Menimbang Berita, Mewaspadai Hoax

Rasulullah saw pernah ditanya tentang apa yang paling banyak menyebabkan manusia masuk neraka? Beliau menjawab: “mulut dan kemaluan” (HR at-Tirmidzi ia mengatakan hadis sahih).[1]

Pada era informasi sekarang ini, saat satu berita di suatu belahan bumi dalam hitungan detik bisa menyebar sampai ke belahan bumi yang lain, maka kehati-hatian dalam berbicara, terlebih lagi ‘berbicara’ di social media sangat perlu diperhatikan, jika tidak kita bisa menjadi korban berita palsu (hoax), menebar fitnah, atau menjadi pendusta tanpa merasa.

Hal pertama yang perlu disadari adalah bahwa tidak semua berita itu perlu dibaca. Berita-berita yang tidak ada manfa’atnya, baik untuk kebaikan dunia ataupun akhirat kita, maka tidak perlu dibaca, apalagi sampai menghabiskan waktu untuk mengklarifikasinya kebenarannya. Membaca dan menganalisis berita jenis ini terkategori menyia-nyiakan umur kita, padahal tiap detik umur kita adalah modal untuk menggapai kebaikan dunia maupun akhirat[2], jika kita menyebarkannya berarti telah berkontribusi membuat orang lain menyia-nyiakan umur mereka jika mereka membacanya.

Kedua, jika berita tersebut penting, misalnya menyangkut nasib kita atau nasib umat, maka hendaknya kita memiliki perhatian kepadanya. Hanya saja perlu disadari bahwa tidak semua berita yang sampai kepada kita itu benar, jika kita menyebarkannya[3] atau bersikap berdasarkan berita tersebut tanpa meneliti validitasnya, maka berarti kita menjatuhkan diri kita kedalam keburukan. Rasulullah SAW bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukuplah seseorang disebut pendusta jika dia mengatakan setiap yang dia dengar (HR. Muslim dari Hafsh bin ‘Âsim)

Ketika menjelaskan hadits ini, Imam al Munawi (w. 1031 H) menyatakan:

أَيْ إِذَا لَمْ يَتَثَبَّتْ، لأنه يسمع عادةً الصِدْقَ والكَذِبَ، فإذا حدَّث بِكُلِّ مَا سَمِعَ لَا مَحَالَةَ يَكْذِب

“Maksudnya adalah, jika ia tanpa mengecek kebenaran suatu berita yang ia dengar (maka ia dianggap pendusta), sebab berita yang ia dengar biasanya kadang benar dan kadang dusta, maka jika ia menyampaikan semua yang ia dengar, hampir bisa dipastikan dia berdusta.” [Faidhul Qodir, 5/2, Maktabah Syamilah]

Jika kita menjumpai berita yang agak ‘aneh’; terlalu bagus atau terlalu jelek, dan kita tidak memiliki waktu untuk mengeceknya, maka yang paling selamat adalah diam, tidak mengikutinya atau mengambil tindakan berdasar berita tersebut. Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(QS. Al Israa’ 36)

Menurut Al-Aufiy makna ayat ini adalah:

لَا تَرْمِ أَحَدًا بِمَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“ Janganlah kamu menuduh seseorang dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuan bagimu tentangnya.”[4]

Ketiga, ketika berita itu penting dan terbukti valid, maka harus diperhatikan tentang ‘konteks’ berita tersebut, sehingga tidak salah tuduh[5], juga harus diperhatikan pengambilan kesimpulan, karena kadang informasi yang diterima benar, namun kesimpulan si penerima keliru, dalam hal ini kita harus memperhatikan dengan siapa kita berbicara.

Imam ‘Ali r.a berkata:

«حَدِّثُوا النَّاسَ، بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ»

“Berbicaralah dengan manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka, apakah kalian ingin jika Allah dan rasul-Nya didustakan?” (Riwayat Bukhory)

Jika kita berhadapan dengan orang-orang yang taraf berfikirnya belum memadai, maka informasi yang mau disampaikan hendaknya dijelaskan sejelas mungkin hingga tergambar pemahaman yang benar dalam benak mereka tanpa diliputi kekaburan, jika kita merasa mereka tidak akan faham, maka tidak perlu disampaikan.

Sebaliknya terhadap orang-orang cerdas, cukup dengan sedikit ungkapanpun mereka akan bisa memahami dengan baik.

Di sisi lain, jika kita sendiri merasa akal kita belum sanggup memahami informasi dan menarik kesimpulan dengan benar, maka berdiam diri tentu lebih utama daripada melibatkan diri pada permasalahan yang kita tidak bisa mencerna kebenarannya, sambil berupaya meningkatkan kualitas dan taraf berfikir kita. Allâhu A’lam. [M.Taufik NT]

Baca Juga:

[1] عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ ».

[2] Ketika seorang sahabat meninggal dunia, seseorang berkata, أَبْشِرْ بِالجَنَّةِ (“Berilah kabar gembira dengan surga”), maka Rasulullah saw. bersabda:

أَوَلَا تَدْرِي فَلَعَلَّهُ تَكَلَّمَ فِيمَا لَا يَعْنِيهِ أَوْ بَخِلَ بِمَا لَا يَنْقُصُهُ

“Apakah kalian tidak tahu, mungkin ia pernah mengucapkan perkataan yang tidak mendatangkan manfaat atau bakhil terhadap sesuatu (harta) yang sebenarnya tidak akan berkurang (jika disedekahkan).” (HR Tirmidzi).

[3] Menyebarkan lewat tulisan sama saja dengan menyebarkan lewat lisan. قَال الْمَرْغِينَانِيُّ: الْكِتَابُ كَالْخِطَابِ (الهداية مع فتح القدير 5 / 79.)

[4] Tafsir Ibnu Katsir, 5/75, Maktabah Syamilah

[5] Misal berita : si A lari dari rahmat Allah… maksudnya lari menghindari hujan. Si B membolehkan  menyimpan gambar porno… padahal porno dlm pandangan B adalah gambar aurat, walau sehelai rambut, dia nyimpan uang gambar kartini (Rp. 10.000)

Iklan

Posted on 23 Januari 2017, in Akhlaq. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s