Mempersiapkan Kematian

Bagaimanapun kondisi kita, perbuatan kita, juga bagaimanapun rumah kita di dunia, kuburanlah ‘rumah singgah’ kita menuju negeri keabadian. Bagaimanapun juga pakaian kita, mau menutup aurat atau mengumbar aurat, kelak hanya kain kafanlah yang menyertai ‘perjalanan’ yang entah berapa lama akan berakhir.

Di sana, ahli maksiyat akan hitam jelek wajahnya walaupun didunia dia berwajah cemerlang dengan make up yang mahal. Sebaliknya orang yang menghiasi dirinya dengan taqwa akan bersinar wajahnya. Jika kita malu berwajah hitam jelek di dunia, padahal hidup didunia ini sebentar, tidakkah kita malu jika membawa wajah jelek penuh dosa saat menghadiri ‘muktamar’ seluruh manusia di padang Makhsyar?. Sudahkah kita bersiap menghadapinya?

Diriwayatkan dari Zaid bin Ali dari bapaknya bahwa Rasulullah bertanya kepadanya: “siapa manusia yang paling jenius?” maka dia mengatakan : “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Kemudian Rasulullah menyatakan:

إِنَّ أَكْيَسَ النَّاسِ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لَهُ اسْتِعْدَادًا

“sesungguhnya manusia yang paling jenius adalah yang paling banyak mengingat mati dan paling bagus dalam mempersiapkannya”[1][Musnad al Hârits, 2/998]

Kematian bukanlah hal yang aneh, namun yang aneh adalah kita jika tidak mempersiapkannya, padahal kita semua tahu pasti akan menghadapinya, kita juga tahu bahwa kedatangannya bisa tiba-tiba, mengapa kita tidak selalu siap sedia?.

Mempersiapkan kematian tidaklah semata dengan diam di mesjid hingga melupakan aktivitas hidup yang lain. Mempersiapkan kematian adalah dengan meninggalkan kemungkaran dan mengembalikan hak-hak orang lain yang pernah didzaliminya. Bagaimana mungkin seseorang bisa nyenyak tidurnya padahal ada hak orang lain yang belum dia kembalikan, padahal bisa jadi dia ‘tidak bangun’ lagi?. Allah berfirman:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan (QS. Az Zumar : 42)

Bagaimana dia bisa menikmati tidur padahal dia tahu bahwa hak-hak manusia tidak akan diampuni sebelum pemilik hak itu ridha?

dari Abdullah bin Abi Qatadah dari ayahnya, ia berkata;

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا مُقْبِلًا غَيْرَ مُدْبِرٍ أَيُكَفِّرُ اللَّهُ عَنِّي خَطَايَايَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ فَلَمَّا وَلَّى الرَّجُلُ نَادَاهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ أَمَرَ بِهِ فَنُودِيَ لَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ قُلْتَ فَأَعَادَ عَلَيْهِ قَوْلَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ إِلَّا الدَّيْنَ كَذَلِكَ قَالَ لِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام

telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berkata; wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda apabila saya terbunuh di jalan Allah dengan bersabar, mengharapkan pahala, dan maju tidak mundur, apakah Allah akan mengampuni dosa-dosaku? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ya.” Kemudian setelah orang tersebut pergi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya atau beliau memerintahkan untuk memanggil orang tersebut maka orang itupun dipanggil. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apa yang kamu tanyakan (tadi)?” Maka orang tersebut mengulanginya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya, kecuali hutang. Demikianlah Jibril ‘alaihissalam mengatakan kepadaku.” (HR. An Nasa-i)

Mempersiapkan kematian juga dengan cara membersihkan hati dari dendam dan permusuhan, dan dengan bersungguh-sungguh mengerjakan berbagai kebaikan, meninggalkan apa yang dilarang dan semua ini tidak akan terlaksana dengan baik jika hati kita masih sangat mencintai perhiasan dunia.

Jika perhatian terbesar kita adalah untuk urusan dunia, adalah wajar kalau kita tidak akan bersiap menghadapi mati, bahkan benci dengan kematian. Khalifah ‘Umar bin Abdul Aziz pernah bertanya kepada Abu Hâzim,

ما بالنا نحب الحياة ونكره الموت؟

“mengapa kita mencintai kehidupan dan membenci kematian?”

Abu Hâzim menjawab

لأنا عمرنا الدنيا ولم نعمر الآخرة، فنكره أن نتقل من الأعمار إلى الخراب

“karena kita telah memakmurkan dunia dan tidak memakmurkan (meruntuhkan) akhirat, maka kita tidak suka berpindah dari tempat yang makmur menuju tempat yang runtuh” [Syarh al Muwaththa’, 48/18][2]

Kalau itu ‘perasaan’ mereka dalam menilai diri mereka sendiri, padahal mereka adalah orang-orang yang terbaik masa itu, yang hidup di zaman yang disebut para ‘ulama dengan ‘khilafah rasyidah’ yang kelima, lalu apa yang bisa kita nilai dari diri kita saat ini? Sudahkah kita merasa bekal kita untuk akhirat sudah cukup hingga kita lebih memilih santai dalam hidup, enggan bersusah payah berjuang untuk ketaatan kita dan tegaknya syari’ah Allah dalam sistem Khilafah? Jika kita merasa sudah cukup, sungguh kita adalah orang yang tertipu. Na’ûdzu billaah. [M.Taufik NT]

Baca Juga:


[1] Ibnu Abi Usamah (w. 282H), Musnad al Hârits, 2/998

[2] Abdul Karim al Khudloir, Syarh al Muwaththa’, 48/18, maktabah syamilah, halaman otomatis.

Posted on 27 Oktober 2016, in Aqidah, Khutbah Jum'at and tagged . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Alhamdulillah Ulun Jadikan Blog Pian Sebagai Bacaan di ruang kerja..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s