Rekonstruksi Sukses

Sukses dalam pandangan banyak orang tua adalah ketika mereka berhasil berumah tangga dengan tentram, berkecukupan materi, dan anak-anaknya sudah berumah tangga pula dengan pekerjaan yang ‘mapan’. Seorang kepala negara, akan merasa sukses jika bisa menumbuhkan ekonomi, melakukan berbagai pembangunan infra struktur, dan disenangi oleh rakyatnya. Seorang kiai merasa sukses ketika ribuan orang menjadi ‘muhibbin’ (pecinta) nya, sementara pesantrennya selalu dipenuhi ribuan santri. Seorang santri/siswa/mahasiswa merasa sukses jika bisa lulus dengan nilai sangat memuaskan, lalu memperoleh pekerjaan dengan gaji yang ‘wah’, kemudian berumah tangga dengan pasangan yang diidam-idamkan, dan memiliki anak-anak yang menyenangkan. Tak heran jika dalam temu alumni (reuni), yang menjadi pembicaraan adalah seputar kesuksesan seperti itu.

Pemahaman tentang sukses semacam ini tumbuh subur pada masyarakat yang hidup dalam kapitalisme yang berasas sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan), akibatnya berbagai cara dilakukan untuk mencapai sukses, tidak peduli halal ataukah haram. Orang tua tetap merasa sukses ketika anaknya menjadi karyawan lembaga yang bergelut dengan riba, atau menjadi artis terkenal yang sekali ‘manggung’ honornya ratusan juta walaupun untuk itu harus mengumbar auratnya. Kepala negara merasa sukses jika pertumbuhan ekonomi selalu meningkat walaupun peningkatan itu dinikmati oleh orang-orang asing, bukan rakyatnya.

Seorang muslim seharusnya memiliki visi yang jauh kedepan dalam memandang kesuksesan, dunia ini hanyalah waktu yang pendek, sebentar, sementara akhirat itulah sebenar-benarnya kehidupan. Seseorang dikatakan sukses jika dia bisa menjalani kehidupan yang sebentar ini dengan penuh ketaatan terhadap aturan-aturan Allah SWT, baik dengan ketaatannya itu hidupnya akan berlimpah materi maupun sebaliknya. Seorang da’i atau kyai seharusnya juga mengukur kesuksesan dengan tolok ukur: apakah sudah menyampaikan kebenaran apa adanya, menjelaskan sejelas-jelasnya dan mengamalkan ilmunya atau belum, adapun apakah masyarakat menerima atau justru memusuhi itu masalah lain. Jika tidak dengan tolok ukur demikian, niscaya nabi Nuh a.s bisa dikatakan gagal karena umatnya justru lari dari dakwah beliau, nabi Yahya a.s juga gagal karena raja Herodia justru membunuhnya.

Dua sahabat yang superkaya, Utsman bin ‘Affan r.a dan Abdurrahman bin ‘Auf r.a, adalah orang sukses karena menjalani kehidupannya dalam keta’atan kepada Allah swt, begitu juga Abu Dzar al Ghifari juga orang sukses walaupun beliau miskin, atau bahkan Ibnu Sirin, seorang tabi’in yang dipenjara karena tidak sanggup bayar hutang juga orang sukses karena berhasil menghindari syubhat walaupun resikonya hutangnya membengkak.

Sebaliknya orang yang bergelimang harta dengan bisnis haram, beli mobil mewah dan rumah mewah dengan riba, mendapat berbagai gelar akademik dan jabatan dengan cara yang curang, menjadi kepala daerah atau bahkan kepala negara namun tidak sanggup membawa rakyat dan negaranya untuk taat kepada syari’ah Allah swt, pada hakikatnya mereka adalah orang-orang gagal, apa yang mereka dapatkan nantinya hanya akan menjadi penyesalan di hari akhir.

Pendek kata, seseorang sukses secara hakiki jika dia diberikan kelapangan dalam menjalani hidup ini sesuai dengan aturan-aturan Allah SWT. “Tanda kesuksesan di akhir urusan adalah merujuknya ia terhadap Allah sejak awal urusan”, demikian kata Syaikh Ibnu athaillah as Sakandari dalam al Hikam. Jika hidup seperti ini yang dijalani, maka kelapangan hidup akan diberikan, baik dia hidup berlimpah materi ataupun ala kadarnya. Sebaliknya jika tidak, maka walaupun hidup bergelimang kenikmatan jasmani, namun tidak ada kelapangan jiwa yang dirasakan didunia ini, lebih dari itu orang yang paling banyak mendapatkan kenikmatan di dunia, dengan sekali celup dan sebentar saja di neraka, hilanglah semua rasa dan ingatan tentang nikmat tersebut. Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik r.a bahwa Rasulullah saw bersabda:

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

“Pada hari kiamat nanti akan didatangkan penduduk neraka yang ketika di dunia adalah orang yang paling merasakan kesenangan di sana. Kemudian dia dicelupkan di dalam neraka sekali celupan, lantas ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan sebelum ini? Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan sebelum ini?’. Maka dia menjawab, ‘Demi Allah, belum pernah wahai Rabbku!’. Dan didatangkan pula seorang penduduk surga yang ketika di dunia merupakan orang yang paling merasakan kesusahan di sana kemudian dia dicelupkan ke dalam surga satu kali celupan. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kesusahan sebelum ini? Apakah kamu pernah merasakan kesusahan sebelum ini?’. Maka dia menjawab, ‘Demi Allah, belum pernah wahai Rabbku, aku belum pernah merasakan kesusahan barang sedikit pun. Dan aku juga tidak pernah melihat kesulitan sama sekali.’.” (Shahih Muslim). Allaahu A’lam. [M.Taufik NT]

Baca Juga:

Posted on 20 Oktober 2016, in Kritik Pemikiran. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s