Di Bawah Panji Rasulullah

Diantara do’a yang biasa dipanjatkan kaum muslimin dalam do’a setelah shalat tarawih adalah

وَتَحْتَ لَوَاءِ سيدنا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ

(Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang) yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat.

“Di bawah bendera apa” kita hidup di dunia saat ini, turut menentukan “di bawah bendera apa” nantinya kita hidup di akhirat.

Dari Abu Sa’id Al Kudriy radhiyallahu’anhu,

لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرْفَعُ لَهُ بِقَدْرِ غَدْرِهِ، أَلَا وَلَا غَادِرَ أَعْظَمُ غَدْرًا مِنْ أَمِيرِ عَامَّةٍ

“Setiap pengkhianat memiliki panji pada hari kiamat, yang akan dikibarkan setinggi-tingginya sesuai kadar pengkhianatannya. Ketauhilah tidak ada pengkhianat yang lebih besar penghianatannya daripada pengkhianatan seorang pemimpin kepada rakyatnya.” (HR. Muslim).

Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al Anfâl: 27).

Ibnu Abbas r.a, ketika menafsirkan ayat ini menyatakan:

الْأَمَانَةُ الْأَعْمَالُ الَّتِي ائْتَمَنَ اللَّهُ عَلَيْهَا الْعِبَادَ -يَعْنِي الْفَرِيضَةَ

“Al amânah adalah amal-amal yang telah Allah percayakan kepada hamba (untuk melaksanakannya) – yakni kewajiban.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/41. Maktabah Syamilah)

Pantaskah seseorang berharap kelak di akhirat berada dibawah panji Rasulullah, sementara dalam kehidupan dunia saat ini, dia lebih memilih berada dibawah ‘panji-panji’ penghianatan; ridho dengan diabaikannya kewajiban-kewajiban dari Allah, ditelantarkannya hukum-hukum syari’ah, dan dikriminalisasikannya orang-orang yang mengajak kepada penerapan syari’ah?

Pantaskah seseorang berharap kelak di akhirat berada dibawah panji Rasulullah, sementara panji Rasulullah yang di dunia dihinakannya dan diberi label yang buruk?

Yunus bin ‘Ubaid pernah menanyakan kepada Al Barra` bin ‘Azib mengenai panji (bendera) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian ia berkata;

كَانَتْ سَوْدَاءَ مُرَبَّعَةً مِنْ نَمِرَةٍ

(panji (rôyah) beliau saw) berwarna hitam, persegi panjang, terbuat dari namirah[1]. [HR. Abu Dawud, at Tirmidzi dan Ahmad, At Tirmidzi menghasankannya, beliau juga bertanya kepada Imam al Bukhary tentang hadits ini, dan al Bukhary menyatakan: “dia (hadits ini) hasan” (al ‘Ilal al Kabir hal 277)].

Dari Ibn Abbas –radhiyaLlâhu ’anhu-:

كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ، مَكْتُوبٌ عَلَيْهِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ

“Panji (râyah)nya Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- berwarna hitam, dan liwâ’ (panji yang lebih lebar dari raya) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “lâ ilâha illaLlâh Muhammad RasûluLlâh”.” (HR. Al-Thabrani)

Memang panji-panji yang lain hukumnya boleh, sebagai tanda pengenal suatu suku/bangsa, sebagaimana disamping panji-panji hitam, Rasulullah juga pernah mengikatkan panji berwarna kuning kepada kaum Anshor juga panji berwarna merah kepada Bani Sulaim[2].

Hanya saja, tidak boleh panji-panji kabilah, kesukuan dan kebangsaan tersebut disikapi dengan fanatik buta, dibela mati-matian semata-mata hanya karena fanatik kesukuan dan kebangsaan, tanpa memandang apakah pembelaan tersebut atas dasar kebenaran dari Allah ataukah tidak.

Jundab bin Abdullah Al Bajali berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ،[3] يَدْعُو عَصَبِيَّةً، أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً، فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

“Barangsiapa terbunuh dibawah panji ‘immiyyah (fanatik buta), yang menyeru kepada kebangsaan, atau membela karena , maka matinya seperti mati Jahiliyyah.” (HR. Muslim). Allaahu A’lam. [MTaufikNT]

Baca Juga:

[1] Namiroh adalah kain yang bergaris hitam putih yang terbuat dari wol dan sejenisnya

[2] Yang ini memang sanadnya ada kelemahan

[3] (عمية) هي بضم العين وكسرها لغتان مشهورتان والميم مكسورة والياء مشددة أيضا قالوا هي الأمر الأعمى لا يستبين وجهه كذا قاله أحمد بن حنبل والجمهور قال إسحاق بن رهويه هذا كتقاتل القوم للعصبية

Iklan

Posted on 7 April 2017, in XYZ(Matematika, Komputer dll). Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s