Sunnah–Sunnah (Wirid) Setelah Shalat

Disunnahkan[1] setelah shalat beberapa perkara berikut:

1. Istighfar, dzikir dan do’a. Hal ini berlaku bagi imam, makmum, munfarid[2], baik laki-laki maupun perempuan, muqim maupun musafir, karena setelah shalat adalah waktu yang mustajab untuk berdo’a, juga karena Rasulullah melakukan yang demikian itu[3]. Dari Abu Umamah ia berkata; Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam ditanya;

يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ قَالَ جَوْفَ اللَّيْلِ الْآخِرِ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ

wahai Rasulullah, doa apakah yang paling di dengar? Beliau berkata: “Doa di tengah malam terakhir, serta pada dubur shalat-shalat wajib.[4] (HR. at Tirmidzi, dia katakan hasan).

dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata:

كُنْتُ أَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّكْبِيرِ

“Aku mengetahui selesainya shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari suara takbir.” (Shahih Bukhari).

dari Tsauban dia berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ (اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ) قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai shalat, beliau akan meminta ampunan tiga kali dan memanjatkan doa (Ya Allah, Engkau adalah Dzat yang memberi keselamatan, dan dari-Mulah segala keselamatan, Maha Besar Engkau wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan).” Kata Walid; maka kukatakan kepada Auza’i “Lalu bagaimana bila hendak meminta ampunan?” Jawabnya; ‘Engkau ucapkan saja Astaghfirullah, Astaghfirullah.

dari Abu Zubair katanya; Seusai shalat setelah salam, Ibn Zubair sering memanjatkan do’a;

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Tiada sesembahan yang hak selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya selaga puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada Daya dan kekuatan selain dengan pertolongan Allah. Tiada sesembahan yang hak selain Allah, dan Kami tidak beribadah selain kepada-Nya, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, hanya bagi-Nya ketundukan, sekalipun orang-orang kafir tidak menyukai).”

Lalu ibnu Zubair berkata: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُهَلِّلُ بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu membaca kalimat ini setiap selesai shalat.”). (Shahih Muslim).

Diriwayatkan dari Mughiroh bin Syu’bah, bahwa Rasulullah selesai sholat membaca:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, yang Tunggal dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, dan milik-Nya segala pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menahan dari apa yang Engkau berikan dan dan tidak ada yang dapat memberi dari apa yang Engkau tahan. Dan tidak bermanfaat kekayaan orang yang kaya di hadapan-Mu sedikitpun. (HR. Bukhari dan Muslim)

Disunnahkan memelankan dzikir dan do’a, kecuali jika imam bermaksud mengajarkan shifat dzikir dan do’a kepada makmum, maka bisa dikeraskan oleh imam dan makmum, sebagaimana riwayat abdullah bin Abbas r.a yang menyatakan:

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

bahwa mengeraskan suara dalam berdzikir setelah orang selesai menunaikah shalat fardlu terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Aku mengetahui bahwa mereka telah selesai dari shalat itu karena aku mendengarnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah juga diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barangsiapa bertasbih kepada Allah sehabis shalat sebanyak tiga puluh tiga kali, dan bertahmid kepada Allah tiga puluh tiga kali, dan bertakbir kepada Allah tiga puluh tiga kali, hingga semuanya berjumlah sembilan puluh sembilan, -dan beliau menambahkan- dan kesempurnaan seratus adalah membaca Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku walahul walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qadiir, maka kesalahan-kesalahannya akan diampuni walau sebanyak buih di lautan.”

dari Mu’adz bin Jabal bahwa Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam menggandeng tangannya dan berkata: “Wahai Mu’adz, demi Allah, aku mencintaimu.” Kemudian beliau berkata:

أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, janganlah engkau tinggalkan setiap selesai shalat untuk mengucapkan, (Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir dan bersyukur kepadaMu serta beribadah kepadaMu dengan baik.)” (HR. Abu Daud dan an Nasa-i dg sanad shahih).

Termasuk juga membaca mu’awwidât (al ikhlas sd an naas) dlm riwayat ‘Uqbah bin ‘âmir (HR. Abu Dawud).

Dari Abu Dzar bahwa Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَالَ فِي دُبُرِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَهُوَ ثَانٍ رِجْلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ كُتِبَتْ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ وَرُفِعَ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ وَكَانَ يَوْمَهُ ذَلِكَ كُلَّهُ فِي حِرْزٍ مِنْ كُلِّ مَكْرُوهٍ وَحُرِسَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَلَمْ يَنْبَغِ لِذَنْبٍ أَنْ يُدْرِكَهُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ إِلَّا الشِّرْكَ بِاللَّهِ

“Barang siapa yang setelah shalat Subuh dengan menyilangkan kedua kakinya sebelum ia berkata-kata (yang lain): (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagiNya, milikNya semua kerajaan dan bagiNya seluruh pujian, Dia Yang menghidupkan, serta mematikan, dan Dia Maha Mampu melakukan segala sesuatu) sepuluh kali, maka tercatat baginya sepuluh kebaikan dan terhapus darinya sepuluh kesalahan serta diangkat baginya sepuluh derajat, dan pada hari itu ia berada dalam perlindungan dari segala yang tidak disukai, serta terjaga dari syetan, dna tidak layak ada dosa yang menjumpainya pada hari itu kecuali syirik kepada Allah.” (HR. At Tirmidzi, dia berkata; hadits ini adalah hadits hasan gharib shahih). Allaahu A’lam. [M. Taufik NT].

Baca Juga:


[1] Diringkas dari kitab al Mu’tamad fil Fiqh as Syafi’i hal 313 dst, dengan beberapa tambahan dalam catatan kaki. Disampaikan di Majlis Ta’lim di Graha Falah Mandiri pada 18 Sept 2016.

[2] Munfarid: orang yang shalat sendiri, tidak berjamaah

[3] Riwayat-riwayat dalam tulisan ini sesuai dengan urutan dalam kitab al Mu’tamad, boleh membuat urutan yang berbeda, tidak ada syarat tartib (berurutan) dalam hal ini, maka bisa saja mengikuti urutan dalam kitab bughyatul mustarsyidin ataupun hidayatus salikîn, ataupun kitab yang lain, bahkan boleh saja membuat urutan sendiri. Do’a dan wirid yang riwayatnya dha’if, bahkan tidak ada riwayat dari Rasulpun boleh dibaca, begitu juga boleh menambah/’memodifikasi’ redaksi do’a dari Rasulullah asalkan maknanya tidak bertentangan dengan aqidah maupun syari’ah dan tidak menisbahkan hasil ‘modifikasi’ tersebut kepada Rasulullah, semua itu masuk dalam kategori keumuman berdo’a. Abdullah Ibn Umar sendiri menambah talbiyyahnya Rasulullah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ

Ibnu Umar katakan هَذِهِ تَلْبِيَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (ini adalah talbiyyahnya Rasulullah saw), kemudian Ibnu Umar menambahkan

لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ لَبَّيْكَ وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ

(aku memenuhi seruanMu, aku memenuhi seruanMu. Berbahagialah Engkau dan segala kebaikan berada di kedua tanganMu. Aku memenuhi seruanMu, dan keinginan dan amal hanya kepadaMu) HR. at Tirmidzi, dia katakan hasan shahih.

[4] Sebagian kalangan Hanabilah meniadakan do’a setelah shalat, dan memahami hadits ini dengan menyatakan bahwa ‘duburi kulli shalaat” maknanya adalah akhir shalat sebelum salam. Padahal ada riwayat dari at Thabarany yang menyatakan:

الدُّعَاءُ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ أَفْضَلُ مِنَ الدُّعَاءِ بَعْدَ النَّافِلَةِ كَفَضْلِ الْمَكْتُوبَةِ عَلَى النَّافِلَةِ

“doa setelah shalat wajib lebih afdhol daripada do’a setelah shalat sunnah, sebagaimana lebih utamanya shalat wajib dibanding shalat sunnah”

Posted on 21 September 2016, in Fiqh, Ibadah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s