Mukjizat, Karomah, Sihir & Istidroj

Sungguh memprihatinkan melihat fenomena akhir-akhir ini terkait hal-hal klenik yang menimpa umat Islam. Setelah terungkap kasus “penasehat spiritual” dari pemimpin padepokan yang menjadi tersangka penyalahgunaan sabu-sabu yang dia sebut aspat, tidak lama kemudian muncul kasus padepokan lain yang melakukan penipuan dengan modus ‘penggandaan/pengadaan uang’ dan pembunuhan mantan santrinya. Masalahnya bukan sekedar ratusan milyar atau mungkin trilyunan dana umat yang ‘menguap’, namun yang lebih memprihatinkan dari itu adalah agama Islam yang mulia ini dijadikan justifikasi oleh sebagian besar mereka untuk membenarkan tindakannya.

Dengan pemahaman ‘waliyullah’, ‘karomah’ dan ‘Allah berkehendak’, maka akal manusia menjadi tidak berfungsi sama sekali ketika berhadapan dengan orang yang dipopulerkan sebagai ‘waliyullah’ yang punya karomah. “Kalau Allah berkehendak, jangankan mengadakan uang, memindah singgasana ratu Bilqis saja bisa sekejap mata”, pembunuhan santrinya pun jika misalnya terbukti, nanti bisa jadi berkilah: “itu kan perintah Allah, Allah berkehendak agar santri itu dibunuh saja, sebagaimana Khidhir membunuh anak kecil” lalu beralasan dengan surat al Kahfi: 80[1]. Jika sudah demikian, maka hancurlah agama ini.

***

Yang namanya mu’jizat dan karomah[2] itu mutlak pemberian dan atas kehendak Allah, tidak bisa diulang-ulang semaunya. Suatu ketika Nabi Muhammad shallaahu ‘alaihi wa sallam atas idzin Allah bisa ‘menggandakan’ hidangan yang disediakan sahabat Jabir bin Abdullah r.a, hingga walaupun sedikit namun mencukupi untuk seluruh sahabat yang hadir tanpa menjadikan makanan tersebut berkurang[3], namun disaat yang lain beliau mengganjal perutnya dengan kerikil karena menahan lapar. Disatu saat beliau atas idzin Allah bisa ‘menggandakan’ air hingga air yang sedikit cukup untuk wudhu para sahabat, namun di saat lain beliau dan pasukan ‘usroh kekurangan air. Nabi Musa yang bisa membelah lautan saat Allah menghendaki, bukan semaunya nabi Musa, oleh sebab itu ketika bersama Khidlir, mereka berdua naik perahu, tidak berjalan kaki dengan cara membelah laut.

Mukjizat dan karomah itu juga tidak bisa dipelajari, para Nabi saja ada yang terbunuh (Nabi Yahya dan Nabi Zakariya ‘alaihimassalaam), disamping ada yang selamat dari pembunuhan walau sudah dibakar oleh api, padahal mereka orang-orang yang paling sholeh diantara manusia. Begitu juga yang bukan nabi, ada yang Allah beri karomah berupa tidak terbakar oleh api saat mau disiksa musuh Allah, sebagaimana Abu Muslim al Khaulani namun ada pula yang justru terbunuh ditangan orang dzalim.

***

Mukjizat dan karomah itu perkara yang menyelisihi adat/akal yang terjadi secara hakiki, makanan yang bertambah karena mukjizat itu dzatnya benar-benar dzat makanan, berbeda halnya dengan sihir, sihir hanya menampakkan sesuatu diluar hakikatnya secara khayali (imajinasi). Ketika tukang sihir melemparkan tali dan tongkat[4], maka tongkat tersebut tetaplah tongkat secara hakiki, akan tetapi tampak dalam pandangan mata bahwa ia adalah ular yang merayap cepat, namun andai itu diperiksa dilaboratorium misalnya, maka dzat yag dikandungnya tentulah dzat tongkat tersebut, kecuali jika alat ujinya juga disihirnya hingga nampak dzat yang dikandung oleh ular.

Berbeda dengan mukjizat dan karomah yang itu semata-mata pemberian Allah dan tidak bisa dipelajari, sihir bisa dipelajari[5] biasanya dengan melakukan amalan tertentu untuk mendapatkan jin yang bertugas membantunya. Hanya saja melakukan sihir termasuk perkara yang diharamkan dalam Islam.

Karomah atau Istidroj?

Jika mendapati perkara menyelisihi adat terjadi pada seseorang, apakah itu karomah atau justru Istidroj[6]? Dalam Risâlatul Mu’âwanah, Syaikh ‘Abdullah bin Alawy bin Muhammad al-Haddad menjelaskan:

وكل من لم يبالغ في التمسك بالكتاب والسنة، ولم يبذل وسعه في متابعة الرسول، وهو مع ذلك يدعي أن له مكانة من الله تعالى، فلا تلتفت إليه ولا تعرِّج عليه، وإن طار في الهواء ومشى على الماء وطويت له المسافات وخرقت له العادات، فإن ذلك يقع كثيراً للشياطين والسحرة والكهان والرَافين والمنجِّمين وغيرهم من الضُّلال، ولا يُخرِج مثلَ ذلك عن كونه استدراجاً وتلبيساً إلى كونه كرامة وتأييداً إلا وجود الاستقامة فيمن ظهر عليه،

“Barangsiapa yang tidak bersungguh-sungguh berpegang kepada al-Qur’ân dan al-Sunnah, juga tidak mengerahkan kemampuan untuk meneladani Rasul, kemudian ia mengaku mempunyai derajat tinggi di hadapan Allâh, maka janganlah engkau melirik dan condong kepadanya, walaupun dia bisa terbang di angkasa, berjalan di atas air, bisa meringkas jarak perjalanan (dengan ilmu ‘melipat’ bumi) atau mempunyai keanehan-keanehan lain. Maka sesungguhnya yang demikian ini bisa terjadi pada para syaithân, para tukang sihir, para dukun, para tukang ramal, para ahli nujum, dan selain mereka dari golongan orang-orang sesat, tidaklah yang demikian itu melainkan istidraj dan talbîs (pemalsuan/tipudaya) agar keberadaannya dianggap sebagai karomah dan ta’yîd (pengesahan sebagai wali), kecuali jika ada istiqomah dalam diri orang yang nampak hal-hal tersebut”.

Dalam kitab yang sama diceritakan bahwa:

وقد قصد أبو يزيد البسطامي إلى زيارة رجل يوصف بالولاية فقعد له في المسجد فلما خرج حضرته نُخامة فرمى بها في حائط المسجد فرجع أبو يزيد ولم يجتمع به وقال كيف يؤمن على أسرار الله من لم يحسن المحافظة على آداب الشريعة.

“Abu Yazid al Busthomi (wafat 261 H) bermaksud mengunjungi seorang lelaki yang disifati (oleh kaumnya) sebagai waliyullah, maka beliau duduk menunggunya di masjid, ketika laki-laki itu keluar, dia keluar dahak lalu melemparkan dahak itu ke dinding masjid. (Setelah melihat kejadian itu) maka Abu Yazid segera pulang dan tidak jadi menemui orang itu. Abu Yazid berkata: “bagaimana bisa dipercaya mengemban rahasia-rahasia Allah orang yang tidak baik penjagaannya terhadap adab-adab syari’at”.

***

Orang-orang shalih pun karakternya senantiasa menyembunyikan karomah mereka, dan senantiasa khawatir terhadap karomah tersebut seperti rasa takut mereka kepada berbagai macam cobaan. Rasa senang kepada karamah, lalu dibarengi rasa yakin bahwa dirinya memang layak memiliki karamah karena merasa amal perbuatannya memang banyak tidak lain adalah orang yang bodoh yang tertipu dengan dirinya sendiri, bahkan kalau ada sikap seperti ini dalam hati, ini bukanlah karomah, melainkan bala’ yang harus segera diistghfari.

Kita harus berhati-hati jika hal seperti itu terjadi pada diri kita. Bukankah Barshisha yang selama 60 tahun beribadah bisa tersesat dan mati kafir gara-gara dapat ‘karomah’ bisa menyembuhkan berbagai penyakit sebagai tipu daya syaithan?[7].

Syaikh ‘Abd al-Wahhab asy-Sya’rani memperingatkan:

و من كُشِف له عمّا يفعلَه الناسُ في قُعُورِ بيوتهِم فهو كَشْفٌ شيطانيٌ يَجِبُ عليه التوبةُ منه فَورا

“Barangsiapa terbuka mata hatinya, sehingga bisa melihat apa yang dikerjakan manusia di dalam rumah-rumah mereka, maka demikian ini termasuk terbukanya hati yang timbul dari syaithân. Yang wajib dilakukan adalah bertaubat seketika itu juga.” [8]

Jika karomah begitu mereka takuti, sebaliknya istiqomah sangat mereka idam-idamkan, hingga mereka katakan istiqomah lebih baik daripada 1000 macam karomah. Terpenggalnya kepala Nabi Yahya karena istiqomah menyampaikan keharaman incest dihadapan raja Herodia, itu lebih baik dari pada berbagai macam karomah, terbunuhnya Sa’id bin Jubair, terpenjaranya Ibnu Sirin karena menghindari syubhat, itu justru perkara ‘luar biasa’ yang digandrungi orang-orang shalih.

Ketika menjelaskan hadits Hudzaifah r.a tentang istiqamah, syaikh Mulla ‘Ali al Qari menjelaskan dalam Mirqât al-Mafâtîh:

(اسْتَقِيمُوا) : أَيْ: عَلَى جَادَّةِ الشَّرِيعَةِ وَالطَّرِيقَةِ وَالْحَقِيقَةِ فَإِنَّ الِاسْتِقَامَةَ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ كَرَامَةٍ وَهِيَ الثَّبَاتُ عَلَى الْعَقِيدَةِ الصَّحِيحَةِ. وَالْمُدَاوَمَةُ عَلَى الْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ، وَالْإِخْلَاصُ الْخَالِصُ، وَالْحُضُورُ مَعَ اللَّهِ وَالْغَيْبَةُ عَنْ شُهُودِ مَا سِوَاهُ.

(Istiqamahlah kalian):yakni: bersungguh-sungguhlah menjalankan syariat, thariqah dan hakikat, karena sesungguhnya istiqamah itu lebih utama ketimbang seribu karamah. Istiqamah adalah berpegang teguh pada akidah yang benar, melanggengkan diri pada ilmu yang bermanfaat dan beramal shalih, ikhlas yang murni, ‘hadir’ bersama Allah (merasa Allah senantiasa mengetahui dirinya) serta menghilangkan perhatian selain Allah.[9]

Lalu mengapa banyak umat tertipu? tidak tanggung-tanggung bisa mencapai 23 ribu orang. Salah satu sebabnya adalah sistem kapitalis sekuler yang diterapkan menyebabkan minimnya pemahaman agama, agama dianggap tidak begitu penting untuk diajarkan, difahami, apalagi diterapkan, akibatnya muncul pandangan bahwa harta yang banyaklah sebagai sumber kebahagian, lupa bahwa hidup ini hanya sebentar, setelah itu semua amal akan dimintai pertanggungjawabannya. Allaahu A’lam. [M.Taufik NT]

Baca Juga:


[1] Surah Al Kahfi 80

وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا

Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.

[2] Mukjizat dan karomah itu sama-sama perkara yang menyelisihi adat kebiasaan, bedanya kalau terjadi pada Nabi itu disebut mukjizat, jika terjadi pada orang shalih disebut karomah.

[3] Sebagaimana diriwayatkan Ibnu Hisyam, dalam Sirahnya juz 2 hal 218-219, maktabah syamilah:

(الْبَرَكَةُ فِي طَعَامِ جَابِرٍ) :

قَالَ ابْنُ إسْحَاقَ: وَحَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ مِينَا، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: عَمِلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَنْدَقِ، فَكَانَتْ عِنْدِي شُوَيْهَةٌ، غَيْرُ جِدٍّ سَمِينَةٌ [2] . قَالَ: فَقُلْتُ: وَاَللَّهِ لَوْ صَنَعْنَاهَا لرَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وسلّم، قَالَ:

فَأَمَرْتُ امْرَأَتِي، فَطَحَنَتْ لَنَا شَيْئًا مِنْ شَعِيرٍ، فَصَنَعَتْ لَنَا مِنْهُ خُبْزًا، وَذَبَحَتْ تِلْكَ الشَّاةَ، فَشَوَيْنَاهَا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ: فَلَمَّا أَمْسَيْنَا وَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الِانْصِرَافَ عَنْ الْخَنْدَقِ- قَالَ: وَكُنَّا نَعْمَلُ فِيهِ نَهَارَنَا، فَإِذَا أَمْسَيْنَا رَجَعْنَا إلَى أَهَالِيِنَا- قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنِّي قَدْ صَنَعْتُ لَكَ شُوَيْهَةً كَانَتْ عِنْدَنَا، وَصَنَعْنَا مَعَهَا شَيْئًا مِنْ خُبْزِ هَذَا الشَّعِيرِ، فَأُحِبُّ أَنْ تَنْصَرِفَ مَعِي إلَى مَنْزِلِي، وَإِنَّمَا أُرِيدُ أَنْ يَنْصَرِفَ مَعِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحْدَهُ.

قَالَ: فَلَمَّا أَنْ قُلْتُ لَهُ ذَلِكَ، قَالَ: نَعَمْ، ثُمَّ أَمَرَ صَارِخًا فَصَرَخَ: أَنْ انْصَرِفُوا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إلَى بَيْتِ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قُلْتُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ راجِعُونَ 2: 156! قَالَ: فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَقْبَلَ النَّاسُ مَعَهُ، قَالَ: فَجَلَسَ وَأَخْرَجْنَاهَا إلَيْهِ. قَالَ: فَبَرَّكَ وَسَمَّى (اللَّهَ) [1] ، ثُمَّ أَكَلَ، وَتَوَارَدَهَا النَّاسُ، كُلَّمَا فَرَغَ قَوْمٌ قَامُوا وَجَاءَ نَاسٌ، حَتَّى صَدَرَ أَهْلُ الْخَنْدَقِ عَنْهَا.

[4] QS. Thâhâ: 66

قَالَ بَلْ أَلْقُوا ۖ فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَىٰ

”Berkata Musa: ”Silahkan kamu sekalian melemparkan.” Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.”

[5] QS. Al-Baqarah: 102:

وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

“Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: ”Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.”

[6] Istidraj (jawa: dibombong), yaitu dengan membiarkan orang itu bergelimang dalam kesesatannya, hingga orang itu tidak sadar bahwa dia didekatkan secara berangsur-angsur kepada kebinasaan.

[7] قال ابن جرير حدثني يحيى بن ابراهيم المسعودي حدثنا أبي عن أبيه عن جده عن الأعمش عن عمارة عن عبد الرحمن بن يزيد عن عبد الله بن مسعود في هذه الآية كمثل الشيطان إذ قال للإنسان اكفر فلما كفر قال إني بريء منك إني أخاف الله رب العالمين فكان عاقبتهما أنهما في النار خالدين فيها وذلك جزاء الظالمين [ الحشر : 16 ، 17 ] قال ابن مسعود : وكانت امرأة ترعى الغنم وكان لها إخوة أربعة ، وكانت تأوي بالليل إلى صومعة راهب . قال : فنزل الراهب ففجر بها فحملت فأتاه الشيطان فقال له : اقتلها ثم ادفنها فإنك رجل مصدق يسمع قولك فقتلها ، ثم دفنها قال : فأتى الشيطان إخوتها في المنام فقال لهم : إن الراهب صاحب الصومعة فجر بأختكم فلما أحبلها قتلها ، ثم دفنها في مكان كذا وكذا ، فلما أصبحوا قال رجل منهم : والله لقد رأيت البارحة رؤيا ما أدري أقصها عليكم أم أترك ؟ قالوا : لا بل قصها علينا ، قال : فقصها فقال الآخر : وأنا والله [ ص: 45 ] لقد رأيت ذلك فقال الآخر : وأنا والله لقد رأيت ذلك قالوا : فوالله ما هذا إلا لشيء فانطلقوا فاستعدوا ملكهم على ذلك الراهب فأتوه فأنزلوه ، ثم انطلقوا به فأتاه الشيطان فقال : إني أنا الذي أوقعتك في هذا ، ولن ينجيك منه غيري فاسجد لي سجدة واحدة وأنجيك مما أوقعتك فيه ، قال : فسجد له ، فلما أتوا به ملكهم تبرأ منه وأخذ فقتل ، وهكذا روي عن ابن عباس ، وطاوس ، ومقاتل بن حيان ، نحو ذلك .

وقد روي عن أمير المؤمنين علي بن أبي طالب رضي الله عنه بسياق آخر فقال ابن جرير حدثنا خلاد بن أسلم حدثنا النضر بن شميل أنبأنا شعبة عن أبي إسحاق سمعت عبد الله بن نهيك سمعت عليا يقول : إن راهبا تعبد ستين سنة ، وإن الشيطان أراده فأعياه فعمد إلى امرأة فأجنها ، ولها إخوة فقال لإخوتها : عليكم بهذا القس فيداويها قال : فجاءوا بها إليه فداواها وكانت عنده فبينما هو يوما عندها ، إذ أعجبته فأتاها فحملت فعمد إليها فقتلها ، فجاء إخوتها فقال الشيطان : للراهب أنا صاحبك إنك أعييتني أنا صنعت هذا بك فأطعني أنجك مما صنعت بك ، اسجد لي سجدة فسجد له فلما سجد له قال : إني بريء منك إني أخاف الله رب العالمين فذلك قوله [ ص: 46 ] كمثل الشيطان إذ قال للإنسان اكفر فلما كفر قال إني بريء منك إني أخاف الله رب العالمين .

[8] Faidah dari ust Irfan Abu Naveed via WA, belum tertelusuri sumber primernya

[9] Mirqât al-Mafâtîh Syarh al-Misykât al Mashâbîh, 1/336, Maktabah Syamilah

Posted on 6 Oktober 2016, in Aqidah, Dakwah and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s