Penyucian Jiwa (Sisi Lain Kisah Uwais)

Ketika orang-orang Yaman datang, Umar menyelidiki rombongan dan bertanya, apakah ada diantara kalian yang berasal dari Qaran (salah satu dari kabilah Murad)?”

Kemudian dia mendatangi orang-orang yang berasal dari Qaran dan bertanya; “Siapa kalian?” Mereka menjawab; “Orang-orang Qaran.”

Kemudian tali kekang Umar atau Uwais terjatuh dan salah seorang dari keduanya (Umar atau Uwais) mengambilkan untuk yang lainnya sehingga dia mengenalnya,

Umar bertanya; “Siapa namamu?”

Dia menjawab; “Saya Uwais.”

Umar bertanya; “Apakah kamu mempunyai seorang ibu?”

Dia menjawab; “Ya.”

Umar bertanya lagi; “Apakah kamu pernah mengalami penyakit belang?”

Dia menjawab; “Ya, dan aku memohon kepada Allah ‘azza wajalla, kemudian Allah menghilangkannya dariku, kecuali masih tersisa sebesar uang dirham di bagian pusarku sebagai pengingat kepada Rabbku.”

Kemudian Umar berkata kepadanya; “Mohonkan ampun untukku.”

Uwais menjawab; “Kamu orang yang lebih patut memohonkan ampun untukku karena kamu telah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Maka Umar berkata; “Sesungguhya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِينَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ وَلَهُ وَالِدَةٌ وَكَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَدَعَا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَأَذْهَبَهُ عَنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ الدِّرْهَمِ فِي سُرَّتِهِ فَاسْتَغْفَرَ لَهُ

“Sesungguhnya orang yang paling baik dari generasi tabi’in adalah seorang lelaki yang dipanggil dengan nama Uwais, mempunyai seorang ibu dan pernah mengalami penyakit belang kemudian dia memohon kepada Allah, dan Allah menyembuhkannya kecuali masih tersisa sebesar uang dirham di bagian pusarnya.”

Akhirnya dia memohonkan ampun untuk Umar, kemudian masuk ke dalam kerumunan orang sehingga tidak terlihat lagi di mana posisinya.” (HR. Ahmad)

***

Coba bayangkan andai kita diposisi ‘Uwais, apakah kita akan pergi begitu saja dan menghilang dikerumunan orang, ataukah kita akan mengajak sayyidina ‘Umar ber selfie lalu kita upload, dan dalam hati kita terbersit rasa ingin populer, numpang kepopuleran ‘Umar.

Kadang aktivitas dakwah yang tidak seberapa itupun masih masih dikotori oleh sebersit rasa ingin mempopulerkan diri… jika dalam hati ingin mempopulerkan dakwah, membesarkan agama ini, itu tentunya tidak mengapa.

Memang mengupload kegiatan dakwah juga termasuk syi’ar Islam yang akan menyemarakkan dakwah, dan itu bagus dan perlu dilanjutkan, hanya saja menjaga dan membersihkan hati juga wajib, karena kebersihan hati dan motivasi yang benar merupakan salah satu faktor penentu kesuksesan dakwah.

Pernah ditanyakan kepada Hamdûn al Qoshshôr (w. 271 H):

ما بال كلام السلف أنفع من كلامنا ؟

“mengapa perkataan orang salaf (generasi dahulu/ shahabat-tabi’in dan tabiut tabi’in) lebih bermanfaat daripada perkataan kita?”

Beliau menjawab:

لأنهم تكلموا لعز الإسلام ورضى الرحمن، و نحن نتكلم لعز النفوس، و طلب الدنيا، و رضا الخلق

“Karena mereka berkata-kata untuk kemuliaan Islam, dan (mengharap) ridla dari Ar Rahman, sedangkan kita dengan berkata-kata untuk kemuliaan diri, mencari dunia dan (mendapatkan) ridla makhluk. [Shifatu as Shafwah, 2/314][1]

Dengan kebersihan hatinya, adalah wajar jika perkatan Uwais mudah mengena dihati pendengarnya, Usair (perowi hadits) berkata;

وَكُنَّا نَجْتَمِعُ فِي حَلْقَةٍ فَنَذْكُرُ اللَّهَ وَكَانَ يَجْلِسُ مَعَنَا فَكَانَ إِذَا ذَكَرَ هُوَ وَقَعَ حَدِيثُهُ مِنْ قُلُوبِنَا مَوْقِعًا لَا يَقَعُ حَدِيثُ غَيْرِهِ

“ketika kami sedang berkumpul dan berdzikir kepada Allah dia (Uwais) duduk bersama kami, dan apabila dia berbicara maka kata-katanya mengena pada hati kami, yang tidak seperti bicaranya orang lain.” (HR. Ahmad).

Jika seseorang sudah benar motivasi dalam menyampaikan ilmunya, dan yang mendengar juga benar motivasinya, maka akan mudah pemahaman yang benar itu diperoleh. Namun jika salah satunya motivasinya tidak benar, lebih parah lagi jika keduanya hanya termotivasi untuk mendapatkan dunia saja, maka merupakan hal yang sulit untuk sampai kepada pemahaman yang benar, apalagi berharap perubahan sikap dan prilaku. Bagaimana dengan sistem pendidikan sekarang?. Anda bisa menilainya sendiri.  Allaahu A’lam. [M. Taufik NT]

Baca juga:


[1] Imam Ibnul Jauzy (w. 597 H), Shifatu as Shafwah, 2/314, Maktabah Syamilah

Posted on 22 Oktober 2016, in Akhlaq, Mutiara Hadits, Pendidikan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s