Marah yang Terpuji

Diriwayatkan dari Abu Darda’ r.a bahwa seorang lelaki berkata kepada Nabi saw:

دلني على عمل يُدخلني الجنة

Tunjukkan suatu amal yang akan memasukkanku kedalam surga.

Maka Rasulullah menjawab:

لا تغضب ولك الجنة

Janganlah engkau marah, maka bagimu surga. (HR. at Thabrani)

Hanya saja tidak selalu marah itu tercela, bahkan dalam beberapa hal marah itu terpuji. Imam as Syafi’i berkata:

مَنِ اسْـتُغْضِبَ وَ لَمْ يَغْضَبْ فَهُوَ حِمَارٌ

Siapa yang dibuat marah, tapi tidak marah maka dia adalah (seperti) keledai (Hilyatul Awliya’, 9/143)

Puluhan riwayat menceritakan tentang marahnya Rasulullah saw hingga wajah beliau memerah. Jika diperhatikan semua riwayat tersebut, marahnya Rasulullah bermuara pada sebab yang berhubungan dengan kepentingan agama dan umat. Marahnya beliau hanya untuk Allah dan karena Allah.

Rasulullah marah jika melihat penyimpangan dari ketentuan hukum syari’at. Ali bin Abi Thalib ra., pernah berkata:

كَسَانِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُلَّةً سِيَرَاءَ فَخَرَجْتُ فِيهَا فَرَأَيْتُ الْغَضَبَ فِي وَجْهِهِ فَشَقَّقْتُهَا بَيْنَ نِسَائِي

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberiku sejenis mantel yang bersulam sutera, kemudian aku keluar dengan mengenakannya, namun aku melihat kemarahan di wajah beliau, Maka pakaian itu aku potong untuk aku bagikan kepada para wanita di keluargaku[1].” (HR. al Bukhari dan Muslim)

Rasulullah juga marah ketika ada yang membuat susah umat Islam, walaupun itu dalam rangka ketaatan. Seorang laki-laki pernah datang kepada Rasulullah saw., ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي وَاللَّهِ لَأَتَأَخَّرُ عَنْ صَلاَةِ الغَدَاةِ مِنْ أَجْلِ فُلاَنٍ، مِمَّا يُطِيلُ بِنَا فِيهَا

“wahai Rasulullah, demi Allah aku melambat-lambatkan untuk shalat subuh karena (tindakan) fulan, yang memanjangkan shalat dalam mengimami kami”. Abû Mas’ud berkata,

فَمَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَطُّ أَشَدَّ غَضَبًا فِي مَوْعِظَةٍ مِنْهُ يَوْمَئِذٍ

“Aku belum pernah melihat Rasulullah saw marah ketika memberi nasihat dengan kemarahan yang lebih keras daripada kemarahan beliau pada saat itu.”

Kemudian Rasulullah saw. bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ، فَأَيُّكُمْ مَا صَلَّى بِالنَّاسِ فَلْيُوجِزْ، فَإِنَّ فِيهِمُ الكَبِيرَ، وَالضَّعِيفَ، وَذَا الحَاجَةِ

“Sungguh di antara kalian ada orang-orang yang membuat orang lain lari. Siapa saja di antara kalian yang menjadi imam shalat atas orang lain, maka hendaklah ia shalat dengan singkat. Karena di belakangnya ada orang yang sudah tua, lemah, dan orang-orang yang punya hajat.” (HR. al Bukhari dan Muslim).

Dalam penegakan hukum, ketika futuh Makkah, seorang perempuan dari suku terpandang telah mencuri, kaumnya minta tolong kepada Usamah ibn Zaid untuk melobi agar wanita tersebut bebas dari hukum potong tangan, maka seketika berubahlah wajah Rasulullah saw karena marah, Beliau pun berkata kepada Usamah:

أَتُكَلِّمُنِي فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ

apakah kamu akan mengatakan(mengajakku kompromi) dalam satu hukum di antara hukum-hukum Allah?. (HR. al Bukhari)

Jika dalam hal-hal sebagaimana diatas beliau marah, terlebih lagi dalam hal pelecehan kepada agama, beliau lebih marah lagi. Adalah Ibn Abi Sarh (Abdullah bin Sa’d) yang masuk Islam, lalu jadi menjadi penulis wahyu, lalu murtad, kembali ke kafir Quraisy lalu membuat ‘lelucon’ tentang al Qur’an dan ‘membodoh-bodohkan’ Nabi, Ibnu Ishaq menceritakan bahwa Ibn Abi Sarh berkata:

والله لو أشاء لقلت كما يقول محمد وجئت بمثل ما يأتي به، إنه ليقول الشيء وأصْرِفه إلى شيء، فيقول: أصَبْتَ…

Demi Allah, kalau aku mau niscaya aku bisa mengatakan seperti apa yang dikatakan Muhammad, aku juga bisa mendatangkan semisal yang didatangkannya (al Qur’an), dia mengatakan sesuatu, maka aku palingkan kepada sesuatu yang lain, lalu dia katakan : “engkau benar”.[2]

Nabi saw sangat marah, hingga ketika pembebasan kota Makkah, Ibn Abi Sarh termasuk golongan yang termasuk dalam perintah Rasul:

اقْتُلُوهُمْ وَإِنْ وَجَدْتُموهُمْ تَحْتَ أَسْتَارِ الكَعْبَةِ

Bunuhlah mereka walaupun kalian menjumpai mereka berlindung pada tirai ka’bah (Tuhfatul Ahwadzi, 5/279) [3]

Beliau memang pada akhirnya mengampuni Ibn Abi Sarh, dan Ibnu Abi Sarh bertaubat, kembali kepada Islam dan berjihad bersama sahabat yang lain. Rasulullah bisa marah bahkan menginstruksikan bunuh, namun disisi lain beliau pemaaf, bahkan Wahsyi yang membunuh paman beliau, Hamzah r.a, dan Hindun yang me’mutilasi’ jenazah paman terkasih beliau juga beliau maafkan.

Bandingkanlah sikap Beliau saw dengan sikap sebagian umat yang sok ‘bijak’, yang menganjurkan agar jangan marah saat agama dinistakan, dijadikan ‘lelucon’ dan bahan tertawaan, apakah mereka merasa lebih bijak dari Rasulullah saw? Allâhu A’lam. [M.Taufik NT]

Baca Juga:


[1] yakni istri, ibu, anak perempuan paman beliau (Hamzah), dan istri saudara laki-laki beliau (Akil ra)

[2] Arsyif Multaqa Ahlil Hadits – 4, 33/222. Maktabah Syamilah

[3] al Mubarokfuri (w. 1353), Tuhfatul Ahwadzi, 5/279, lihat juga Ibnu Hisyam (w. 213 H), Siroh Nabawiyyah, 2/409. Maktabah Syamilah.

فأمن الناس كلهم إلا أربعة: ابن أبي سَرْح، وابن خَطَل، و مِقْيَس الكناني، وامرأة أخرى

Posted on 12 November 2016, in Akhlaq, Kritik Pemikiran, Politik, Syari'ah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s