Jenazah Para Pendukung Ahok Memang Tidak Perlu Disholati Karena Mereka Mati Syahid?

Beberapa teman meng-inbox ke wa saya  bahwa tulisan saya dijadikan pembenaran oleh pak Ade Armando untuk membela Ahok. Awalnya saya hanya menanggapi dg senyum saja, karena saya anggap orang-orang yang cerdas tidak akan terpengaruh (krn pasti akan tahu bahwa status pak Ade tsb kesimpulannya keliru tidak ada pembenaran sedikitpun dari postingan saya, atau status tsb sekedar guyon, atau akan melihat status tsb sbg satire walau kurang pas, karena berawal dari hal yang tidak pas),  namun karena ada yang minta klarifikasi, dan bisa jadi ada netizen yang hanya membaca judul lalu menyimpulkan sendiri, maka perlu saya jelaskan bahwa:

1. Postingan tersebut adalah postingan 5 tahun-an lalu, jadi tidak ada kaitannya dengan pilkada, maupun dukung-mendukung cagub.

2. Isi postingan tersebut juga tidak bisa disimpulkan sebagaimana yang ditulis oleh pak Ade Armando, ada dua hal yang perlu dicermati:

a. Orang yang mati syahid itu ada tiga[1]; pertama, syahid dunia-akhirat, yakni muslim yang gugur dalam peperangan riil melawan kaum kuffar dalam rangka meninggikan kalimatullah. Kedua, syahid dunia, yakni muslim yang gugur dalam peperangan riil melawan kaum kuffar, namun niatnya hanya mendapatkan harta duniawi atau kebanggaan semata. Ketiga, syahid akhirat, yakni muslim yang meninggal bukan dalam peperangan riil melawan kaum kuffar, namun mendapatkan keutamaan seperti keutamaan orang yang mati syahid, mereka adalah: al-math’un, al-mabthun (mati sakit perut), al-ghariq(tenggelam), shahibul hadm (tertimpa reruntuhan), dan syahid di jalan Allah ‘azza wa jalla (disebutkan dalam Hadits riwayat Imam Muslim)[2]. Yang tidak wajib dimandikan, dishalatkan dan dikafani hanyalah syahid jenis pertama dan kedua saja, yakni yang gugur dalam perang riil melawan orang-orang kafir di jalan Allah.

b. Jelas dalam kasus dukung-mendukung cagub tidak ada peperangan riil antara muslim dengan kuffar, sehingga siapa saja yang mati, baik dari pihak ahok ataupun lawannya ahok, tidak bisa disebut mati syahid dalam kriteria pertama maupun kedua, sehingga tetap wajib dimandikan, dikafani, dan dishalati, jika mereka muslim.

3. Adapun pendukung Ahok kalau mati apakah disholati atau tidak? Saya berpandangan bahwa mendukung Ahok berarti telah melakukan keharaman/kemaksiyatan, namun tidak otomatis menjadikan mereka semuanya kafir/munafiq secara i’tiqady, jadi selama mereka menunjukkan keislamannya, jenazahnya tetap wajib dimandikan, dikafani dan disholati, dan ini hukumnya fardhu kifayah, jika telah sempurna dilakukan sebagian orang, maka sudah terpenuhi. Hanya saja untuk memberikan pendidikan ke masyarakat, memang tidak perlu banyak orang yang mengurus jenazahnya, sekedar menggugurkan fardhu kifayah saja. Demikian juga pelaku maksiyat, pemabok, orang yang bunuh diri, tidak sholat lima waktu karena malas, koruptor, dan pelaku maksiyat lain, tidak peduli apakah pendukung Ahok atau yang anti Ahok, jika mati dalam keadaan muslim tetaplah wajib diselenggarakan jenazahnya, hanya saja bagusnya tidak perlu banyak yang menshalatinya, bukankah Rasulullah saja enggan menshalati orang yang mati masih menyisakan hutang, namun menyuruh sahabat yang lain tetap mensholatinya?[3] Allaahu A’lam. [MTaufikNT]

Baca Juga:


[1] Ini memang tidak terbahas dipostingan tsb, karena postingan itu hanya menyoroti syahid jenis pertama dan kedua, adapun syahid jenis ketiga umumnya masyarakat sudah tahu kalau tetap wajib diselenggarakan jenazahnya seperti biasa.

[2] dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda:

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيْقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيْقِ فَأَخَّرَهُ فَشَكَرَ اللهَ لَهُ فَغَفَرَ لَهُوقالَ: الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُوْنُ؛ وَالْمَبْطُوْنُ؛ وَالْغَرَقُ؛ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ؛ وَالشَّهِيْدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Ketika seorang laki-laki berjalan di sebuah jalan, dia mendapatkan ranting berduri di tengah jalan, lalu dia menyingkirkannya. Maka, Allah bersyukur kepadanya dan mengampuni dosanya.” Beliau juga berkata: “Syuhada ada lima orang: al-math’un, al-mabthun, al-ghariq, shahibul hadm, dan syahid di jalan Allah ‘azza wa jalla.”

Hanya saja perlu dicatat, bahwa syarat dan ketentuan tetap berlaku, sehingga tidak bisa dikatakan orang yang sedang selingkuh dan berzina dihotel, lalu hotelnya runtuh, dan mereka mati, lalu dikatakan mereka mati syahid.

[3] عن جابر قال: {كان النبي صلى الله عليه وسلم لا يصلي على رجل مات عليه ديْن. فأُتِيَ بميت فسأل: عليه دين؟ قالوا: نعم، ديناران. قال: صلوا على صاحبكم. فقال أبو قتادة: هما علَيّ يا رسول الله. فصلى عليه

Ini postingannya pak Ade Armando:

clip_image001

Ternyata ada banyak ulama yang menyatakan bahwa mereka yang mati syahid (meninggal saat memperjuangkan ayat-ayat Allah) tidak perlu dimandikan, tidak perlu dikafani, dan tidak perlu dishalatkan.

Pendapat ulama ini menjadi penting karena artinya keluarga pendukung Ahok tidak perlu sedih seandainya masjid dan komunitas di sekitarnya tidak mau mengurus jenazah pendukung Ahok.

Sikap masjid yang menolak memandikan dan menshlatkan jenazah opendukung Ahok harus dipandang sebagai PENGHORMATAN mereka terhadap pendukung Ahok karena MENINGGAL SAAT MENDUKUNG AHOK ADALAH MATI SYAHID.

Memang tidak semua ulama berpandangan demikian. Dalam Islam, lazim ada keragaman pendapat. Tapi itu tidak penting. Yang penting adalah fakta bahwa sebagian ulama menganggap bahwa jenazah tidak harus disholati kalau ia meninggal saat menegakkan kebenaran.

Jadi jangan sedih kalau jenazah saudara Anda yang mendukung Ahok ditolak untuk diurus oleh masjid di sekitar Anda. Meninggal saat memperjuangkan Ahok adalah mati syahid dan karena itu ruhnya langsung diterima di surgaNya.

Iklan

Posted on 9 Maret 2017, in Perang/Jihad, Politik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s