Penjelasan Kritik Sanad Hadits “Man Lam Yahtamma…”

Oleh Ust Yuana Ryan Tresna

حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْخَلَدِيُّ، ثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْقَطَّانُ، ثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ الْعَطَّارِ، ثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ بِشْرٍ، ثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ شَقِيقٍ، عَنْ سَلَمَةَ، عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآَلِهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” مَنْ أَصْبَحَ وَالدُّنْيَا أَكْبَرُ هَمِّهِ، فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ، وَمَنْ لَمْ يَتَّقِ اللَّهَ، فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ، وَمَنْ لَمْ يَهْتَمَّ لِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، فَلَيْسَ مِنْهُمْ “. مستدرك الحاكم

Terkait hadits “… من لم يهتم للمسلمين عامة فليس منهم  ” ada beberapa jalur periwayatan: pertama, dari Hudzaifah ra. (Lihat ath-Thabarani, al-Mu’jamul Awsath, 7/270). Al-Haitsami berkata (Lihat Majma’uz Zawaa’id, 1/47), “di dalamnya ada Abdullah bin Abi Ja’far ar-Razi, yg didhaifkan oleh Muhammad bin Humaid dan ditsiqahkan oleh Abu Hatim, Abu Zur’ah, dan Ibn Hibban”. Ibn Rajab dalam kitab Jaami’ul Ulum wal Hikam (9/2) mencantumkan hadits tersebut dari Hudzaifah tanpa komentar.

Kedua, dari Abu Dzar (riwayat ath-Thabarani). Menurut al-Haitsami (Lihat Majma’uz-Zawaa’id, 11/143), di dalamnya ada Yazid bin Rabi’ah, dan dia matruk.

Ketiga, dari Ibn Mas’ud ra. (Lihat riwayat al-Hakim, 4/356). Imam adz-Dzahabi dalam kitab at-Talkhish mengatakan di dalamnya ada Ishaq dan Maqaatil yang keduanya tidak tsiqah dan juga tidak shadiq.

Keempat, dari Anas ra. dengan lafazh: “wa man laa yahtam lil muslimina falaysa minhum” (al-Baihaqi, Sya’bul Iman, 22/11). Al-Baihaqi menegaskan bahwa isnadnya dha’if.

Demikian juga dengan asy-Syaukani (Lihat al-Fawaa’idul Majmu’ah, 1/40), beliau mengatakan bahwa hadits tersebut dhaif.

Berkaitan dengan beragamnya jalur, riwayat dan komentar seperti disebutkan sebelumnya, ahsan jika kita menyimak apa yang disampaikan oleh Ibn katsir, beliau berkata: “meriwayatkan hadits bil ma’na dibolehkan oleh jumhur manusia, salaf dan khalaf.. dan diamalkan“. Syaratnya adalah bahwa yang meriwayatkan tahu atas yang dia riwayatkan, bashiirah terhadap lafazh dan maksud dari lafazh. (Lihat al-Baa’its al-Hatsits Fikhtishaari ‘Ulumil Hadits, 18).

Untuk konteks hadits ini, ihtimam terhadap urusan kaum Muslim ditegaskan pada banyak ayat al-Qur’an dan hadits shahih, diantaranya:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain….” [At-Taubah :71]

 وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“(Mereka) nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”[Al ‘Ashr : 3]

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya seperti ia mencintai untuk dirinya sendiri” (HR Al-Bukhari (1/14 no. 13), Muslim (1/67, 68 no. 45) dan lain-lain, dari hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu)

 مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عَضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى .

“ Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam rasa cinta mereka, kasih-sayang mereka, dan kelemah-lembutan mereka bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya merasakan sakit dengan tidak tidur dan demam” (HR Muslim (4/1999 no. 2586), dan lain-lain, dari hadits An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu)

Di samping itu, ada yang berpendapat jika terdapat hadits yang sanadnya dha’if tetapi “talaqqathul ulama’ bil qabuul” wajib diambil. Bahkan, para muhaqqiq seperti Ibn Taimiyyah, as-Subki, dan Ibn Abdis Salam menegaskan, bahwa para ulama mengambil hadits yang isnadnya masih “perlu dikaji”, seperti hadits “… من لم يهتم للمسلمين عامة فليس منهم “. Lebih dari itu, mereka menjadikannya sebagai dalil dan sandaran salah satu rukun tasyri’ yang empat (Lihat Arsyif Multaqa Ahlil Hadits, 1/6747). Yang perlu menjadi catatan, bahwa term talaqqathul ummah bil qabul itu tidak ada hubungannya dengan ijma’ atau pembahasan tentang ijma’ mana yang merupakan dalil syara. Istilah tersebut digunakan oleh para ulama untuk suatu hal yang ditransmisikan di tengah-tengah umat, dan tidak ada penolakan dari umat karena memang hal tersebut masyru’ dalam Islam.

Dengan demikian, hadits tersebut di atas bersumber dari beberapa shahabat, dan kebanyakan ulama hadits mendha’ifkan, hanya saja untuk jalur dari Hudzaifah ra. yg diriwayatkan oleh ath-Thabarani; al-Haitsami, Abu Zur’ah, Abu Hatim, dan Ibn Hibban mentsiqahkan Abdullah bin Abi Ja’far ar-Razi. Jadi sebenarnya hadits tersebut makbul. Bahkan ketika Ibn Rajab mencantumkan hadits tersebut dalam kitabnya, dan tidak memberikan komentar apapun, menunjukkan penerimaan beliau terhadap hadits tersebut. Artinya, menurut Ibn Rajab hadits tersebut makbul. Demikian juga perlu dipahami bahwa tidak semua hadits yang sanadnya dha’if matannya otomatis dha’if, karena ada syahid (penguat) pada riwayat yang lain.

Walaupun hadits tersebut pada kebanyakan sanadnya adalah dha’if, tetapi karena ‘talaqqathul ‘ulama bil qabul’, menurut para ulama wajib diambil. Selain itu, meski hadits tersebut pada kebanyakan jalur sanadnya dha’if, tetapi dari segi maknanya sejalan dengan hadits-hadits shahih dan ayat-ayat al-Qur’an yang mewajibkan ihtimam atas kaum muslimin dan urusan mereka. Jadi, bisa dikatakan bahwa periwayatan hadits tersebut adalah bil ma’na, dan ini bagi para ulama salaf dan khalaf adalah boleh. Jika demikian, maka “… من لم يهتم للمسلمين عامة فليس منهم ” adalah adalah makbul, karena: (1) ada sebagian riwayatnya yang makbul; (2) hadits tersebut diriwayatkan “bil ma’na“, dan secara makna sejalan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits shahih yg mewajibkan ihtimam terhadap umat Islam dan urusan mereka; (3) hadits tersebut “talaqqathul ulama’ bil qabul“.

catatan tambahan:

(1) tidak semua hadits yang sanadnya dha’if matannya otomatis dha’if..karena bisa jadi ada syawahid (penguat) pada riwayat yang lain..atau bil makna sejalan dengan hadits-hadits shahih atau hasan yang diriwayatkan dengan jalur lain.

(2) terkait dengan hadits “man laa yahtam biamril muslimin falaisa minhum..” maka perlu kami tegaskan kembali:
(a) tema hadits ini adalah “ihtimam biamril muslimin”, misalnya amar ma’ruf nahi munkar (Ali Imran 104 dan 110), hadits saling menasehati antar sesama muslim (Muttafaq alaih, Ahmad, dan an-Nasa’i), mencintai saudara muslim layaknya mencintai diri sendiri (Muttafaq alaih), izalah (menghilangkan) kemunkaran (Shahih Muslim), dan banyak lagi yang lain. Jadi benar secara bilma’na selain didukung al Qur’an juga hadits-hadits shahih. Makanya, hadits tersebut masyhur di kalangan para fuqaha’… dan maudhu’ hadits tersebut talaqqathul ummah bil qabul.
(b) talaqqathul ummah bil qabul itu tidak ada hubungannya dengan ijma’ atau pembahasan tentang ijma’ mana yang merupakan dalil syara. Istilah tersebut digunakan oleh para ulama untuk suatu hal yang ditransmisikan di tengah-tengah umat, dan tidak ada penolakan dari umat karena memang hal tersebut “masyru’..” dalam Islam. Jadi penegasannya memang merupakan perkara yang masyru’.
(c) kalau mencermati penjelasan terkait hadits di atas, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang sanad hadits tersebut, ada yang mendha’ifkan dan ada juga yang menerima. Kalau kita kaitkan dengan bahwa hadits tersebut masyhur menurut para fuqaha’ dan dari segi maudhu’nya (maudhu’ yang disyariatkan oleh Islam baik dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah), maka hadits tersebut makbul baik dari segi sanad maupun matannya.

yuana ryan tresna

 حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْخَلَدِيُّ، ثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْقَطَّانُ، ثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ الْعَطَّارِ، ثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ بِشْرٍ، ثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ شَقِيقٍ، عَنْ سَلَمَةَ، عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآَلِهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” مَنْ أَصْبَحَ وَالدُّنْيَا أَكْبَرُ هَمِّهِ، فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ، وَمَنْ لَمْ يَتَّقِ اللَّهَ، فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ، وَمَنْ لَمْ يَهْتَمَّ لِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، فَلَيْسَ مِنْهُمْ “. مستدرك الحاكم

Terkait hadits “… من لم يهتم للمسلمين عامة فليس منهم  ” ada beberapa jalur periwayatan: pertama, dari Hudzaifah ra. (Lihat ath-Thabarani, al-Mu’jamul Awsath, 7/270). Al-Haitsami berkata (Lihat Majma’uz Zawaa’id, 1/47), “di dalamnya ada Abdullah bin Abi Ja’far ar-Razi, yg didhaifkan oleh Muhammad bin Humaid dan ditsiqahkan oleh Abu Hatim, Abu Zur’ah, dan Ibn Hibban”. Ibn Rajab dalam kitab Jaami’ul Ulum wal Hikam (9/2) mencantumkan hadits tersebut dari Hudzaifah tanpa komentar.

Kedua, dari Abu Dzar (riwayat ath-Thabarani). Menurut al-Haitsami (Lihat…

Lihat pos aslinya 670 kata lagi

Posted on 22 Oktober 2016, in Dakwah, Mutiara Hadits. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s