Kriteria Mampu yang Wajib Berhaji

Haji dan umroh[1] adalah kewajiban (sekali dalam seumur hidup) bagi yang memenuhi syaratnya yakni 1) beragama Islam, 2) baligh , 3) berakal (tidak gila), 4) merdeka (bukan budak), dan 5) mampu.[2]

Jika kelima syaratnya terpenuhi pada diri seseorang, namun dia tidak berhaji, maka dia berdosa.

Adapun kriteria seseorang dikatakan mampu adalah:

1. ada bekal dan kendaraan[3].

Yakni memiliki harta yang cukup untuk berangkat, sampai dengan pulang, dan masih ada kelebihan untuk nafkah tanggungan yang ditinggalkan semasa haji/umroh, termasuk nafkah disini adalah pakaian, upah dokter (kalau ada keluarga yang sakit), juga upah pembantu, juga harus lebih dari jumlah hutang dia, baik hutang ke manusia atau hutang kepada Allah (semisal nadzar, kaffarat dll), baik hutang itu harus segera dibayar ataupun bertempo.

Jika ada harta yang cukup, namun dia memerlukan rumah yang memadai untuk tinggal, atau perlu mengupah pembantu, maka jika hal itu mengurangi hartanya hingga tidak mencukupi lagi, maka tidak wajib baginya berhaji.

Jika ada harta yang cukup, namun dia ingin menikah karena takut terjerumus kepada keharoman, maka dia tetap wajib berhaji, namun kewajibannya diakhirkan sementara nikahnya yang didahulukan.[4]

Jika ada harta yang cukup namun harta tersebut dalam bentuk perniagaan dia, maka wajib dia gunakan (tashorrufkan) harta itu untuk haji dan umroh, begitu juga jika dia punya tanah yang dia garap yang mencukupi untuk biaya haji, maka wajib pula dia jual untuk menunaikan ibadah haji. Berbeda halnya dengan rumah dan (upah) pembantu, maka tidak wajib dia menjual rumahnya untuk biaya pergi berhaji.

Akan tetapi  jika dia memiliki dua buah rumah, yang mana satu rumah saja sudah mencukupi untuk dirinya dan tanggungannya, maka jika dengan menjual salah satu rumahnya akan mencukupinya untuk berhaji, maka dia wajib menjualnya untuk biaya berhaji.

Jika seseorang tidak memiliki harta yang cukup, namun memiliki pekerjaan yang hasilnya mencukupi dia dan tanggungannya, maka tidak wajib baginya berhaji, walaupun disunnahkan baginya berhaji, namun tidak wajib baginya berhutang untuk biaya haji.

Jika seseorang sudah mampu berhaji namun tidak segera berhaji, kemudian dia bangkrut, maka dia tetap wajib keluar untuk berangkat haji, dan memungkinkan baginya mengambil harta zakat dan shadaqah untuk berhaji, jika tidak juga berhaji maka dia mati dalam keadaan maksiyat, karena tidak berhaji padahal sudah mampu, dan meremehkan kewajiban haji. Bersambung. [MTaufikNT]

Rujukan:

  • Al Mu’tamad fil Fiqh as Syafi’i, jilid 2 hal 269 dst.
  • Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah
  • Bughyatul Musytarsyidin

Baca Juga:

Beberapa Pertanyaan terkait (di Facebook penulis):

Hayatus Shalehah Kalau tanah yang digarap dijual lantas bagaimana penghidupan keluarga yg ditinggal ya ustadz?
Mohon maaf ini baru bagi sy

M Taufik Nusa T Imam An Nawawi, Al Majmu Syarh al Muhadzdzab, 7/73. Maktabah Syamilah menyatakan:
Bila seseorang punya barang (mobil, pekarangan, dll) namun barang tersebut sebagai alat pencaharian untuk nafkah dirinya dan orang yang wajib di nafkahinya, atau dia punya perniagaan namun perniagaan tersebutlah yang menjadi nafkah diri dan keluarganya, sementara tidak ada harta lain untuk berhaji, wajibkah dia berhaji (dengan menjual barang tersebut)?
Dalam hal ini ada dua pendapat yang masyhur dalam madzhab as Syafi’i:
1) Tidak wajib, ini adalah pendapat Ibnu Syuraij yang di shahihkan oleh Al Qodliy Abu Thayyib, Ar Rûyâny dan imam as Syâsyiy….
2) Wajib dijual, dan inilah yang benar menurut Imam an Nawawi, Imam ar Râfi’i dan mayoritas Ulama madzhab Syafi’i, dan pendapat ini pula yang mu’tamad menurut syaikh Wahbah az Zuhaili. (ini tentunya jika nafkah keluarga tercukupi saat ditinggal haji, hutang terlunasi, dan kebutuhan tempat tinggal dan pembantu juga terpenuhi). Allaahu A’lam.
Alasan selengkapnya bisa dibaca berikut:

قَالَ أَصْحَابُنَا إذَا كَانَتْ لَهُ بِضَاعَةٌ يكسب بِهَا كِفَايَتَهُ وَكِفَايَةَ عِيَالِهِ أَوْ كَانَ لَهُ عَرَضُ تِجَارَةٍ يُحَصِّلُ مِنْ غَلَّتِهِ كُلَّ سَنَةٍ كفاية وَكِفَايَةَ عِيَالِهِ وَلَيْسَ مَعَهُ مَا يَحُجُّ بِهِ غَيْرُ ذَلِكَ وَإِذَا حَجَّ بِهِ كَفَاهُ وَكَفَى عياله ذاهبا وراجعا ولا يفضل شئ فَهَلْ يَلْزَمُهُ الْحَجُّ فِيهِ هَذَانِ الْوَجْهَانِ اللَّذَانِ ذَكَرَهُمَا الْمُصَنِّفُ وَهُمَا مَشْهُورَانِ
(أَحَدُهُمَا)
لَا يَلْزَمُهُ وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ سُرَيْجٍ وَصَحَّحَهُ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ وَالرُّويَانِيُّ وَالشَّاشِيُّ قَالَ لِأَنَّ الشَّافِعِيَّ قَالَ فِي الْمُفْلِسِ يُتْرَكُ لَهُ مَا يَتَّجِرُ بِهِ لِئَلَّا يَنْقَطِعَ وَيَحْتَاجَ إلَى النَّاسِ فَإِذَا جَازَ أَنْ يَقْطَعَ لَهُ مِنْ حَقِّ الْغُرَمَاءِ بِضَاعَةً فَجَوَازُهُ فِي الْحَجِّ أَوْلَى (وَالثَّانِي) وَهُوَ الصَّحِيحُ يَلْزَمُهُ الْحَجُّ لِأَنَّهُ وَاجِدٌ لِلزَّادِ وَالرَّاحِلَةِ وَهُمَا الرُّكْنُ الْمُهِمُّ فِي وُجُوبِ الْحَجِّ قَالَ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ وَلَوْ لَمْ نَقُلْ بِالْوُجُوبِ لَلَزِمَ أَنْ نَقُولَ مَنْ لَا يُمْكِنُهُ أَنْ يَتَّجِرَ بِأَقَلَّ مِنْ أَلْفِ دِينَارٍ لَا يَلْزَمُهُ الْحَجُّ إذَا مَلَكَهَا وَهَذَا لَا يَقُولُهُ أَحَدٌ قَالَ أَصْحَابُنَا وَالْفَرْقُ بَيْنَ هَذَا وَبَيْنَ الْمَسْكَنِ وَالْخَادِمِ أَنَّهُ مُحْتَاجٌ إلَيْهِمَا فِي الْحَالِ وَمَا نَحْنُ فِيهِ نَجِدُهُ ذَخِيرَةً قَالَ الْمَحَامِلِيُّ وَالْأَصْحَابُ وَأَمَّا مَا ذَكَرَهُ الشَّافِعِيُّ فِي بَابِ التَّفْلِيسِ فَمُرَادُهُ انه يترك له ذلك برضي الْغُرَمَاءِ فَأَمَّا بِغَيْرِ رِضَاهُمْ فَلَا يُتْرَكُ وَهَذَا الَّذِي صَحَّحْنَاهُ مِنْ وُجُوبِ الْحَجِّ هُوَ الصَّحِيحُ عند جماهير الاصحاب فمن صححه الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ وَالْبَنْدَنِيجِيّ وَالْمَاوَرْدِيُّ وَالْمَحَامِلِيُّ وَالْقَاضِي حُسَيْنٌ فِي تَعْلِيقِهِ وَالْمُتَوَلِّي وَصَاحِبُ الْبَيَانِ وَالرَّافِعِيُّ وَآخَرُونَ قَالَ صَاحِبُ الْحَاوِي هَذَا مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَجُمْهُورِ أَصْحَابِهِ سِوَى ابْنِ سُرَيْجٍ
Haris Fadil Bagaimana dengan haji atau umrah dibiayai dengan berhutang, fasilitas tersebut dari travel, sesudah umrah atau haji baru dilunasi dengan mencicil

M Taufik Nusa T Boleh saja kalau dia punya penghasilan yg cukup untuk membayarnya (nyicil) dan menafkahi keluarganya. Bahkan itu mustahab.

Zuraifa Bagamana sekarang yg daftar hajinya nunggu 20 th? Jika ia meninggal sebelum berhaji?
M Taufik Nusa T Insya Allah sudah terlepas dari dosa, ahli waris bisa melakukan badal haji untuk ortunya

———–

[1] Yakni umroh yang dilakukan bareng haji. Jika umroh terpisah dari haji maka hukumnya sunnah.

[2] Surah Ali ‘Imran 97

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah;

[3] adanya kendaraan itu syarat kewajiban untuk orang yang diluar Makkah dan sekitarnya.

[4] Al Majmu’, 7/51

Iklan

Posted on 12 April 2017, in Ibadah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s