Batasan Ketaatan Kepada Penguasa (Ulil Amri)

Kewajiban untuk taat kepada penguasa (ulil amri) adalah hal yang sudah umum diketahui umat Islam, kewajiban ini tetap berlaku baik mereka senang dengan penguasa ataupun tidak, baik penguasanya adil maupun dzalim. Banyak dalil yang menunjukkan hal ini, misalnya dalam shahih al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلّاَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa melihat sesuatu yang dibenci (tidak disukai) dari pemimpinnya, hendaklah ia bersabar atasnya. Sebab, barang siapa memisahkan diri dari jamaah[1] satu jengkal lantas mati, itu adalah kematian jahiliah.”

Atau juga sabda beliau:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا. قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ، وَسَلُوا اللَّهَ حَقَّكُمْ

“Sesungguhnya sepeninggalku, kalian akan melihat sikap (penguasa) yang mementingkan diri sendiri[2] dan banyak perkara yang kalian mengingkarinya.” Para sahabat bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami (kalau itu terjadi), wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tunaikanlah hak mereka dengan baik dan mohonlah hak kalian kepada Allah.” (HR. al Bukhari dan Muslim, lafadznya menurut al Bukhari)

Imam An-Nawawi (w. 676H) ketika menjelaskan hadits ini berkata:

وَفِيهِ الْحَثُّ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ الْمُتَوَلِّي ظَالِمًا عَسُوفًا فَيُعْطَى حَقَّهُ مِنَ الطَّاعَةِ وَلَا يُخْرَجُ عَلَيْهِ وَلَا يُخْلَعُ بَلْ يُتَضَرَّعُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي كَشْفِ أَذَاهُ وَدَفْعِ شَرِّهِ وَإِصْلَاحِهِ

“Dalam hadits ini ada anjuran untuk selalu mendengar dan taat, meskipun pemimpinnya zalim dan sangat aniaya, maka (tetaplah) diberikan ketaatan yang menjadi haknya, tidak keluar dari ketaatan kepada nya, dan tidak melepaskan (bai’at) darinya, namun (hendaklah) memohon dg merendah diri kepada Allah Ta’ala agar menyingkirkan gangguannya, menolak keburukannya dan memperbaikinya”. (Syarh Shahih Muslim, 12/233)[3]

Batas Ketaatan

Hanya saja, ketaatan kepada pemimpin (penguasa) tersebut ada batasannya. Batasannya tidak lain adalah: pertama, bukan dalam perkara kemaksiyatan, kedua penguasa/pemimpin tersebut tidak melakukan kekufuran yang nyata atau mengubah pilar-pilar Islam, ketiga, dalam kasus al hukkâm (penguasa yang punya hak untuk melakukan legislasi), dia tidak kehilangan salah satu dari syarat-syarat in’iqad (syarat pengangkatan).

Tentang batasan pertama, Rasulullah saw bersabda,

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

“Tidak ada kewajiban ta’at dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (bukan maksiat).” (HR. al Bukhari).

Terkait batasan kedua, dalam Shahih al Bukhari, dari Ubadah bin Shamit r.a, terkait bai’at, beliau berkata:

وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْراً بَوَاحاً عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ

“…agar kami tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya, (Beliau saw berkata) kecuali jika kalian melihat kekufuran yang jelas, dan kalian memiliki bukti dari Allah tentangnya.”

Juga riwayat Ummu Salamah r.a bahwa Rasulullah saw bersabda:

سَتَكُوْنُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُوْنَ وَتُنْكِرُوْنَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ. قَالُواْ: أَفَلاَ نُقَاتِلُهُمْ؟ قال: لاَ، مَا صَلَّوْا

“Akan ada para pemimpin, lalu kalian mengetahui (perbuatan munkar mereka) dan kalian mengingkarinya. Barangsiapa mengetahui, maka dia telah terbebas (dari dosa dan siksa). Dan barangsiapa mengingkari, maka dia telah selamat. Tapi barangsiapa ridha dan mengikuti (maka dia tidak terbebas dan tidak selamat).” Para sahabat berkata: “Tidakkah kami memerangi mereka?” Beliau berkata: “Tidak, selama mereka masih shalat.” (HR. Muslim)

Imam an Nawawi menjelaskan:

أَنَّهُ لَا يَجُوزُ الْخُرُوجُ عَلَى الْخُلَفَاءِ بمجرد الظلم أو الفسق مالم يغيروا شيئا من قواعد الإسلام

Bahwasanya tidak boleh keluar dari keta’atan kepada para khalifah hanya karena kedzaliman dan kefasikan mereka saja, selama mereka tidak merubah sesuatu dari dasar-dasar Islam. (Imam An Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 12/243). [4]

Begitu juga ketika menjelaskan hadits

«إِنْ أُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ مُجَدَّعٌ – حَسِبْتُهَا قَالَتْ – أَسْوَدُ، يَقُودُكُمْ بِكِتَابِ اللهِ تَعَالَى، فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا»

Sekalipun kalian dipimpin oleh seorang hamba (budak) yang terpotong (hidung, telinga dan pinggir bibirnya) -namun saya (Yahya bin Hushain) mengira dia (Ummul Hushain) berkata; (budak) hitam- tetapi dia memimpin dengan Kitabullah, maka dengarkan dan taatilah dia.” (HR. Muslim).

Imam an Nawawi berkata:

قَالَ الْعُلَمَاءُ مَعْنَاهُ مَا دَامُوا مُتَمَسِّكِينَ بِالْإِسْلَامِ وَالدُّعَاءِ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى أَيِّ حَالٍ كَانُوا فِي أَنْفُسِهِمْ وَأَدْيَانِهِمْ وَأَخْلَاقِهِمْ وَلَا يُشَقُّ عَلَيْهِمُ الْعَصَا بَلْ إِذَا ظَهَرَتْ مِنْهُمُ الْمُنْكَرَاتُ وُعِظُوا وَذُكِّرُوا

“Para ‘ulama mengatakan bahwa maksudnya adalah selama pemimpin itu berpegang teguh kepada Islam dan menyeru kepada kitabullah ta’ala, bagaimanapun kondisi (fisik mereka), keberagamaan mereka, dan perangai mereka, janganlah mereka (umat Islam) memberontak, akan tetapi jika nampak kemungkaran dari mereka (pemimpin), mereka dinasehati dan diingatkan” (Syarh Shahih Muslim, 9/47).

Sekilas memang ada kontradiksi, bagaimana bisa dikatakan “selama pemimpin itu berpegang teguh kepada Islam dan menyeru kepada kitabullah ta’ala”, dengan kalimat “bagaimanapun kondisi keberagamaan mereka dan perangai mereka padahal tidaklah itu berkontradiksi. Kalimat pertama menunjukkan bahwa dalam mengatur negara, mereka masih menjadikan Islam dan kitabullah sebagai rujukan, sementara kalimat kedua menunjukkan prilaku mereka secara pribadi atau terkait rakyat namun tidak ada kekufuran yang nyata, sebagaimana hadits-hadits dan penjelasan sebelumnya.

Sebagai contoh, seorang pemimpin, walaupun dia pernah kedapatan mabuk, tetaplah wajib ditaati perintahnya asalkan dia masih memberlakukan hukum-hukum Allah swt, dan perintahnya tidak menyuruh berbuat kemaksiyatan. Berbeda halnya dengan pemimpin yang menghalalkan khamr (miras) dan melegalkannya, walaupun dia tidak pernah meminumnya, maka gugur kewajiban taat kepadanya, bahkan dalam kondisi seperti ini dia wajib dipecat, karena menghalalkan yang jelas haram menyebabkannya jatuh kepada kekafiran. [5]

Oleh karena itu dengan tegas Al-Atsari dalam kitab Al-Wajîz fî ‘Aqîdah As-Salaf Ash-Shâlih Ahl As-Sunnah wa Al-Jamâ’ah menyatakan:

وأما من عطل منهم شرع الله ولم يحكم به وحكم بغيره؛ فهؤلاء خارجون عن طاعة المسلمين فلا طاعة لهم على الناس؛ لأنهم ضيعوا مقاصد الإمامة التي من أجلها نُصبوا واستحقوا السمع والطاعة وعدم الخروج

Adapun, siapa saja diantara mereka (penguasa) yang memberhentikan syari’at Allah swt, dan tidak berhukum berdasarkan syari’at Allah (tapi) berhukum dengan selain hukum Allah swt, maka mereka itu tidak berlaku ketaatan kaum muslimin (kepada mereka), tidak ada kewajiban ta’at bagi kaum muslimin terhadap mereka, karena mereka telah menghilangkan tujuan dari imamah (yaitu menerapkan syari’at), dimana untuk itulah mereka diangkat dan diberikan ketaatan dan kepatuhan terhadap mereka, serta (karena itulah) tidak boleh keluar (dari ketaatan).[6]

Sedangkan batasan ketiga, yakni penguasa tidak kehilangan syarat-syarat ‘in’iqad, jika penguasa menjadi gila, atau tertawan musuh sehingga dia dipaksa mengikuti kemauan musuh, atau dia menjadi kafir, maka tidak wajib lagi mentaatinya. Adapun syarat-syarat in’iqad yang lainnya ada perincian yang lebih detil.

Imam an Nawawi (w. 676H) mengutip pernyataan Qadli Iyadl (w. 544H) yang berkata:

أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الْإِمَامَةَ لَا تَنْعَقِدُ لِكَافِرٍ وَعَلَى أَنَّهُ لَوْ طَرَأَ عَلَيْهِ الْكُفْرُ انْعَزَلَ

“Para ulama telah sepakat (ijma’) bahwa kepemimpinan tidak sah diberikan kepada orang kafir, dan mereka juga sepakat bahwa seandainya terjadi kekufuran atasnya, maka ia wajib dipecat”. (Imam Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, 12/229, Maktabah Syamilah).

Wajib Ta’at, Namun Wajib Pula Meluruskan

Jika seorang pemimpin masih menjalankan hukum-hukum Allah, merujuk kepada kitabullah dalam mengatur berbagai urusan, namun mereka melakukan kedzaliman yang tidak mengeluarkan mereka dari Islam, maka umat disamping ta’at dalam perkara yang bukan maksiyat juga punya kewajiban besar untuk megingatkannya.

Jika yang disampaikan hanya mementingkan ketaatan saja tanpa membahas sisi ini, maka pada dasarnya sama dengan menjerumuskan penguasa, mendorong mereka menjadi Fir’aun-Fir’aun gaya baru.

Ketika seseorang tidak melakukan pengingkaran, justru menunjukkan keridhaan maka sikap ini pada hakikatnya telah mencelakakan diri sendiri, mencelakakan penguasa dzalim tersebut hingga mereka senang bergelimang dg kedzalimannya, dan lebih dari itu berarti pula menghancurkan tatanan kehidupan bermasyarakat.

Merusak diri sendiri, karena sebagaimana sabda Rasulullah dari Ummu Salamah sebelumnya, dalam hal ini Imam an Nawawi[7] menjelaskan:

Ungkapan “Barangsiapa mengetahui, maka dia telah terbebas” maksudnya adalah:

فَمَنْ عَرَفَ الْمُنْكَرَ وَلَمْ يَشْتَبِهْ عَلَيْهِ فَقَدْ صَارَتْ لَهُ طَرِيْقُ الْبَرَاءَةِ مِنْ إثْمِهِ وَعُقُوبَتِهِ بِأَنْ يُغَيِّرَهُ بِيَدِهِ أَوْ بِلِسَانِهِ فَإنْ عَجِزَ فَلْيَكْرَهُه بِقَلْبِهِ

“Barangsiapa mengetahui kemunkaran dan tidak meragukannya (bahwa itu benar-benar munkar), maka itu telah menjadi jalan baginya menuju kebebasan dari dosa dan hukuman karena dia dapat merubahnya dengan tangannya atau lisannya. Dan jika dia tidak mampu, hendaklah dia membencinya dengan hatinya.”

Adapun ungkapan “Tapi barangsiapa ridha dan mengikuti (dia tidak terbebas dan tidak selamat)”, maksudnya:

ولَكِنَّ الْإِثْمَ وَالْعُقُوبَةَ عَلَى مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ مَنْ عَجَزَ عَنْ إِزَالَةِ الْمُنْكَرِ لَا يأثم بمجرد السكوت بل إنما يأثم بالرضى به أو بأن لا يَكْرَهَهُ بِقَلْبِهِ أَوْ بِالْمُتَابَعَةِ عَلَيْهِ

“Akan tetapi dosa dan sanksi adalah bagi siapa yang ridho dan mengikuti (penyimpangan penguasa), dan disini ada dalil bahwa orang yang tidak punya kemampuan menghilangkan kemungkaran tidaklah dia berdosa dengan diamnya semata, akan tetapi dia berdosa dengan ridhonya dia atau dengan tidak membenci kemungkaran itu dg hati atau dengan mengikutinya. (Syarh Shahih Muslim, 12/243).

Mendiamkan kemungkaran, apalagi kemungkaran penguasa, sama artinya dengan membiarkan ‘tenggelam’nya masyarakat. Rasulullah menyatakan:

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْمُدْهِنِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فِي الْبَحْرِ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا يَصْعَدُونَ فَيَسْتَقُونَ الْمَاءَ فَيَصُبُّونَ عَلَى الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا فَقَالَ الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا لَا نَدَعُكُمْ تَصْعَدُونَ فَتُؤْذُونَنَا فَقَالَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا فَإِنَّا نَنْقُبُهَا مِنْ أَسْفَلِهَا فَنَسْتَقِي فَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ فَمَنَعُوهُمْ نَجَوْا جَمِيعًا

“Perumpamaan mereka yang menegakkan hukum dan berjalan di atasnya adalah bagaikan suatu kaum yang berada di atas perahu di tengah hamparan lautan yang luas. Sebagian dari mereka bertempat di atasnya dan sebagian yang lain berada di bawah. Mereka yang berada di bawah apabila membutuhkan air, maka mereka akan naik ke atas lalu menimba air sehingga mengganggu mereka yang berada di atas. Maka orang-orang yang berada di atas pun berkata, ‘Kami tidak akan membiarkan kalian naik ke atas sehingga kalian menyusahkan kami.’ Sedangkan mereka yang berada di bawah juga berkata, ‘Kalau begitu, maka kami akan membuat lubang di bawah sehingga memudahkan kami untuk mengambil air.’ Maka apabila mereka mencegahnya, niscaya mereka semua akan selamat. Namun bila mereka meninggalkannya, niscaya mereka semua akan tenggelam.” (HR. at Tirmidzi, ia berkata; Ini adalah hadits hasan shahih).

Oleh sebab itu, kita melihat betapa para ‘ulama dahulu begitu perhatian terhadap perkara kemungkaran penguasa ini, walaupun kemungkarannya tidak sampai mengeluarkan penguasa dari Islam. Bahkan sikap mereka bisa berujung pada kesulitan dan siksaan dari penguasa, padahal penguasa yang mereka nasehati adalah penguasa yang menjadikan kitabullah dalam mengatur kehidupan bernegara. Imam an Nawawi sampai diusir gara-gara mengkritik kebijakan negara yang memungut biaya jihad ke rakyata jelata yang susah, padahal itu untuk jihad, bukan untuk plesiran!. Allaahu A’lam. [MTaufikNT]

Baca Juga:

[1] Jama’ah di sini adalah jama’ah kaum muslimin, yakni negara yang melingkupi kaum muslimin, bukan kelompok atau organisasi tertentu.

[2] Yakni mementingkan diri sendiri dalam urusan harta dari baitul mal. Imam an Nawawi:

وَتَقَدَّمَ قَرِيبًا ذِكْرُ اللُّغَاتِ الثَّلَاثِ فِي الْأَثَرَةِ وَتَفْسِيرِهَا وَالْمُرَادُ بِهَا هُنَا اسْتِئْثَارُ الْأُمَرَاءِ بِأَمْوَالِ بَيْتِ الْمَالِ

[3] Imam an Nawawi (w. 676 H), Syarh Shahih Muslim, 12/233. Maktabah Syamilah.

[4] Imam An Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 12/243. Dâru Ihyâit Turâts. Maktabah Syamilah

[5] Berbeda halnya jika dia terpaksa dan tidak ridho dengan aturan kufur, maka tidak jatuh kedalam kekafiran.

[6] Al-Wajîz fî ‘Aqîdah As-Salaf Ash-Shâlih Ahl As-Sunnah wa Al-Jamâ’ah, 1/162. Maktabah Syâmilah.

Imam Ibnu Katsir bahkan pernyataannya lebih tegas lagi:

ينكر تعالى على من خرج عن حكم الله المحكم المشتمل على كل خير، الناهي عن كل شر وعدل إلى ما سواه من الآراء والأهواء والاصطلاحات، التي وضعها الرجال بلا مستند من شريعة الله، … ومن فعل ذلك منهم فهو كافر يجب قتاله، حتى يرجع إلى حكم الله ورسوله، فلا يحكم بسواه في قليل ولا كثير

Allah mengingkari siapa-siapa saja yang tidak menerapkan hukum Allah swt yang jelas, yang mencakup setiap kebaikan dan mencegah dari setiap keburukan, serta berpaling kepada selainnya yang berupa pendapat, hawa nafsu, dan istilah-istilah yang ditetapkan oleh manusia tanpa bersandar kepada syari’at Allah swt. … dan siapa saja melakukan hal tersebut diantara mereka maka ia telah kafir wajib diperangi hingga kembali menerapkan hukum Allah swt dan Rasul-Nya saw, maka tidak boleh berhukum kepada selain hukum Allah swt, baik sedikit maupun banyak… (ini jika menerapkan hukum selain syari’ah Allah dan menghalalkan berhukum dengan hukum tersebut, senang dan ridho dengan hukum tersebut)

[7] Imam An Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 12/243. Dâru Ihyâit Turâts. Maktabah Syamilah

Iklan

Posted on 5 April 2017, in Politik, Syari'ah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s