Ahok Melecehkan Al Qur’an, Itu Fitnah?

Terlalu cinta, maupun terlalu benci itu bisa membutakan mata dan menulikan telinga. Setelah kasus Ahok dipermasalahkan karena pelecehan terhadap al Qur’an, mulai muncul ‘serangan balik’. Para pembela Ahok kemudian menjadi ‘juru tafsir’ ucapan Ahok dengan menyatakan bahwa Ahok tidak sedang melecehkan al Qur’an. Mereka katakan ucapan Ahok “karena dibohongin pakai surat al ma-idah 51” bukan berarti surat al maidahnya yang bohong, tapi  ada orang yang membohongi masyarakat MEMAKAI surat Almaidah 51. *)

Kalaupun yang diucapkan adalah “dibohongi pakai surat Al Maidah 51” maknanya memang yang bohong belum tentu surat Al Maidah 51, namun orang yang menggunakan surat Al Maidah 51 itulah yang berbohong.

Namun pembelaan macam inipun tidak tepat karena orang yang menyampaikan surat Al Maidah 51 untuk menyatakan haramnya muslim mengangkat orang kafir sebagai pemimpin bukanlah orang yang sedang berbohong, karena surat Al Maidah 51 memang maknanya begitu (baca: Mengangkat Pemimpin Kafir; Ikhtilaf?  juga baca  Al Maidah 51), menuduh mereka berbohong memakai surat al Maidah 51 sama artinya dengan menuduh para ‘Ulama berbohong,  bahkan menuduh ‘Umar bin Khattab r.a berbohong ketika membacakan ayat ini kepada Abu Musa al Asy’ari r.a agar memberhentikan pegawainya (juru tulisnya) yang kafir (padahal kalau sekedar juru tulis saja itu masih ikhtilaf).

Beda kasusnya jika seseorang menyampaikan al Qur’an lalu maknanya sekedar dicocokkan dengan keinginannya, padahal maknanya seharusnya tidak begitu, itu baru bisa dikatakan membohongi pakai al Qur’an.

Seperti dulu ketika HJ. Naro, (politisi dari PPP) mencalonkan jadi Wakil Presiden RI (1988), ada yang menggunakan ayat 6 dari surat At Tahrim:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Lalu dimaknai: “wahai orang-orang yang beriman, jauhkan diri dan keluarga kalian dari NARO”

Atau saat masih 3 partai dulu, ada yang menggunakan ayat ke 35 surat al Baqarah:

وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

Lalu dimaknai : “janganlah kalian berdua mendekatai POHON INI sehingga kalian termasuk orang-orang dzalim”

Lalu ayat ini digunakan untuk ‘menyerang’ golkar karena simbolnya pohon. Maka hal tersebut memang membohongi dan mempolitisir ayat, karena maksud ayat-ayat tersebut tidaklah demikian.

Adapun ayat 51 dari al Maidah, Ahok katakan “konteksnya bukan itu. Konteksnya jangan pilih nasrani yahudi jadi temenmu, sahabatmu” … harusnya kalau ada “kyai” yang ngajari ngaji ahok, jangan lupa juga untuk ngajari kalau para ‘ulama menggunakan  mafhum muwafaqah pada ayat ini untuk keharaman pemimpin kafir: jika jadi teman (karib) atau wali saja dilarang, tentu menjadikan mereka pemimpin lebih dilarang lagi, karena pemimpin itu lebih dari teman dekat dalam mempengaruhi dan menjalankan apa yang dimauinya, dia bisa memaksa sementara teman tidak bisa. Sama halnya ketika al Qur’an mengatakan “jangan engkau katakan kepada kedua orang tuamu ‘uf’/cih”. Ayat ini walaupun konteksnya ucapan, namun dengan mafhum muwafaqah juga bermakna “larangan memukul orang tua”, karena kalau sekedar mengucapkan “cih” saja dilarang, apalagi memukul tentu lebih berat lagi. lebih dari itu semua, para ‘ulama tidak hanya mendasarkan pada surat al maidah 51 saja dalam pengharaman pengangkatan orang kafir sebagai pemimpin. (baca: Mengangkat Pemimpin Kafir; Ikhtilaf?).

Hal kedua yang dilakukan untuk melakukan pembelaan adalah dengan menyatakan bahwa maksud/niat ahok tidaklah melecehkan al Qur’an. Untuk hal seperti ini saya tidak bisa membahas, karena masalah niat atau hati siapa yang tahu. Hanya saja dalam Islam yang dihukumi adalah perbuatan dan ucapannya. Seseorang yang membunuh misalnya, tetaplah dikenai hukum jinayat walaupun dia sebenarnya tidak bermaksud membunuh, masuk dalam bab al qatlul khata’, hanya saja memang hukumnya lebih ringan daripada jika disengaja. Allaahu A’lam. [M. Taufik NT]

*) Sebelumnya saya stel berulang-ulang lewat netbook jadul, dengan VLC media player 2.0.2 Twoflower, terdengar ditelinga saya ungkapan ahok bukanlah “… dibohongin pakai…”, namun “…dibohongin oleh…”

Ketika hal ini saya sampaikan ke teman-teman, ternyata beragam pendengarannya, sebagian mendegar “pakai”, sebagian mendengar “oleh”,  karena penasaran saya putar lagi lewat netbook jadul, dengan VLC media player 2.0.2 Twoflower, tetap terdengar “oleh”, masih penasaran (krn ‘gak mungkin’ teman-teman bohong), saya putar langsung lewat whatsapp di hp (jadul juga),  memang terdengar  kata “pakai”, masih penasaran, saya putar langsung filenya di hp juga, terdengar pakai kata “oleh”, saya convert filenya pakai AMV Converter Studio jadi file *.wav, lalu saya lihati pakai Cool Edit Pro saya jadinya cenderung kalau yang diucapkan adalah “…pakai…”, walaupun kalau pakai statistik pendengaran teman-teman hasilnya fifty-fifty, pakai mimik juga fifty-fifty. Saya tidak tahu mengapa hal itu terjadi, apa karena filenya, atau karena perangkat dan playernya, atau karena memang telinganya. ‘afwan atas tulisan ttg ini sebelumnya.

Baca Juga:

Posted on 8 Oktober 2016, in Politik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s