Beda Pendapat Bisa Celaka!

clip_image002Ketika mas X sedang asik naik motor, didepannya ada mbak y yang menghidupkan sein ke arah kanan, dengan santai mas X melaju di kiri jalan, namun tanpa diduga, si mbak Y ternyata belok kiri, kecelakaan tidak dapat dihindari, namun untunglah tidak parah. Setelah menegakkan kendaraan yang jatuh, terjadilah pembicaraan antara mas X dengan mbak Y:

X: mbak, kalau mau belok tolong kasih tanda yang benar dong!

Y : heh, mas jangan nyalahkan saya, kan sudah saya kasih tanda, situ yang salah!

X : ya memang sudah ngasih tanda, tapi tandanya salah, mau belok kiri kok ngasih tanda lampu sein kanan!

Y : mas, mas, bodoh kok dipelihara!, justru saya kasih lampu sein ke kanan itu sebagai tanda agar situ lewat kanan, eeh, masih saja lewat kiri.

X : tapi kan, aturannya kalau mau belok kiri maka lampu sein kiri yang harusnya dinyalakan.

Y : itu kan pendapat mu mas, kalau aku berpendapat lampu sein ke kanan itu memberi tanda agar orang lain lewat kanan, ini yang lebih tepat mas, kalau saya mau belok kiri, lalu memberi tanda ke kiri, itu kan artinya memberi tanda untuk diri sendiri, itu tidak perlu, karena tanpa tanda kekiri kan kita sudah tahu kalau kita mau belok kiri.

X : mbak, mbak, sudah salah, ngeyel lagi!.

Y : sembarangan saja menyalahkan orang lain, dasar radikal, mau benar sendiri, ini negeri yang menjunjung tinggi kebhinekaan mas, semua orang berhak berpendapat, camkan itu mas!

Si mbak lalu ngeloyor pergi dengan muka marah.

***

Lain mbak Y, lain lagi mbak B, karena merasa memakai motor automatic, ketika mau belok dia cukup mengONkan lampu sein tanpa memperhatikan apakah dia tekan ke kiri atau ke kanan, dia pikir karena motor otomatis, nanti lampu sein juga otomatis menyesuaikan dengan arah belok. Lain pula ibu N, sambil menggeber motor maticnya, dia mengONkan lampu sein arah kanannya, setelah lama ditunggu, ternyata tidak belok-belok, tidak pula menyalip mobil didepannya, setelah ditanya kenapa demikian, dia menjelaskan maksudnya mengONkan lampu sein kanannya adalah untuk memberi tanda agar orang tidak menyalipnya dari sebelah kanan.

***

Dalam khazanah hukum Islam, tidak dipungkiri ada typical orang seperti mbak Y tadi, makin banyak belajar, makin banyak pengetahuan, makin ‘bingung’ bersikap, katanya “tidak boleh menyalahkan pendapat orang lain”, padahal dia sendiri juga menyalahkan pendapat orang lain yang dicapnya sebagai “mau benar sendiri”.

Ketika ada orang menginginkan tegaknya khilafah, dia bilang, tidak semua orang mewajibkan tegaknya khilafah (mengacu pendapatnya al Ashomm dan yang sepandangan dgnya), jadi tidak usah memaksa saya (siapa juga yang maksa J, ke ge-er an). Ketika ada yang menyatakan wajibnya penyatuan negeri-negeri Islam, dia bilang, tidak semua ‘ulama sepakat dengan hal tersebut (mengacu pendapatnya sekte karomiyyah dan yang sependapat dengan mereka). Anehnya ketika ada orang mengatakan “tidak semua ‘ulama mengharamkan Isbal” dia begitu sensitif hingga raut wajah berubah, atau sebagian lagi jika dikatakan “hukum ‘haul’ itu ada ikhtilaf” dia tidak ‘sreg’, maunya mutlak haram bahkan syirik, sebagian lain maunya itu jadi “sunnah muakkad”, bahkan “wajib”.

Memang benar, dalam penerapan hukum syari’at Islam oleh Khilafah, keragaman madzhab, pandangan, dan pendapat tentang suatu hukum sebaiknya tidaklah dijadikan satu pendapat (ini pandangan Hizbut Tahrir, namun hal ini bukan berarti bahwa HT anti madzhab, namun maksudnya bahwa Khilafah yang dicita-citakan HT tidaklah memaksakan umat terikat hanya dengan satu madzhab saja).

Hanya saja, ketika hukum suatu perbuatan tidak disatukan akan menimbulkan kekacauan dimasyarakat, maka dalam hal ini Khilafah wajib menyatukannya, karena kemudharatan wajib dihilangkan. Oleh sebab itu, dalam Masyru’ud Dustûr dinyatakan:

لا يتبنى رئيس الدولة أي حكم شرعي معين في العبادات ما عدا الزكاة والجهاد، ولا يتبنى أي فكر من الأفكار المتعلقة بالعقيدة الإسلامية

Kepala Negara tidak melegislasi hukum syara’ apa pun yang berhubungan dengan ibadah, kecuali masalah zakat dan jihad; dan apa-apa yang diperlukan untuk menjaga persatuan kaum Muslimin. Khalifah juga tidak melegislasi pemikiran apa pun yang berkaitan dengan akidah Islam.

Dengan ungkapan ini, sebagian orang ada yang menuduh HT tidak mementingkan akidah, terhadap orang seperti ini, mungkin cocok disampaikan ungkapan mbak Y : “mas, mas, bodoh kok dipelihara!.” Allaahu A’lam. [MTaufikNT]

Baca Juga:

Iklan

Posted on 18 Maret 2017, in Ikhtilaf, Politik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s