Bodoh Itu Lebih Baik daripada ‘Sok Tahu’

Imam Malik berkata: “Al Qassâm bin Muhammad mengatakan:

لَأَنْ يَعِيشَ الرَّجُلُ جَاهِلًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَقُولَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا يَعْلَمُ

“Seseorang yang hidup dalam keadaan bodoh itu lebih baik baginya daripada berkata tentang Allah apa-apa yang dia tidak ketahui” [Ibnu Bath-thah (w. 387 H), Ibthâl al Hiyâl, 1/64].

Al Khatib al Baghdadi (w.463 H), dalam kitabnya, al Faqîh wa al Mutafaqqih[1], menceritakan dari Abdurrahman bin al Mahdi bahwa seseorang dari penduduk Maghribi (Afrika) datang untuk bertanya kepada Imam Malik tentang suatu masalah, maka imam Malik menjawab “laa adry” (aku tidak tahu), maka orang tersebut dengan heran berkata:

يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ: تَقُولُ لَا أَدْرِي؟

“wahai Abu Abdillah, engkau mengatakan tidak tahu?”

Maka Imam Malik menjawab:

نَعَمْ، فَبَلِّغ مَنْ وَرَاءَكَ أَنِّي لَا أَدْرِي

“Ya, sampaikan kepada orang yang di belakang engkau (kaum yang mengutusmu dari Afrika ke Madinah untuk bertanya) bahwa sesungguhnya aku tidak tahu (jawabannya)”

***

Inilah Imam Malik, dan ini pula sikap mereka terhadap permasalahan yang mereka ‘merasa’ tidak mengetahuinya, padahal mereka dikenal dengan ketinggian ilmu mereka, dan kadang yang bertanya juga jauh-jauh datang untuk bertanya, yang dalam hati kita tentu akan merasa kasihan kalau hanya mendapatkan jawaban “aku tidak tahu”.

Hanya saja itu untuk hal-hal yang benar-benar mereka tidak mengetahuinya. Adapun jika mereka mengetahuinya, maka apapun resikonya akan disampaikan. Mereka tidak takut menyampaikan kebenaran hanya karena ancaman duniawi, yang mereka takutkan hanyalah ancaman Allah terhadap orang yang menyembunyikan pengetahuannya.

Berkata Imam Abdullah Ibn al Mubarak:

إذَا كَتَمَ الْعَالِمُ عِلْمَهُ اُبْتُلِيَ إمَّا بِمَوْتِ الْقَلْبِ، أَوْ يُنَسَّى، أَوْ يَتْبَعُ السُّلْطَانَ

Apabila seorang alim itu menyembunyikan ilmunya maka dia akan ditimpa balak, adakalanya dengan matinya hati; atau dia menjadi lupa (dengan ilmunya) atau mengikuti penguasa[2]

Malik bin Dinar pernah bertanya kepada Imam al Hasan al Bashri:

مَا عُقُوبَةُ الْعَالِمِ؟

“Apa siksaan kepada orang ‘alim?”

Al Hasan menjawab:

مَوْتُ الْقَلْبِ

“Matinya hati.”

Malik bin Dinar bertanya lagi:

وَمَا مَوْتُ الْقَلْبِ؟

“Apa (bagaimana) matinya hati itu?”

Al Hasan menjawab

طَلَبُ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الْآخِرَةِ

“mencari dunia dengan ‘amalan akhirat”[3]

Jadi tidak ada jalan selamat selain mengatakan “tidak tahu” kalau memang tidak tahu, dan menjawab sesuai dengan kebenaran, kalau memang mengetahui betul akan kebenaran tersebut. Allâhu A’lam. [M. Taufik NT]

Baca Juga:


[1] Di Maktabah Syamilah pada 2/370

[2] Ibnu Muflih al Maqdisi, al Adab asy-Syar’iyyah, 2/152. Maktabah Syamilah

[3] الامام ابن مفلح المقدسي، الآداب الشرعية، ٢/ ٤٥

Posted on 27 September 2016, in Akhlaq, Pendidikan. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Assalamu’alaikum Ustadz…

    Mohon idzin meneruskan pertanyaan teman sbb (syukron jazilan… jazakumullah khoiron) :

    langsung ke inti ya ustd

    saya punya sodara di lampung, dia punya bebrapa luas lahan tahan dilampung, ini berupa hutan belantara..belum diurus ustd..tapi sudah dipagar keliling..namun pagarnya tidak rapat..jadi berbagai hewan liar masih bisa untuk masuk/keluar..

    pertanyaan saya adalah : (ini karna saya ditanya oleh sodara saya dan saya belum memberikan jawabannya).

    + didalam lingkungan lahan dy yang tak terurus itu ternyata banyak berkembang biak babi hutan. nah…oleh suku bali yang ada disana sodara saya ini ditawarilah untuk menjual/ membiarkan si para suku bali ini untuk berburu dilahannya dan oleh suku bali..setiap hewan yang didapat dilahannya tersebut baik babi atau yang lainnya akan dihargai Rp. 45.000,-/ekornya.

    -lalu apa hukum dari uang tsb? sedangkan sodara saya ini tidak bermaksud transaksi..tapi suku bali inilah yang menawarkan diri untuk memberi uang jika diijinkan berburu dilahannya tsb.

    nah sodara saya ini bertanya sama saya ustd..kalo uang itu halal, maka dia berencana akan membeli kerbau/sapi/kambing yang akan digembalakn dilahan nya tsb..dan akan dibantu pengembalaannya oleh beberapa masyarakat sekitar, yang untungnya bisa dibagi2.

    tapi jika uang tsb haram, maka dia akan tolak uang tsb.

    mohon bimbngannya ustd. mhon maaf jika saya bertanya melalui email..ini karna saya takut lupa, makanya begitu ingat saya langsung email ustd. terima kasih ustd

    wasallamualikum. Wr. Wb

    Suka

    • Wa’alaikumussalaam… jual beli babi jelas haram bagi muslim. Adapun menyewakan lahannya walaupun asalnya halal, namun jika sudah tahu atau menduga kuat bakalan digunakan untuk yang haram maka jadinya haram juga.
      Rujukannya mawsu’ah al fiqhiyyah al kuwaytiyyah
      وَيُشْتَرَطُ أَنْ تَكُونَ الْمَنْفَعَةُ مُبَاحَةَ الاِسْتِيفَاءِ. وَلَيْسَتْ طَاعَةً مَطْلُوبَةً، وَلاَ مَعْصِيَةً مَمْنُوعَةً
      Allaahu A’lam.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s