Syubhat

Status hukum dalam Islam hanya ada lima, yakni: wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah. Sedangkan syubhat adalah satu keadaan atau perkara yang masih samar, baik disebabkan karena objeknya (benda atau perbuatan) yang masih belum diketahui hukumnya atau pihak manusianya yang belum mengetahui status hukumnya.

Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ، وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram juga jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara syubhat (samar) yang tidak diketahuai oleh kebanyakan orang. Barang siapa yang menjaga diri dari syubhat, maka dia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan barang siapa yang menjalani perkara syubhat ia terjatuh dalam hal yang haram…(HR Muslim).

Perkara syubhat (kesamaran) terjadi pada 3 keadaan:

Pertama, kesamaran pada status hukum benda atau perbuatan, apakah halal atau haram…[1]. Dalam kondisi seperti ini seseorang tidak boleh mengambil/melakukan perbuatan sebelum jelas status hukumnya, dia bisa mengkajinya terlebih dahulu atau bertanya kepada orang yang dia duga kuat tahu hukumnya.

Kedua, kesamaran yang terjadi pada perkara mubah (boleh) namun dia menduga bisa terjatuh ke yang haram karena begitu dekatnya perkara tersebut dengan yang haram[2]. Misalnya seseorang yang menyimpan hartanya di bank yang melakukan aktivitas riba (tanpa dia terlibat dengan riba dan tidak mengambil riba), atau seseorang yang mengajar wanita secara privat, baik mingguan atau pun harian (khawatir terjadi khalwat atau interaksi yang tidak syar’i). Contoh tersebut adalah perbuatan mubah yang boleh dilakukan, namun lebih utama untuk tidak dilakukan dalam rangka memelihara diri dan bersikap wara’.

Ketiga, adanya kesamaran di kalangan manusia (orang lain) terhadap perbuatan mubah, namun mereka menduganya sebagai perbuatan terlarang[3]. Dalam hal ini ada dua bagian:

1. Kesamaran pada manusia akan sesuatu yang dianggap haram atau makruh, dan fakta sesuatu dalam anggapan mereka itu memang haram atau makruh[4], akan tetapi orang tersebut melakukan perbuatan mubah. Misalnya si fulan pada suatu malam berduaan dengan seorang wanita, masyarakat menduganya telah melakukan perbuatan tercela (entah khalwat dg wanita ajnabi atau yang lain), dan memang khalwat dg wanita ajnabi adalah perkara yang tercela. Padahal wanita yang bersama si A adalah istri si A sendiri. Dalam hal seperti ini harusnya si A menjelaskan perbuatannya. Rasulullah mencontohkan hal ini dalam kasus beliau berdua dengan Shafiyyah, istri beliau.[5]

2. perkara yang menimbulkan kesamaran dalam diri masyarakat bahwa perkara tersebut merupakan sesuatu yang terlarang, padahal hakikatnya tidak terlarang. Karena adanya rasa kekhawatiran terhadap pendapat masyarakat bahwa perbuatan tersebut terlarang, ia menjauhinya karena pendapat masyarakat, bukan karena terlarang. Perkara syubhat seperti itu tidak boleh dijauhkan, bahkan harus dilaksanakan dan dianggap sebagai sesuatu yang diperintahkan syariat (sesuai dengan status hukum syara’ perkara tersebut), sehingga tidak perlu memperhatikan pendapat masyarakat. Misalnya Rasulullah menikahi bekas istri anak angkat beliau yang dalam pandangan seluruh masyarakat hal tersebut adalah terlarang, Rasulullahpun dalam hal ini ada rasa berat melanggar ‘tradisi masyarakat’, hingga Allah menegur beliau:

وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللهُ أَحَقَّ أَنْ تَخْشَاهُ

Kamu takut kepada manusia, pada hal Allah-lah yang berhak kamu takuti (QS al-Ahzab: 33).

(diadaptasi dari kitab al-Nidzâm al-Ijtimâ’i karya Syaikh Taqiyuddin an Nabhani). [M.Taufik NT]

Baca Juga:


[1] أن يشتبه في الشيء هل هو حرام أو مباح، أو في الفعل هل هو فرض أو حرام أو مكروه أو مندوب أو مباح

[2] أن يشتبه عليه أن يقع بالحرام من فعله المباح لمجاورته للحرام، ولكونه مظِنَّة أن يؤدي إليه

[3] هو اشتباه الناس بعمل مباح أنه عمل ممنوع

[4] أن يكون الشيء الذي يشتبه الناس به أنه حرام أو مكروه هو بالفعل حراماً أو مكروهاً شرعاً

[5] dari ‘Ali bin Husain :

أَنَّ صَفِيَّةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا

جَاءَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزُورُهُ وَهُوَ مُعْتَكِفٌ فِي الْمَسْجِدِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ثُمَّ قَامَتْ تَنْقَلِبُ فَقَامَ مَعَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى إِذَا بَلَغَ قَرِيبًا مِنْ بَابِ الْمَسْجِدِ عِنْدَ بَابِ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِهِمَا رَجُلَانِ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ نَفَذَا فَقَالَ لَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رِسْلِكُمَا قَالَا سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَبُرَ عَلَيْهِمَا ذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَبْلُغُ مِنْ الْإِنْسَانِ مَبْلَغَ الدَّمِ وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَيْئًا

bahwa Shafiyah, istri Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mengabarkan kepadanya bahwa dia pernah menemui Rasulullah Shallallahu’alaiwasallam saat Beliau sedang berbaring di dalam masjid pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan. Setelah itu dia berdiri untuk kembali maka Rasulullah Shallallahu’alaiwasallam ikut pergi bersamanya hingga ketika sampai sedikit di luar pintu masjid dan dekat rumah Ummu Salamah, istri Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, ada dua orang laki-laki Kaum Anshar yang lewat lalu keduanya memberi salam kepada Rasulullah Shallallahu’alaiwasallam kemudian bergegas pergi. Maka Rasulullah Shallallahu’alaiwasallam berkata kepada keduanya: “Sebentar (perempuan ini isteriku)!”. Kedua orang itu berkata; “Maha suci Allah, wahai Rasulullah”. Kedua orang itu pun merasa segan terhadap ucapan beliau. Maka kemudian Rasulullah Shallallahu’alaiwasallam bersabda: “Sesungguhnya syetan masuk kepsda manusia lewat aliran darah dan aku khawatir bila syetan telah membisikkan sesuatu dalam hati kalian berdua”. (HR. al Bukhari)

Posted on 19 November 2016, in Mutiara Hadits, Syari'ah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s