Kok ‘Kasus Ahok Saja’ yang Dibesar-besarkan

– : Bayaknya orang melecehkan alQur’an, kenapa hanya ahok yg dibesar-besarkan? ini pasti muatannya politik saja!

+ : kalau ‘wong cilik’ yg melakukan memang tidak perlu respon besar, karena pengaruhnya juga tdk besar, begitu dilaporin langsung bisa ditindak aparat, lihat saja kasus orang ‘gila’ yg menuduh nabi Adam mengajarkan incest dan menghina nabi Ibrahim, kan mudah selesainya. Hukuman untuk orang kecil dan bodoh memang akan beda dg untuk orang yg pengaruhnya besar.

– : kalau begitu artinya tidak adil, masa org kecil dan besar perlakuannya beda.

+ : kalau gitu nanti anda minumnya pakai dot saja, atau netek lagi ke ibumu.

– : heee, masak saya disamakan dengan anak kecil.

+ : haa, anda minta perlakuan berbeda dengan anak kecil, anda mau tidak adil?

– : adil itu tidak mesti sama persis kan?

+ : nah, anda sudah jawab sendiri kenapa kasus ahok beda dengan penistaan yang dilakukan ‘anak’ kecilkan. Dulu ketika seorang penguasa, musailamah, mengaku nabi dan mengutus utusan kepada Rasulullah, beliau menyatakan: “andai utusan boleh dibunuh, niscaya kubunuh kalian berdua”. Setelah beliau wafat, khalifahpun memerangi musailamah.
Namun berbeda jika pelakunya orang kecil dan bodoh, seperti masa khalifah al Makmun (masa setelah Khalifah Harun ar Rasyid), seorang wanita mengaku nabi. Berikut diskusi Al Makmun dengan wanita tsb.

من أنتِ
”Siapa namamu?”

أنا فاطمة النبية.
”Aku Fatimah sang nabi.”

أتؤمنين بما جاء به محمد صلى الله عليه وسلم؟
”Apa kau percaya apa yang disampaikan baginda Nabi Muhammad SAW?”

نعم، كل ما جاء به فهو حق
”Ya. Apa saja yang Beliau bawa adalah benar”

فقد قال محمد صلى الله عليه وسلم: ” لا نبي بعدي

”sesunguhnya Nabi Muhammad SAW bersabda La nabiyya ba’dy, tak ada nabi sesudahku?”

صدق عليه الصلاة والسلام، فهل قال:لا نبية بعدي؟

”Beliau benar. Tapi apakah Beliau mengatakan : laa nabiyyata ba’dy (tidak ada nabi perempuan setelahku)?.”

al Makmun menyudahi pemeriksaan:
أما أنا فقد انقطعت، فمن كانت عنده حجة فليأت بها،

Adapun aku, aku sudah cukup (meladeninya), jika ada yang punya hujjah hendaklah dia mendatangkannya.

Beliau tertawa terpingkal-pingkal dan menutupi wajahnya. [Syaikh An Nuwairy (w. 733 H), Nihayatul Arab fi Fununil Adab, 4/15. Maktabah Syamilah]
—-
Jadi, kalau yg dihadapi org bodoh dan tdk berpengaruh ke masyarakat mungkin cukup ‘ditertawakan’ saja, dinasehati dan ‘dibina’, (hanya saja kalau kasus seperti itu terjadi sekarang, bisa jadi banyak pengikutnya, hingga perlu lebih serius ditangani, beda dg dulu, dari ungkapan wanita tsb masyarakat mungkin sudah melihat jelas ‘kebodohannya’). Allaahu A’lam. [M.Taufik NT]

Posted on 2 November 2016, in Kritik Pemikiran. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s