Berfikir Sejenak Itu Lebih Baik

Diriwayatkan dari Abdullah bin Muhammad bin Zakariya, dari Utsman bin Abdillah al-Qurasyi, dari Ishaq bin Najih al-Multhi, dari Atha al-Khurasani, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda:

فِكْرَةُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً

“Berfikir sesaat lebih baik dari pada beribadah 60 tahun” (HR. Abu Syaikh al Ashbahâny dalam al ‘Adzamah, 1/299)

Hadits ini tidak shahih menurut Imam Ibnul Jauzi (al Maudhû’ât, 3/144), karena Utsman bin Abdillah dan Ishaq bin Najih dikenal sebagai pendusta. Sedangkan Syaikh ‘Ali al Qary menyatakan ini bukan hadits (Al Mashnû’, hal 82).

 

Adapun riwayat:

تَفَكُّرُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سَنَةٍ

“Berfikir sesaat itu lebih baik daripada Ibadah setahun”. Al Fâkihâni menyatakan ini adalah perkataan Sarri as Saqathi.

Hanya saja terdapat atsar yang shahih yang menjelaskan keutamaan berfikir. Misalnya perkataan sahabat Abu Darda’ r.a:

تَفَكُّرُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ

“Berfikir sesaat lebih utama daripada ibadah satu malam.”[1]

(Riwayat Imam Ahmad dalam Az Zuhdu, Ibnu Sa’ad dalam at Thabaqat al Kubro, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya, Hanâd dalam Az Zuhdu, Abu Dawud dalam az Zuhdu, al Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Ibnu Abbas r.a juga mengatakan:

تذاكر العلم بعض ليلة أحب إلي من إحيائها

Mengingat ‘ilmu di sebagian malam, lebih aku sukai dari pada menghidupkan seluruh malam (dengan ibadah sunnah).” (Mushannaf Abdurrazaq, 11/253).

Imam as Syâfi’i menyatakan:

اسْتَعِينُوا عَلَى الْكَلَامِ بِالصَّمْتِ، وَعَلَى الِاسْتِنْبَاطِ بِالْفِكْرِ

“Mintalah bantuan untuk (pandai) berbicara dengan banyak berdiam, dan mintalah bantuan untuk (pandai) dalam melakukan istinbath (menggali hukum dari dalilnya) dengan (banyak) berfikir.” (Mau’idhatul Mu’minin, hal 310).

الفكرة سراج القلب فاذا ذهبت فلا إضاءة له

“berpikir itu (bagaikan) lentera hati, barang siapa yang kehilangan pikiran, maka tidak ada cahaya bagi hatinya” (Mawâridudh Dham’ân, 3/257).

Hanya saja keutamaan berfikir tersebut baru didapatkan jika objek berfikirnya benar, proses berfikirnya juga benar, dan dilandasi dengan aqidah yang benar.

Terkait objek berfikir, Syara’ menyuruh memikirkan alam semesta termasuk diri manusia sendiri, adapun apa-apa yang diluar indra manusia bukanlah objek berfikir secara langsung, bahkan Rasul melarang untuk memikirkan Dzat Allah.

Berfikir tentang tanda-tanda kekuasaan Allah bisa melahirkan keyakinan, berfikir tentang nikmat pemberian Allah bisa melahirkan rasa syukur, berfikir tentang janji Allah akan menguatkan motivasi, berfikir tentang ancaman Allah kepada akan melahirkan rasa takut kepada-Nya untuk melanggar perintah-Nya, begitu juga memikirkan kurangnya ketaatan kita kepada-Nya akan memberikan ‘kehidupan’ hakiki kepada kita, dengan lebih bersemangat untuk mengejar ketertinggalan kita dalam mentaati-Nya. Allaahu A’lam. [MTaufikNT]


Baca Juga:

[1] Dalambeberapa riwayat, ini juga merupakan perkataan al Hasan, juga Ibnu Abbas dengan redaksi “fikrotu saa’atin”. Iihat الأسرار المرفوعة في الأخبار الموضوعة hadits no 140.

Iklan

Posted on 6 Mei 2017, in Afkar, Akhlaq, Mutiara Hadits. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s