Tenggelamnya Sebuah Kapal

Sistem yang membiarkan, bahkan melindungi terjadinya kemaksiyatan dan terabaikannya hukum-hukum Allah ‘azza wa jalla, apapun alasannya; baik beralasan karena menjunjung tinggi hak azasi manusia (HAM), menjaga kebhinekaan, ataupun alasan lainnya, pada hakikatnya pembiaran itu telah merusak eksistensi masyarakat itu sendiri. Rasulullah saw bersabda:

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنْ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ،

“Perumpamaan orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang yang melanggarnya adalah seperti suatu kaum yang mengadakan undian (untuk mendapatkan posisi) pada sebuah kapal, lalu sebagian mendapat tempat di atas, dan sebagian lagi mendapat tempat di bawah, adapun orang yang di bawah jika ingin air, maka ia harus melewati yang di atas,

maka orang yang di bagian bawah berkata,

لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا

‘seandainya aku melobangi tempat bagianku (untuk mengambil air), tentu tidaklah aku mengganggu orang yang di atas,’

فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا

jika mereka membiarkannya (melobangi kapal) maka binasalah semuanya, jika mereka mencegahnya selamatlah mereka dan selamatlah semuanya” (HR. al Bukhari, at Tirmidzi dan Ahmad).[1]

Rasulullah menggambarkan bahwa orang yang berbuat maksiyat ibarat orang yang melobangi kapal, ketika hal itu dibiarkan, jika kapal tersebut tenggelam, maka yang tenggelam bukan saja sang pelobang kapal, namun semua penumpangnya.

Kadang seseorang menolak tunduk kepada syari’at Allah didasari oleh motivasi dan niat yang ‘baik’ menurut akalnya; “tidak mengganggu orang lain”, lagian “ini kan urusan pribadi saya dengan Tuhan”, atau “ini adalah hak azasi saya”, sebagaimana alasan pembocor kapal dalam sabda Rasulullah :

لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا

‘seandainya aku melobangi tempat bagianku (untuk mengambil air), tentu tidaklah aku mengganggu orang yang di atas,’

Hanya saja apapun alasannya dalam melobangi kapal, akibat yang diterima adalah sama: tenggelam!. Jalan keselamatan yang ditunjukkan Rasulullah dalam hadits tersebut adalah dengan mencegah orang-orang yang melobangi kapal (melanggar hukum-hukum Allah), jika jalan ini tidak ditempuh, maka binasalah semuanya. Beliau katakan:

فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا

“jika mereka membiarkannya (melobangi kapal) maka binasalah semuanya, jika mereka mencegahnya selamatlah mereka dan selamatlah semuanya

Rasulullah tidak menyebutkan penggantian nakhoda sebagai solusi. Siapapun nakhodanya, jika pembocoran kapal (pelanggaran hukum-hukum Allah) dibiarkan, bahkan nakhodanya sendiri ikut melobangi kapal bahkan membuat undang-undang yang membebaskan penumpang untuk melobangi kapal dengan alasan hak azasi manusia, menjaga ‘keutuhan kapal’, atau menjaga kebhinekaan penumpang kapal; “perbedaan pendapat tentang melobangi kapal itu harus dijaga, bagi yang berpendapat melobangi kapal itu harom harus menghormati dan mentolerir pendapat bahwa melobangi kapal itu untuk memudahkan orang mengambil air, dan agar tidak menggagu orang yang di atas”, maka baik nakhodanya ahli perkapalan, ‘ulama, atau ahli-ahli yang lain, tidak akan mampu mengantarkan dirinya dan penumpang kapal kepada keselamatan. Rasulullah tegaskan:

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan mereka memilih-milih apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka. (HR Ibnu Majah dg sanad hasan).

Oleh karena itu, melalaikan atau menganggap remeh perubahan sistem, lalu mengalokasikan sebagian besar sumberdaya untuk fokus kepada penggantian nakhoda (pemimpin), pada hakikatnya tidak akan menyelesaikan masalah bocornya kapal!. Allaahu A’lam. [MTaufikNT]

Baca Juga:


[1] -[ش (القائم على حدود الله) المستقيم مع أوامر الله تعالى ولا يتجاوز ما منع الله تعالى منه والآمر بالمعروف الناهي عن المنكر. (الواقع فيها) التارك للمعروف المرتكب للمنكر. (استهموا) اقترعوا ليأخذ كل منهم سهما أي نصيبا. (أخذوا على أيديهم) منعوهم من خرق السفينة]

Iklan

Posted on 20 April 2017, in Mutiara Hadits. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s