Bolehkah Menutup Jalan Umum Untuk Suatu Keperluan?

Semua orang punya hak untuk memanfaatkan jalan umum[1], baik dengan sekedar lewat, atau membuat jalan tembus ke situ atau jalan cabang,…dll.

Boleh juga seseorang memarkir kendaraan atau mobil, atau membuat stand untuk berjual beli di jalan umum, dengan dua syarat:

  1. Keselamatan terjaga, tidak memudharatkan orang lain, seperti menghalangi orang lain lewat.
  2. Mendapatkan ijin dari penguasa (menurut Imam Abu Hanifah), sementara menurut Syafi’iyyah dan Hanabilah tidak memerlukan izin penguasa, karena sabda Rasulullah : “siapa saja yang lebih dahulu sampai suatu hal yang tidak didahului seorang muslim (lain), maka dia lebih berhak atasnya”

Malikiyyah menyatakan: “barang siapa membangun suatu bangunan di jalan umum, atau mengambil sebagian jalan umum menjadi miliknya, maka para ahli fiqh sepakat akan dilarangnya (hal tersebut)”… [M.Taufik NT]

Rujukan: al Fiqhul Islâmy wa Adillatuhu, juz 6 hal 461 – 462, Maktabah Syamilah.[2]

Baca Juga:


[1] Jalan umum adalah jalan yang bukan bukan jalan khusus semisal milik pribadi di perkebunan pribadi.

[2] Bisa dibaca lengkapnya:

فإن كان الطريق عاماً: فلكل إنسان حق الانتفاع به، لأنه من المباحات، سواء بالمرور، أو بفتح نافذة أو طريق فرعي عليه، أو إنشاء شرفة ونحوها، وله إيقاف الدواب أو السيارات أو إنشاء مركز للبيع والشراء. ولا يتقيد إلا بشرطين[2]: الأول: السلامة، وعدم الإضرار بالآخرين، إذ لا ضرر ولا ضرار[2] ، الثاني: الإذن فيه من الحاكم.

فإن أضر المار أو المنتفع بالآخرين، كأن أعاق المرور، منع. وإن لم يترتب على فعله ضرر، جاز بشرط إذن الحاكم عند أبي حنيفة، ولا يشترط الإذن عند الصاحبين، على ما سأبيّن في حق التعلي. كذلك لا يشترط إذن الإمام عند الشافعية والحنابلة[2] كقوله عليه الصلاة والسلام: «من سبق إلى ما لم يسبق إليه مسلم، فهو أحق به» .

وقال المالكية[2] : من بنى في طريق المسلمين أو أضاف شيئاً من الطريق إلى ملكه، منع منه باتفاق.

وقال الشافعية[2] : الطريق النافذ أي الشارع لا يتصرف فيه بما يضر المارّة في مرورهم فيه؛ لأن الحق فيه للمسلمين كافة، فلا يشرع فيه جَناح أي روشن، ولا ساباط (أي سقيفة على حائطين والطريق بينهما) يضر الناس كلٌ منهما.

Posted on 28 November 2016, in Ibadah, Politik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s