Khutbah Jum’at – Menyikapi Kenaikan Harga

Awal tahun ini kita mengalami banyak ‘peningkatan’, hanya saja yang meningkat adalah harga-harga. Biaya pengurusan surat-surat kendaraan meningkat 2 hingga 3 kali lipat, harga BBM, tarif listrik, hingga harga cabe juga meningkat.

Setidaknya ada dua sebab kenaikan harga; pertama, faktor kelangkaan alami yang terjadi karena gagal produksi, kemarau berkepanjangan dll, sehingga ketika barang berkurang sementara yang membutuhkan barang tersebut banyak, maka otomatis harga akan naik. Sebab kedua, kenaikan harga terjadi karena penyimpangan ekonomi dari hukum-hukum syari’ah Islam, terjadinya ihtikâr (penimbunan), permainan harga (ghabn al fâkhisy), hingga liberalisasi yang menghantarkan kepada ‘penjajahan’ ekonomi.

Secara individual, ketika harga-harga melambung, apapun penyebab melambungnya, seorang muslim tidak boleh terguncang jiwanya, keyakinannya bahwa Allahlah yang memberi rizki dan menentukan segala sesuatu tidak boleh luntur, juga tidak layak mengeluhkan hal ini kepada manusia.

Salamah bin Dinar (w. 140 H) pernah ditanya:

يا أبا حازم أما ترى قد غَلَا السِعْرُ

“wahai Abu Hâzim[1], tidakkah engkau perhatikan bahwa harga-harga melambung tinggi?”

Maka beliau menjawab:

وما يُغِمُّكم من ذلك؟ إن الذي يرزقُنا في الرُخْصِ هو الذي يرزقنا في الغَلاء

“Lalu apa yang membuat engkau galau dengan hal tersebut? Sesungguhnya Yang Memberi Rizki kepada kita saat harga turun, Dia pula yang memberi rizki kepada kita saat harga-harga naik” (Ibn ‘Asâkir, Târikh Dimasyq, 22/60)

Itu dari sisi i’tiqad tentang rizki, adapun dari sisi syari’at perlu dibedakan, jika melambungnya harga karena sebab pertama, yakni faktor “alami” seperti kemarau panjang dll, maka kita dituntut untuk bersabar dan memperbanyak istighfar, karena bisa jadi ada kemaksiyatan yang tersembunyi di masyarakat yang mencegah turunnya berkah.

Namun jika melambungnya harga disebabkan pengabaian terhadap hukum-hukum syari’ah, dan itu terlihat secara kasat mata di masyarakat, maka tidak cukup disikapi dengan diam bersabar dan beristighfar saja. Penguasa harus bertanggung jawab atas hal ini, juga harus mencegah agar hal tersebut tidak terjadi. Rasulullah saw sampai turun sendiri ke pasar untuk melakukan ‘inspeksi’ agar tidak terjadi ghabn (penipuan harga) maupun tadlis (penipuan barang/alat tukar), beliau juga melarang penimbunan (ihtikâr). Khalifah Umar bahkan melarang siapa saja yang tidak mengerti hukum-hukum syara (terkait bisnis) dari melakukan bisnis. Para pebisnis secara berkala juga pernah diuji apakah mengerti hukum syara’ terkait bisnis ataukah tidak, jika tidak faham maka mereka dilarang berbisnis.

Berbeda halnya jika pelaku kemaksiyatan itu justru penguasa, mereka mengabaikan hukum syara’, lalu menggantinya dengan “ayat-ayat” kapitalis, menghilangkan subsidi karena subsidi itu hukum asalnya ‘haram’ menurut konsep kapitalis, maka masyarakat harus mengambil peran untuk meluruskan hal tersebut.

Ketika khalifah Mu’awiyah berkhutbah pasca pencabutan pemberian (subsdi) kepada masyarakat, dan beliau berkata dalam dari atas mimbarnya isma’û wa athî’û (dengarlah oleh kalian dan taatilah), mendengar itu maka berdirilah Abu Muslim seraya berkata: Lâ sam’a wa lâ thô’ata yâ Mu’âwiyah (tidak (wajib) mendengar dan ta’at hai Mu’awiyah). Muawiyah bertanya: “mengapa wahai Abu Muslim?”, maka Abu Muslim menjawab:

كَيْفَ تَمْنَعُ الْعَطَا وَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ كَدِّكَ وَلا كَدِّ أَبِيكَ وَلا مِنْ كَدِّ أُمِّك؟

“bagaimana engkau bisa menyetop subsidi, padahal dia bukan hasil kerja engkau, bukan hasil kerja bapakmu, bukan pula hasil kerja ibumu?” …. akhirnya Muawiyah sadar dan tidak jadi menghentikan subsidi tersebut. (Mawâridudh Dham’ân Li Durûsiz Zamân, 4/117)[2]

Setiap kemaksiyatan, apalagi kemaksiyatan terkait ekonomi, pasti akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan ekonomi, bahkan bukan hanya ekonomi, namun juga sisi-sisi kehidupan yang lain, baik pelakunya rakyat, pengusaha, apalagi penguasa. Rasulullah bersabda:

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan mereka memilih-milih apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka. (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan). [mtaufiknt]

Baca Juga:


[1] Kunyah nya Abu Hâzim al A’raj, seorang tabi’in.

[2] Bisa juga dibaca dengan redaksi yang mirip pada Hilyatul Awliya, 2/130, juga Syarh Ushulu I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, 8/1525. Maktabah syamilah

Posted on 6 Januari 2017, in Ekonomi. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s