Lalai Yang Tercela

Abu ‘Ali Ad-Daqqâq (w. 405 H) berkata: “Suatu ketika aku datang mengunjungi orang saleh yang sedang sakit. Beliau termasuk salah seorang masyayikh besar. Ketika itu beliau dikelilingi oleh murid-muridnya, dan sedang menangis, beliau adalah seorang syaikh yang sudah lanjut usia. Aku bertanya kepadanya:

ايها الشيخ مم بكاؤك أعلى الدنيا ؟

“Wahai syaikh, apa yang membuat engkau menangis, apakah mengenai persoalan dunia?”

Dia menjawab :

كلا بل أبكى على فَوْت صلاتى

“Bukan, akan tetapi aku menangis karena ‘kehilangan’ shalatku.”

Aku kembali bertanya:

وكيف ذلك وقد كنتَ مصليا ؟

”Bagaimana hal itu bisa terjadi, padahal Engkau adalah orang yang rajin mendirikan shalat?”

Dia menjawab:

لانى قد بقيتْ يومى هذا وما سجدت الا فى غفلة، ولا رفعت رأسى الا فى غفلة، وما أنا أموت على الغفلة

”Karena sungguh (sekarang) inilah sisa hariku, sementara tidak lah aku bersujud kecuali dalam keadaan lalai (dari mengingat Allah), tidaklah aku mengangkat kepala kecuali dalam keadaan lalai, dan tidaklah aku (suka) mati dalam keadaan lalai. [Imam al Ghazali (w. 505 H), Mukâsyafatul Qulûb, hal 17[1]].

Umur yang Allah berikan kepada kita adalah modal untuk meraih keuntungan, dan keuntungan hakiki adalah kebahagiaan di akhirat. Bagaimanapun beruntungnya seseorang di dunia, jika dia celaka di akhirat, maka semua yang didapat di dunia itu sama sekali tidak ada nilainya.

Lalai menjadikan umur kita tersia-sia, padahal, baik kita gunakan atau kita sia-siakan, tetap saja umur akan berkurang. Jika umur sebagai modal kita senantiasa berkurang, sementara kita tidak mendapatkan ganti kebaikan apapun, jelaslah kerugian yang kita derita.

Dalam shalat, baik khusyu’ atau tidak, tetaplah memakan durasi waktu yang sama, namun walaupun hilangnya waktu tersebut sama, tetapi hasil yang didapatkan sangat jauh berbeda. Imam Sufyan at Tsauri (w. 161 H) berkata:

يُكْتَبُ لِلرَّجُلِ مِنْ صَلَاتِهِ مَا عَقِلَ مِنْهَا

“ditulis bagi seseorang pahala shalatnya (berdasarkan) apa yang dia fahami dari shalatnya (berdasarkan kehadiran hatinya)” (Abu Nu’aim, Hilyatul Awliya, 7/61[2])

Jika mengacu kepada apa yang diceritakan oleh Abu ‘Ali Ad-Daqqâq, kita bisa merenung, berapa banyak dari diri kita yang patut kita tangisi?. Berapa banyak waktu kita dihiasi kelalaian?. Jika dalam shalat banyak lalai, bukankah kemungkinan besar diluar shalat lebih banyak lagi lalainya?. Sibuk mencari penghidupan dunia dan lalai mengaitkannya dengan kehidupan akhirat?.

Sibuk dan ingin tahu pesan-pesan dari facebook, whatsapp, dan berbagai sosmed lainnya, namun adakah juga rasa ingin tahu bagaimana ‘pesan-pesan’ dari Allah SWT dan rasul-Nya?. Begitu senang mendapatkan jempol ‘like’ (suka) dari teman-teman, namun adakah terpikir apakah Allah SWT me‘like’ apa yang kita sampaikan? Kita begitu ingin tahu bagaimana komentar orang terhadap status yang kita tulis, adakah terlintas dalam benak kita bagaimana kira-kira ‘komentar’ Allah atas aktifitas kita?

Jika orang yang shalih saja menangisi ‘kelalaian’nya bahkan saat berbuat ta’at sekalipun, tidakkah lebih pantas kita menangisi kelalaian kita yang jauh lebih banyak?

Suatu ketika Ibnu Abi Malikah duduk bersama Abdullah bin Amru di atas batu, maka Ibnu ‘Amr berkata:

اُبْكُوا فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا بُكَاءً فَتَبَاكَوْا[3]

Menangislah! Jika tidak bisa menangis, maka berusahalah untuk menangis. (HR. al-Hâkim dalam al Mustadrak, dia katakan shahih menurut syarat Bukhary dan Muslim, disetujui oleh adz-Dzahabi).

Kelalaian yang lebih besar daripada kelalaian saat shalat adalah lalai dengan bermaksiyat kepada Allah SWT, mengabaikan syari’ah-Nya, tidak mau berupaya menegakkannya dalam diri dan masyarakat. Kadang kelalaian jenis ini justru dibarengi dengan basahnya bibir mengutip ayat-ayat Allah untuk menyokong sekularisme (paham pemisahan agama dari pengaturan urusan dunia), mengutip hadits-hadits untuk menghalangi tegaknya syari’ah, atau bersumpah atas nama Allah bahwa penolakannya terhadap hukum syara’ itu adalah demi kebaikan dan persatuan.

Imam al Fudhail bin Iyadh (w. 187 H) berkata:

إنما نزل القرآن ليُعمل به فاتخذ الناس قراءته عملاً، قيل: كيف العمل به؟، قال: ليحلوا حلاله، ويحرموا حرامه، ويأتمروا بأوامره، وينتهوا عن نواهيه، ويقفوا عند عجائبه.

“Sesungguhnya diturunkannya alQur’an itu adalah untuk diamalkan, (namun) manusia menjadikan (sebatas) membacanya sebagai amalan” beliau ditanya: bagaimana (cara) mengamalkannya? beliau menjawab: “hendaklah mereka menghalalakan apa yang dihalalkannya, mengharamkan apa saja yang diharamkannya, menyuruh apa yang disuruhnya, menjauhi apa yang dilarangnya, dan berhenti pada keajaiban-keajaibannya.[4]

Jika hidup kita banyak lalainya, bahkan saat membaca alQur’anpun kita ‘lalai’ dari upaya menerapkannya, tidakkah pantas kita menangisi diri-diri kita? Seraya memohon kepada Allah untuk memperbaiki atau ‘mengganti’ hati kita menjadi hati yang lebih peka secara spiritual. Allaahu A’lam. [MTaufikNT]

Baca Juga:


[1] Kitab format pdf

[2] Versi maktabah syamilah

[3] 8723 – حَدَّثَنَا أَبُو زَكَرِيَّا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدٍ الْعَنْبَرِيُّ، ثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْقَيْسَانِ، ثَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، ثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، ثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْأَسْوَدِ، حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ، قَالَ: جَلَسْنَا إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو فِي الْحِجْرِ، فَقَالَ: «ابْكُوا فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا بُكَاءً فَتَبَاكَوْا، لَوْ تَعْلَمُونَ الْعِلْمَ لَصَلَّى أَحَدُكُمْ حَتَّى يَنْكَسِرَ ظَهْرُهُ وَلَبَكَى حَتَّى يَنْقَطِعَ صَوْتُهُ» هَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَلَمْ يُخْرِجَاهُ ”

[التعليق – من تلخيص الذهبي] 8723 – على شرط البخاري ومسلم

[4] Arsyif Multaqa Ahlil Hadits-1, 17/157. Maktabah Syamilah

Iklan

Posted on 9 Maret 2017, in Akhlaq, Ibadah. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Tulisan yang bagus sekali akhi, semoga kita semua terhindar dari kelalaian 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s