Melawan Propaganda Hitam

Propaganda adalah penerangan (paham, pendapat, dsb) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu[1].

Jika propaganda dilakukan secara apik oleh pemegang kekuasaan, dibantu kekuatan media, ‘penelitian’ ilmuwan dan lembaga survey, apalagi jika ditambah permainan ‘dalil’ syara’, sementara kalangan yang mengerti memilih berdiam diri dengan alasan menghindari fitnah, maka terjungkirbaliklah nilai-nilai kebenaran, kesalahan akan dianggap masyarakat sebagai kebenaran, sebaliknya kebenaran akan dianggap kejahatan.

Rasulullah bersabda:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, (di masa itu) para pendusta dipercaya, orang-orang jujur didustakan, para pengkhianat diberi amanah, orang yang amanah justru dituduh khianat, dan Ruwaibidlah turut bicara.”, Lalu beliau ditanya, “Apakah Ruwaibidlah itu?” beliau menjawab: “Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan umum/publik.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam riwayat Imam Ahmad, tentang ruwaibidhoh, beliau saw menjawab:

الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Orang fasik yang berbicara tentang persoalan publik”.

Salah satu teknik propaganda adalah name calling (pemberian julukan) untuk menjatuhkan seseorang, istilah, atau ideologi dengan memberinya arti negatif. Kafir Quraisy juga menggunakan teknik ini untuk menghalangi dakwah Rasulullah.

Ibnu Hisyam (w. 213 H) menceritakan dalam kitabnya[2], bahwa mereka serius merancang propaganda apa yang akan mereka tuduhkan kepada Rasulullah saw. Al Walid bin Al Mughiroh, pembesar Bani Makhzum, membuka diskusi para tokoh di rumahnya, dia berkata:

يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، إنَّهُ قَدْ حَضَرَ هَذَا الْمَوْسِمُ، وَإِنَّ وُفُودَ الْعَرَبِ سَتَقْدَمُ عَلَيْكُمْ فِيهِ، وَقَدْ سَمِعُوا بِأَمْرِ صَاحِبِكُمْ هَذَا، فَأَجْمِعُوا فِيهِ رَأْيًا وَاحِدًا، وَلَا تَخْتَلِفُوا فَيُكَذِّبَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا، وَيَرُدَّ قَوْلُكُمْ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Wahai kaum Quraisy, sesungguhnya musim (haji) sudah datang, dan para utusan Arab akan tiba kepada kalian, dan mereka telah mendengar perkara sahabat kalian ini (Muhammad saw), maka bersepakatlah dalam satu pendapat, janganlah kalian berselisih sehingga sebagian akan mendustakan sebagian yang lain, perkataan sebagian kalian akan menolak perkataan sebagian yang lain”

Hadirin menjawab:

نَقُولُ كَاهِنٌ

“kami akan mengatakan (bahwa Muhammad) adalah dukun”

Al Walid mengomentari:

لَا وَاَللَّهِ مَا هُوَ بِكَاهِنِ، لَقَدْ رَأَيْنَا الْكُهَّانَ فَمَا هُوَ بِزَمْزَمَةِ[3] الْكَاهِنِ وَلَا سَجْعِهِ،

“Tidak, demi Allah, dia bukanlah dukun, sungguh kita telah melihat bagaimana para dukun, tidaklah dia (Muhammad) berkomat-kamit dan bersajak (seperti) dukun”

Mereka usul lagi:

فَنَقُولُ: مَجْنُونٌ

“(kalau begitu) kita katakan: dia gila”

Al Walid menganalisa lagi:

مَا هُوَ بِمَجْنُونِ. لَقَدْ رَأَيْنَا الْجُنُونَ وَعَرَفْنَاهُ، فَمَا هُوَ بِخَنْقِهِ، وَلَا تَخَالُجِهِ، وَلَا وَسْوَسَتِهِ،

“dia itu tidak gila, sungguh kita melihat dan mengetahui bagaimana orang-orang gila, dia (Muhammad) tidak menangis, hilang pikiran, dan kacau bicaranya (seperti orang gila)”

Mereka mengubah usulan:

فَنَقُولُ: شَاعِرٌ

“(kalau begitu) kita katakan: dia itu penyair”

Al Walid menyatakan ketidaktepatan propaganda tersebut:

مَا هُوَ بِشَاعِرِ، لَقَدْ عَرَفْنَا الشِّعْرَ كُلَّهُ رَجَزَهُ وَهَزَجَهُ وَقَرِيضَهُ وَمَقْبُوضَهُ وَمَبْسُوطَهُ، فَمَا هُوَ بِالشِّعْرِ

“dia bukanlah penyair, sungguh kami mengetahui seluk beluk sya’ir, rajaz, hazaj, qarîdh, maqbûdh dan mabsûth nya[4], maka yang dia sampaikan bukan sya’ir”

Mereka mengusulkan lagi:

فَنَقُولُ: سَاحِرٌ

“(kalau begitu) kita katakan: dia itu penyihir”

Al Walid menjawab:

مَا هُوَ بِسَاحِرِ، لَقَدْ رَأَيْنَا السُّحَّارَ وَسِحْرَهُمْ، فَمَا هُوَ بِنَفْثِهِمْ وَلَا عَقْدِهِمْ[5]

“dia bukan penyihir, sungguh kita telah melihat para tukang sihir dan sihir mereka, Muhammad tidak ada meniup dan tali tali (sebagaimana) tukang sihir”

Mereka lalu berkata:

فَمَا نَقُولُ يَا أَبَا عَبْدِ شَمْسٍ؟

“lalu apa yang harus kita katakan, wahai Abu ‘Abdi Syams?”

Al Walid lalu menjelaskan:

وَاَللَّهِ إنَّ لِقَوْلِهِ لَحَلَاوَةً، وَإِنَّ أَصْلَهُ لَعَذِقٌ[6]، وَإِنَّ فَرْعَهُ لَجُنَاةٌ- قَالَ ابْنُ هِشَامٍ: وَيُقَالُ لَغَدِقٌ[7] وَمَا أَنْتُمْ بِقَائِلِينَ مِنْ هَذَا شَيْئًا إلَّا عُرِفَ أَنَّهُ بَاطِلٌ، وَإِنَّ أَقْرَبَ الْقَوْلِ فِيهِ لَأَنْ تَقُولُوا سَاحِرٌ، جَاءَ بِقَوْلٍ هُوَ سِحْرٌ يُفَرِّقُ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَأَبِيهِ، وَبَيْنَ الْمَرْءِ وَأَخِيهِ، وَبَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجَتِهِ، وَبَيْنَ الْمَرْءِ وَعَشِيرَتِهِ

“demi Allah, sungguh perkataan Muhammad itu manis, pokoknya kuat, dan cabangnya menghasilkan (buah), – Ibnu Hisyam mengatakan – banyak memberikan (buah), dan tidaklah kalian mengatakan sesuatupun tentangnya (berupa kejelekan), melainkan akan diketahui bahwa hal tersebut adalah bathil (keliru), sesungguhnya perkataan (tuduhan) yang paling mendekati dg Muhammad adalah kalian katakan bahwa dia adalah penyihir, membawa ucapan sihir yang bisa memisahkan antara seseorang dengan bapaknya, memisahkan seseorang dengan saudaranya, istrinya dan kerabatnya.” [Siroh Nabawiyyah, 1/270]

Setelah disepakati hal tersebut, mereka duduk-duduk dijalan-jalan yang dilewati orang pada musim haji, tidak seorangpun lewat kecuali mereka sebarkan propaganda bahwa Muhammad adalah penyihir, kata-katanya berbahaya bila didengarkan.

===000===

Bagaimana menghadapi propaganda hitam tersebut? Rasulullah tidaklah berdiam diri, apalagi bersembunyi karena malu menghadapi pembullyan tersebut, namun beliau tetap menjalankan aktivitas seperti biasanya, menyampaikan kebenaran, memberikan penjelasan, dan membongkar propaganda dan makar jahat tersebut. Allah mengajarkan bahwa pembuat propaganda busuk harus dibongkar makar mereka. Tentang al Walid dan permufakatan jahat mereka, Allah menurunkan surat al Muddats-tsir:

ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا (11) وَجَعَلْتُ لَهُ مَالًا مَمْدُودًا (12) وَبَنِينَ شُهُودًا (13) وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيدًا (14) ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ (15) كَلَّا إِنَّهُ كَانَ لِآيَاتِنَا عَنِيدًا (16) سَأُرْهِقُهُ صَعُودًا (17) إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ (18) فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (19) ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (20) ثُمَّ نَظَرَ (21) ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ (22) ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ (23) فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ (24) إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ (25) سَأُصْلِيهِ سَقَرَ (26)

“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kulapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al-Qur’an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam maka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, “(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.”Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar.”

Dalam konteks kekinian, ketika propaganda dimainkan untuk menyudutkan perjuangan penerapan syari’ah dan tegaknya khilafah, diberi label ‘radikal’, ‘fundamentalis’, ‘khawarij’, bahkan ‘terrorist pemikiran’, atau julukan-julukan yang dikesankan negatif, maka sudah selayaknya kalau propaganda tersebut dilawan, bahkan dibongkar kepalsuan propaganda tersebut, walaupun untuk itu resiko dimusuhi ada didepan mata.

Hanya saja yang perlu diperhatikan, bahwa jika pembuat propaganda hitam saja serius berfikir, menganalisa, melakukan rapat untuk memberikan cap negatif apa yang kelihatan tepat, sebagaimana rapatnya al Walid dan pembesar Quraisy, maka adalah hal yang ironis kalau kita mengaku mau membongkar dan melawan propaganda, namun dibarengi dengan malas mikir, malas berdiskusi, malas menganalisa berbagai peristiwa, jika itu terjadi, maka walaupun berniat melawan propaganda hitam, namun sangat mungkin justru terjatuh dalam skenario sesuai keinginan pembuat propaganda tersebut. Allaahu A’lam. [M.Taufik NT]

*) Catatan: Kalau untuk khutbah perlu diringkas sendiri agar tidak kepanjangan

Baca Juga:


[1] KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Ada “propaganda putih” berasal dari sumber yang dapat diidentifikasi secara terbuka, “propaganda hitam” berasal dari sumber yang dianggap ramah akan tetapi sebenar-benarnya bermusuhan, dan “propaganda abu-abu” berasal dari sumber yang dianggap netral tetapi sebenarnya bermusuhan. (wikipedia)

[2] Siroh Nabawiyyah, 1/270. Maktabah Syamilah

[3] الزمزمة: الْكَلَام الخلفى الّذي لَا يسمع.

[4] Nama bahar-bahar sya’ir

[5] إِشَارَة إِلَى مَا كَانَ يفعل السَّاحر بِأَن يعْقد خيطا ثمَّ ينفث فِيهِ، وَمِنْه قَوْله تَعَالَى: وَمن شَرِّ النَّفَّاثاتِ فِي الْعُقَدِ 113: 4. يعْنى الساحرات.

[6] العذق (بِالْفَتْح) : النَّخْلَة. يُشبههُ بالنخلة الَّتِي ثَبت أَصْلهَا وقوى وطاب فرعها إِذا جنى.

[7] الغدق: المَاء الْكثير. وَمِنْه يُقَال: غيدق الرجل: إِذا كثر بصاقه. وَكَانَ أحد أجداد النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسمى الغيدق، لِكَثْرَة عطائه.

Iklan

Posted on 2 Februari 2017, in Dakwah, Kritik Pemikiran. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s