Kemunafikan Kita

Membaca judul ini, mungkin dalam hati  akan berkata “anda saja kali yang munafik, jangan bilang kita dong”. Nifaq (kemunafikan) itu ada dua: 1) nifaq ‘Itiqady yang menyebabkan kafir, yakni menampakkan keislaman namun dalam hati sebenarnya ingkar, dan 2) nifaq ‘amaly, yakni sifat-sifat dan perbuatan khas munafik, namun tidak sampai menjadikan orang yang melakukannya kafir.

Jika kita merasa terbebas dari kemunafikan, justru itu pertanda bahwa kita kehilangan kepekaan spiritual kita dan kita begitu dekat dengan berbagai kemunafikan itu sendiri. Bagaimana tidak, para shahabat Rasulullah saw saja begitu khawatir diri mereka tergolong orang-orang munafiq.

Ibnu Abi Mulaikah r.a berkata:

أَدْرَكْتُ ثَلَاثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ كُلَّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ

“Aku mendapati 30 orang sahabat Nabi saw, seluruhnya merasa takut terhadap nifaq atas dirinya sendiri.” (Shahih Al-Bukhari).

Bahkan sahabat selevel Umar bin Al-Khaththab r.a saja takut sikap nifak itu melekat padanya. Saat Nabi saw menyebutkan secara rahasia nama-nama orang munafik kepada Hudzaifah ibnul Yaman r.a, timbul pada diri Umar r.a rasa khawatir namanya termasuk dalam deretan orang-orang munafik yang disebutkan Rasulullah saw. Maka, beliau menanyakan langsung kepada Hudzaifah ibnul Yaman r.a. Kata Umar r.a:

أنشدك الله هل سماني لك رسول الله مع من سماهم من المنافقين؟

Saya bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apakah Rasulullah saw menyebutkan namaku kepadamu bersama dengan orang-orang munafik yang disebut beliau?.” Jawab Hudzaifah:

لا، ولا أزكى بعدك أحداً

“Tida, dan tidak ada (nama) seorang pun yang terbersihkan setelah (nama)mu.” maksudnya Hudzaifah tidak mau lagi membuka catatan untuk orang lain yang bertanya, bukan berarti tidak ada orang yang terbebas dari nifaq setelah ‘Umar r.a. [1] (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/472)

Apa yang diperbuat Umar r.a menunjukkan bahwa beliau masih khawatir kalau-kalau ada kemunafikan dalam dirinya, walau itu munafik ‘amaly. Padahal sungguh Nabi saw telah mempersaksikan bahwa dia termasuk sahabat yang mendapatkan jannah (surga). Lalu bagaimana dengan kita?

Tidakkah kita lebih pantas untuk mengkhawatirkan diri kita terjatuh dalam kemunafikan, bukan hanya ‘amaly namun juga i’tiqadi?. Celakalah diri yang menyikapi ayat-ayat yang bicara kemunafikan seolah ayat itu hanya untuk orang lain sementara dirinya pasti terjamin bersih darinya. Cermatilah diri kita ketika membaca ayat-ayat Allah SWT, apakah kita menerima ketentuan hukum-hukum-Nya, atau terbersit perasaan tidak suka dengan hukum-hukum-Nya?

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS. An Nisa: 61)

Periksa juga hati kita ketika berhadapan dengan penguasa, apakah kita lebih memilih bermanis muka lalu menyembunyikan kebenaran yang seharusnya kita sampaikan kepada mereka? Jika itu terjadi, itulah bentuk kemunafikan kita. Orang-orang berkata kepada Ibnu ‘Umar .r.a:

إِنَّا نَدْخُلُ عَلَى سُلْطَانِنَا فَنَقُولُ لَهُمْ خِلَافَ مَا نَتَكَلَّمُ إِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِهِمْ

“Sesungguhnya ketika kami masuk menemui penguasa kami, kami bicara kepadanya dengan pembicaraan yang berbeda dengan pembicaraan kami ketika telah keluar dari tempatnya.” Ibnu Umar berkata

كُنَّا نَعُدُّهَا نِفَاقًا

Kami menganggap hal ini adalah kemunafikan.” (Shahih al-Bukhari)

Dari Abdullah bin Umar bahwa Nabi SAW bersabda, “Empat hal, barangsiapa memilikinya maka ia adalah munafik tulen. Barangsiapa yang memiliki salah satu dari sifat itu, maka ia memiliki karakter munafik hingga ia melepaskannya: Jika dipercaya ia berkhianat, jika berbicara ia bohong, jika berjanji ia mengingkari, dan jika berdebat ia bertindak tak terpuji.” (Shahih al-Bukhari). Allaahu A’lam.

Baca Juga:


[1] يعنى لا أفتح على هذا الباب فى سؤال الناس لى، وليس مراده أنه لم يخلص من النفاق غيرك

Iklan

Posted on 4 Mei 2017, in Akhlaq. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s