Menata Rasa, Menjauhi Jerat Harta

Sebenarnya sangat manusiawi jika seseorang merasa kagum kepada kekayaan orang-orang kaya. Namun rasa kagum ini jika tidak ditata, akan merusak kehidupan dan menghancurkan kebahagiaan orang yang bersangkutan.

Rasa kagum terhadap banyaknya harta akan mendorong manusia beraktivitas mengumpulkan harta, jika ini menjadi prioritas utama dalam hidup maka jangankan yang halal, yang harampun akan dikejar. Rasulullah bersabda:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau yang haram.” (HR. al Bukhari)

Akibatnya walaupun tidak sedikit koruptor ditangkap, minat korupsi makin meningkat. Walaupun banyak contoh fakta riba meluluhlantakkan kehidupan ekonomi dan merusak silaturahmi, namun praktek riba makin menggila, ini semua salah satunya karena rasa kagum yang tak tertata.

Harta haram adalah ibarat racun yang mematikan, dan berbagai kemewahan yang diperoleh ibarat sirup manis yang menggiurkan. Ketika racun ini bercampur sirup, yang terasa hanyalah manis, rasa yang diinginkan oleh setiap orang. Sebagian orang menikmatinya tanpa sadar, dan akhirnya menggelepar kesakitan, sebagian yang lain secara sadar meminumnya, walaupun tahu resikonya, namun rasa manis telah menguasai akalnya, “walaupun mati, aku ingin tetap menikmatinya” kata mereka.

Tidak ada cara efektif untuk menghindari jerat dan godaannya kecuali dengan mengokohkan pemahaman dan keyakinan bahwa sirup tersebut beracun, lalu setelah itu menata rasa agar sesuai dengan pemahaman tersebut. Rasulullah menyatakan:

وَلَا يَكْسِبُ عَبْدٌ مَالًا مِنْ حَرَامٍ، فَيُنْفِقَ مِنْهُ فَيُبَارَكَ لَهُ فِيهِ، وَلَا يَتَصَدَّقُ بِهِ فَيُقْبَلَ مِنْهُ، وَلَا يَتْرُكُ خَلْفَ ظَهْرِهِ إِلَّا كَانَ زَادَهُ إِلَى النَّارِ

Dan tidaklah seorang hamba mencari harta yang haram, lalu membelanjakannya lantas ia diberkahinya dan tidaklah bersedekah lantas diterima darinya dan tidaklah ia meninggalkan di belakang punggungnya (mewariskannya) melainkan akan menambahnya ke neraka. (HR. Ahmad)

Tidak ada keuntungan sama sekali mengejar harta haram, mengejarnya saja sudah berdosa, jika berhasil mendapatkannya akan tambah bermasalah; dipakai akan menghilangkan berkah, disedekahkan tidak akan diterima, dan kalau tidak dipakai bakalan jadi bekal ke neraka!. Jika pemahaman ini tertancap kuat dalam benak seseorang, maka dia akan menghindari harta haram sekuat tenaga, bahkan yang samar pun akan dihindarinya.

Abu Bakar r.a pernah terlanjur memakan suatu makanan hadiah dari budaknya, setelah tahu makanan tersebut dari pekerjaan yang tidak benar, beliau memasukkan jari tangan beliau ke dalam mulut, lalu beliau memuntahkan semua makanan dalam perut beliau. Lalu beliau mengatakan:

لَو لم تخرج إِلَّا مَعَ نَفسِي لأخرجتها إِنِّي سَمِعت رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم يَقُول كل جَسَد نبت من سحت فَالنَّار أولى بِهِ

“Andai makanan tersebut tidak keluar kecuali dengan nyawaku, niscaya aku akan tetap mengeluarkannya, karena aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Setiap anggota tubuh yang tumbuh dari sesuatu yang haram, api neraka itu lebih utama baginya”. (Al Kabâir lidz Dzahabi, hal 120. Maktabah Syamilah). [MTaufikNT]

Baca Juga:

Iklan

Posted on 30 Maret 2017, in Ekonomi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s