Jokowi Undercover: Sederhana Dibuat Rumit

Pada dasarnya permasalahan apapun jika dihadapi dengan sikap yang benar dan syar’iy tidak akan susah penyelesaiannya. Sebaliknya jangankan masalah besar, masalah sederhanapun jika penyikapan tidak tepat akan membesar dan menimbulkan masalah lain.

Rasulullah shallallahu’alaiwasallam mengajarkan kepada kita agar sebisa mungkin menutup pintu-pintu fitnah, jangan sampai menjadikan manusia bertanya-tanya tentang suatu hal yang mungkin samar dalam pandangan mereka.

Suatu ketika Shafiyah, istri Nabi, menemui Rasulullah saat Beliau sedang berbaring di dalam masjid pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan. Setelah itu dia berdiri untuk kembali, maka Rasulullah mengantarkannya hingga ketika dekat rumah Ummu Salamah, ada dua orang laki-laki Kaum Anshar yang lewat lalu keduanya memberi salam kemudian bergegas pergi.

Melihat itu Rasulullah berkata kepada keduanya:

عَلَى رِسْلِكُمَا، إِنَّمَا هِيَ صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ

“jangan terburu-buru, sesungguhnya perempuan ini adalah Shafiyyah binti Huyay (isteri beliau)”.

Kedua orang itu berkata; “Maha suci Allah, wahai Rasulullah”. Kedua orang itu pun merasa segan terhadap ucapan beliau. Maka kemudian Rasulullah bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَبْلُغُ مِنَ الإِنْسَانِ مَبْلَغَ الدَّمِ، وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَيْئًا

“Sesungguhnya syetan sampai kepada manusia lewat aliran darah dan aku khawatir bila syetan telah membisikkan sesuatu dalam hati kalian berdua”. (HR. al Bukhary)

Rasulullah menjelaskan hal tersebut tanpa diminta adalah dalam rangka agar jangan sampai manusia menduga Beliau berkhalwat dengan wanita lain (bahasa sekarang disebut “selingkuh”).

Memang benar, bahwa orang yang melemparkan tuduhan dusta dialah yang akan menanggung dosa, memberikan kebaikannya kepada yang dituduhnya, atau dia memikulkan dosa orang yag dituduhnya sesuai kadar tuduhannya tersebut. Hanya saja membiarkan diri dalam posisi yang memang rawan untuk dituduh dan tanpa memberikan klarifikasi yang memadai, itu juga bukan sikap yang terpuji.

Imam Ibrahim an Nakha’i (lahir 50 H, wafat 96 H) adalah seorang tabi’in yang buta sebelah, sementara Sulaiman ibn Mihran (lahir 61 H, wafat 148 H) adalah seorang tabi’in yang penglihatannya lemah, sehingga dikenal dengan sebutan al A’masy, suatu hari keduanya sedang melewati salah satu jalan di kota Kufah-Iraq menuju ke Masjid Jami’. Tatkala mereka berdua sedang berjalan, Ibrahim memanggil al A’masy dan berkata :

هل لك أن تأخذ في خلال طرقات الكوفة كي لا نمر بسفهائها فينظرون إلى أعور وأعمش فيغتابونا ويأثمون؟

Maukah engkau mengambil jalan yang lainnya, agar kita tidak melewati orang-orang bodoh, lalu mereka melihat orang yang buta sebelah dan orang yang lemah penglihatannya, hingga mereka menggunjing kita dan mereka berdosa?

Maka al A’masy menjawab:

يا أبا عمران، وما عليك في أن نؤجر ويأثمون؟

Wahai Abu ‘Imrân[1], apa yang (menyusahkanmu) kalau kita akan diberi pahala (lantaran gunjingan mereka) dan mereka berdosa?

Ibrahim menjawab:

يا سبحان الله، بل نسلم ويسلمون خير من أن نؤجر ويأثمون

Subhânallah, tetapi kita selamat (dari gunjingan) dan mereka pun juga selamat (dari dosa) itu lebih baik daripada kita diberi pahala namun mereka mendapat dosa. (Imam Ibnul Jauizy, Al-Munthadhom, juz 7 hal 21-22[2]).

***

Sebelum kasus Jokowi Undercover, sebetulnya sudah beredar desas-desus tentang hal ini di sosmed, saya sendiri sudah membacanya walau tidak begitu saja mempercayainya karena dalam politik pada sistem sekuler ini apa saja bisa dilakukan untuk meraih tujuan.

Jika menyimak dua riwayat di atas, sebetulnya mudah untuk menyelesaikannya, apalagi di era modern seperti saat ini, kan tinggal test DNA dg dokter yang netral, selesai masalah, tidak akan muncul buku-buku seperti itu.

Jika memang terbukti sebagai anak PKI, sebetulnya juga tidak terlalu bermasalah, karena anak tidak akan menanggung dosa bapaknya (ini yang dalam masa orba memang kelewatan). Ikrimah, anaknya Abu Jahal saja mendapatkan posisi mulia dalam Islam.

Yang jadi masalah adalah ketika justru masalah tersebut tidak dibikin sejelas-jelasnya, karena bagaimanapun juga ketika sebuah pemikiran atau tuduhan sudah tersebar, maka menyelesaikannya tidak cukup dengan menghukum penyebarnya, karena yang namanya pemikiran itu tidak bisa dikerangkeng. Allâhu A’lam. [M.Taufik NT]

Baca Juga:


[1] Kunyah Imam Ibrahim an Nakha-i

[2] Al-Munthadhom fî Târîkhi al Umam wa al Mulûk, juz 7 hal 21-22. Maktabah Syamilah:

الكتاب: المنتظم في تاريخ الأمم والملوك

المؤلف: جمال الدين أبو الفرج عبد الرحمن بن علي بن محمد الجوزي (المتوفى: 597هـ)

7/21-22

حدثنا إسحاق بن إبراهيم الكتاني، قال: حدثنا الفضل بن دكين، قال: حدثنا الأعمش، قال: خرجت أنا وإبراهيم النخعي ونحن نريد الجامع، فلما صرنا في خلال طرقات الكوفة قال لي: يا سليمان، قلت: لبيك، قال: هل لك أن تأخذ في خلال طرقات الكوفة كي لا نمر بسفهائها فينظرون إلى أعور وأعمش فيغتابونا ويأثمون؟ قلت: يا أبا عمران، وما عليك في أن نؤجر ويأثمون؟ قال: يا سبحان الله، بل نسلم ويسلمون خير من أن نؤجر ويأثمون.

Iklan

Posted on 9 Januari 2017, in Politik, Syari'ah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s