namun ‘lelet’, ini perlu kesabaran lebih untuk menjelaskannya, kadang perlu diurai dari hal mendasar. Adapun yang benar-benar idiot, itu lebih susah lagi.

Hanya saja jika ‘gagal faham’nya bukan disebabkan ke’awaman dan kebodohan, namun disebabkan oleh hasad/dengki, syahwat dunia dan kedudukan, na’ûdzubillaahi min dzâlik, maka kalaupun diberikan kepadanya jawaban yang paling baik, paling fasih, dan paling nyata sekalipun, jawaban itu hanya akan menambah kemarahan, permusuhan serta kedengkiannya saja. Imam Al-Ghazali dalam Ayyuhal Walad menyatakan:

كُلُّ العَدَوَاةِ قَدْ تُرْجَى اِزَالَتُهَا *** اِلّا عَدَاوَةَ مَنْ عَادَاكَ عَنْ حَسَدٍ

Segala permusuhan itu (bisa) diharapkan akan hilang *** kecuali permusuhan orang yang memusuhimu karena dengki.

Jika demikian halnya, maka sebaiknya tidak usah dijawab dengan mendalam. Jika ‘gagal faham’nya itu dia sebarkan sehingga dia menuduhkan sesuatu tuduhan akibat kesimpulan yang gagal tersebut, cukuplah dikatakan “tuduhan itu tidak benar”, lalu diam, dan serahkan saja urusannya kepada Allah, biarlah Dia yang menjelaskan dengan cara-Nya sendiri. Allaahu A’lam. [MTaufikNT]

Baca Juga:

Iklan

Posted on 8 Mei 2017, in Afkar, Dakwah, Pendidikan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s