Condong Kepada Orang Zalim

Suatu ketika Abu Bakar melihat Rasulullah makin beruban, maka beliau berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ شِبْتَ

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah beruban.” Maka Rasulullah Saw. menjawab:

شَيَّبَتْنِي هُودٌ، وَالْوَاقِعَةُ، وَالْمُرْسَلَاتُ، وَعَمَّ يَتَسَاءَلُونَ، وَإِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ

Aku dibuat beruban oleh surat Hud, al Waqi’ah, al Mursalat, ‘amma yatasâ-alûn (an-Naba), dan idzas syamsu kuwwirot (at-Takwîr). (HR. At Tirmidzi[1])

شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَأَخَوَاتُهَا

Menurut riwayat lain disebutkan, ” Aku dibuat beruban oleh surat Hud dan saudara-saudaranya.” (Tafsir Ibn Katsir, 4/302)

Salah satu ayat dalam surat Hud berbicara tentang larangan hati dari condong kepada orang zalim. Allah berfirman:

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, dan sekali-kali kalian tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan. (QS. Hud: 113)

Imam al Qurthuby mengutip Ibnu Zaid bahwa:

الرُّكُونُ هُنَا الْإِدْهَانُ

“(makna) ar Rukûn (cenderung) dalam ayat ini adalah al id-hân (menjilat)” (Tafsir al Qurthuby, 9/108)

Ayat ini memang berat, hingga walau hanya ayat ini saja, kalau difikirkan betul-betul, sudah cukup membuat rambut kita ‘beruban’, apalagi jika ditambah ayat-ayat yang lainnya.

Bagaimana tidak berat, lewat ayat ini Allah bukan saja melarang kita berbuat zalim, bukan sekedar melarang condong kepada kezaliman, namun melarang hati condong kepada orang yang berbuat zalim, padahal orang yang berbuat zalim kadang-kadang adalah teman baik kita, atau mereka atasan kita, atau justru penguasa, dan Allah tetap mengancamnya dengan ‘fa tamassakumun nâr’ (api neraka akan menyentuh kalian).

Abu Muslim al Khawlani (w. 62 H ) seorang pemuka tabi’in dari Syam yang terkenal dengan kezuhudannya, beliau adalah orang dekat Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Suatu ketika Mu’awiyah berdiri di mimbar pasca beliau menyetop pemberian (subsidi) dari baitul mâl, dari mimbar beliau berkata: isma’û wa athî’û (dengarlah oleh kalian dan taatilah), mendengar itu maka berdirilah Abu Muslim seraya berkata: Lâ sam’a wa lâ thô’ata yâ Mu’âwiyah (tidak (wajib) mendengar dan ta’at hai Mu’awiyah). Muawiyah bertanya: “mengapa wahai Abu Muslim?”, maka Abu Muslim menjawab:

كَيْفَ تَمْنَعُ الْعَطَا وَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ كَدِّكَ وَلا كَدِّ أَبِيكَ وَلا مِنْ كَدِّ أُمِّك؟

“bagaimana engkau bisa menyetop subsidi, padahal dia bukan hasil kerja engkau, bukan hasil kerja bapakmu, bukan pula hasil kerja ibumu?”

Mu’awiyahpun marah lalu turun dari mimbar sambil meminta hadirin untuk menunggu ditempatnya masing-masing. Beliau pergi sejenak, kemudian datang setelah mandi lalu berkata: “sesungguhnya Abu Muslim telah berkata-kata dengan perkataan yang membuatku marah, dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

الْغَضَبُ مِنَ الشَّيْطَانِ وَالشَّيْطَانُ خُلِقَ مِنَ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَغْتَسِلْ

“Sesungguhnya marah itu dari syaithan, dan syaithan itu dicipta dari api, dan sesungguhnya api dapat dipadamkan dengan air, maka jika salah seorang kalian marah maka hendaklah mandi”[2]

Dan aku masuk rumah lalu mandi. Abu Muslim benar, (harta baitul mal) bukanlah hasil usahaku, bukan pula hasil jerihpayah bapakku dan ibuku, maka kemarilah kalian untuk mengambil hak kalian” (Mawaridudh Dham’an Li Durusiz Zamân, 4/117)[3]

Sungguh Abu Muslim mengajari kita bagaimana seharusnya bersikap kepada orang yang berbuat zalim, walaupun mungkin dia orang dekat, majikan atau bahkan penguasa. Pelajaran yang terasa semakin susah saat keteguhan sikap mulai langka, mudah luntur tergerus oleh sumbangan, pujian, pangkat, jabatan, beasiswa, bahkan luntur dengan hanya diajak makan di istana.

Kecondongan hati kepada orang yang berbuat zalim, disamping akan mencelakakan diri pelakunya, juga akan menjadikan orang yang berbuat zalim semakin terjerumus kedalam kezalimannya. Munculnya Fir’aun yang mengaku tuhan tidak lepas dari kesalahan orang-orang sekelilingnya yang tidak mau mengingkarinya, namun justru condong dan menjilatnya. Oleh karena itu Rasulullah menyatakan:

وَلْيَنْصُرْ الرَّجُلُ أَخَاهُ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا إِنْ كَانَ ظَالِمًا فَلْيَنْهَهُ فَإِنَّهُ لَهُ نَصْرٌ وَإِنْ كَانَ مَظْلُومًا فَلْيَنْصُرْهُ

Hendaklah seseorang menolong saudaranya sesama muslim yang berbuat zhalim atau yang sedang dizhalimi. Apabila ia berbuat zhalim/aniaya, maka cegahlah ia untuk tidak berbuat kezhaliman dan itu berarti menolongnya. Dan apabila ia dizalimi/dianiaya, maka tolonglah ia! ‘ (HR. Muslim).

Jika kepada orang zalim saja kita dilarang condong, lalu bagaimana sikap kepada orang yang melakukan kezaliman yang sangat besar seperti kekafiran dan kesyirikan? Tentu lebih dilarang lagi. Allâhu A’lam. [M. Taufik NT]

*) pernah saya sampaikan di masjid at Taqwa dan Hajjah Nuriyah, hanya saja tdk persis seperti ini

Baca Juga:


[1] هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ

[2] Dalam banyak riwayat hadits, redaksinya “fal yatawadh-dho” (maka hendaklah dia berwudhu).

[3] Bisa juga dibaca dengan redaksi yang mirip pada Hilyatul Awliya, 2/130, juga Syarh Ushulu I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, 8/1525. Maktabah syamilah

Posted on 21 September 2016, in Pendidikan, Pergaulan, Politik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s