Do’a dan Perubahan

Ketika melihat kerusakan di masyarakat, sebagian kalangan memilih berdo’a sebagai upaya perbaikan. Mereka mau berdo’a untuk kebaikan umat, itu bagus, namun yang tidak tepat adalah ketika ‘meremehkan’ upaya kaum muslimin yang berupaya ber-amar makruf nahi munkar, menjelaskan penyimpangan yang terjadi sembari menjelaskan bagaimana seharusnya Islam mengatasinya, kadang upaya tersebut dipandang sinis, seolah-olah yang berupaya tersebut melalaikan berdo’a kepada Allah swt.

Ada beberapa point yang harus difahami terkait dengan do’a, serta hubungannya dengan perubahan.

Pertama, doa adalah ibadah, bahkan merupakan inti ibadah (HR. at-Tirmidzi). Allah sangat mencintai hamba- Nya yang berdoa kepada-Nya.

Kedua, Allah telah menjelasklan agar kita berdoa kepada- Nya, disertai dengan memenuhi seruan-Nya, terikat dengan syariat- Nya, dan mengikuti Rasul-Nya. Allah berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِي إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (TQS al-Baqarah [2]: 186).

Ketiga, keberadaan doa sebagai suatu ibadah tidak berarti bahwa kita boleh meninggalkan hukum kausalitas (sebab akibat). Sirah Rasulullah saw. adalah bukti yang nyata akan hal ini.

Sebagai contoh, Rasulullah saw. telah menyiapkan pasukan untuk perang Badar. Beliau mengatur pasukan masing-masing di tempatnya. Beliau juga telah menyiapkan mereka dengan persiapan yang baik. Kemudian setelah itu beliau masuk ke bangsalnya seraya meminta pertolongan kepada Allah. Beliau pada saat itu banyak sekali berdoa, hingga Abû Bakar berkata, “Wahai Rasulullah!, sebagian dari doamu ini telah cukup.”

Rasulullah saw. ketika diperintahkan untuk hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau telah melakukan sebab-sebab yang mungkin dilakukan, yang bisa mengantarkan pada keselamatan. Pada saat yang sama, beliau juga berdoa kepada Allah untuk kekalahan kafir Quraisy, agar Allah memalingkan mereka dari beliau dan menyelamatkannya dari makar mereka, serta menyampaikannya ke Madinah dengan selamat.

Pada saat itu Rasulullah saw. memilih untuk menghadap ke arah selatan dari pada ke arah utara menuju Madinah. Kemudian beliau bersembunyi di gua Tsur bersama Abû Bakar ra. Di gua Tsur itu beliau senantisa menerima berita dari Abdurrahman bin Abû Bakar tentang kaum Quraisy, rencana-rencana mereka, dan apa-apa yang mereka pikirkan untuk mencelakai beliau saw. Kemudian ketika Abdurrahman bin Abû Bakar kembali ke Makkah, ia diperintahkan untuk berjalan sambil menuntun kambing di belakangnya. Tujuannya agar bekas kaki kambing tersebut menghapus bekas kaki Abdurrahman bin Abû Bakar, untuk mengecoh kafir Quraisy.

Rasulullah saw. tinggal di gua Tsur selama tiga hari sampai upaya pencarian beliau tidak dilakukan lagi dengan gencar. Setelah itu beliau meneruskan perjalanan ke Madinah. Rasul saw. melakukan semua itu, meskipun yakin bahwa beliau akan sampai ke Madinah dengan selamat. Hal ini bisa dibuktikan dari jawaban beliau kepada Abû Bakar yang merasa khawatir ditangkap oleh kafir Quraisy ketika mereka ada persis di depan gua Tsur. Abû Bakar berkata,

يَا رَسُولَ اللهِ، لَو أنَّ أحَدَهُم نَظَرَ تَحتَ قَدَمَيهِ لأبصَرَنَا

“Jika salah seorang dari mereka melihat tempat berpijak kedua kakinya niscaya ia akan melihat kita.” Maka Rasulullah saw. berkata

مَا ظَنُّكَ يَا أبَا بَكْر باثنينِ اللهُ ثَالِثُهُمَا

“Apa perkiraan[1] engkau wahai Abu Bakr, (terhadap keadaan) dua orang (dimana) Allah adalah yang ketiganya (dalam memberi pertolongan)?”. (HR. al Bukhari)

Beranikah orang-orang tersebut mengatakan kepada Rasulullah “kalau memang yakin akan ditolong Allah, mengapa pakai sembunyi di gua segala?”.

Apa yang dilakukan Rasulullah itu menjelaskan kepada kita bahwa upaya menggunakan kaidah kausalitas dalam perjuangan adalah wajib, ketika sudah berdoa tidak berarti boleh meremehkan  usaha dengan menjalani kaidah kausalitas, melainkan doa itu harus senantisa menyertai setiap usaha dengan tetap menjalani kaidah kausalitas.

Maka siapa saja yang menginginkan tegaknya kembali Khilafah dalam waktu dekat ini, ia tidak boleh merasa cukup dengan hanya berdoa untuk mewujudkan keinginannya itu. Melainkan ia harus beramal bersama orang-orang yang tengah beraktivitas untuk mewujudkannya. Dia juga harus berdoa kepada Allah, memohon pertolongan untuk mewujudkan Khilafah dan mempercepat terwujudnya. Ia pun harus terus-menerus berdoa dengan ikhlas, dengan tetap berpegang pada kaidah kausalitas.

Keempat, Allah pasti akan mengabulkan setiap doa orang yang berdoa, dan akan mengabulkan orang yang terdesak dengan kebutuhannya ketika ia berdoa kepada-Nya. Hanya saja harus dipahami bahwa ijabah doa mempunyai pengertian syar’i tersendiri (hakikat syar’iyah) yang telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. Beliau bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إثمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ بها إِحْدَى ثَلاَثٍ خِصَالٍ: إِمَّا أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِذًا نُكْثِرُ قَالَ: اللَّهُ أَكْثَرُ

Tak seorang muslim pun yang berdoa kepada Allah dengan suatu doa yang di dalamnya tidak dosa dan memutuskan silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara, yaitu bisa jadi Allah akan mempercepat terkabulnya doa itu saat di dunia; atau Allah akan menyimpan terkabulnya doa di akhirat kelak, dan bisa jadi Allah akan memalingkan keburukan darinya sesuai dengan kadar doanya. Para sahabat berkata, “Kalau begitu kami akan memperbanyak doa.” Rasulullah saw. bersabda, “Allah akan lebih banyak lagi (mengabulkannya).” (HR. Ahmad, al-Bukhâri dalam al-Adab al-Mufrad). Allaahu A’lam. [M.Taufik NT]

di adaptasi dari kitab min muqawwimat an nafsiyyah al islamiyyah

Baca Juga:


[1] (ما ظنك) ما تقديرك لحالهما. (ثالثهما) بالمعونة والنصرة]

Posted on 15 November 2016, in Dakwah, Do'a, Ibadah, Kritik Pemikiran and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s