Batalkah Shalat Jika Tersenggol Anak yang Belum Dikhitan?

Memang tidak ada dalil langsung yang menyatakan batalnya shalat karena bersentuhan dengan anak lelaki yang belum berkhitan (besunat), hanya saja pembahasannya terletak pada apakah lelaki yang belum dikhitan itu mengandung najis pada ‘kepala burung’nya atau tidak.

Para ‘ulama sepakat bahwa jika ada najis pada anggota dhohir (organ luar) seseorang maka seseorang itu dihukumi membawa najis sehingga tidak sah sholatnya. Sebaliknya najis pada anggota bathin (organ dalam), seperti dalam perut, usus, dll tidak dihukumi najis selama masih tersimpan di situ, jika sudah keluar maka jadi najis.

Namun para ‘ulama berbeda pendapat apakah ‘kepala burung’ seseorang termasuk organ luar ataukah organ dalam. Menurut qoul ashoh (pendapat yang lebih shahih)[1] dalam madzhab Syafi’i, ‘kepala burung’ dan ‘sangkar (qulfah/kulup) bagian dalamnya’ dihukumi organ luar sehingga wajib disucikan. Oleh karena itu lelaki yang tidak berkhitan jika bersuci wajib membuka ‘kepala burung’nya plus ‘sangkar (qulfah)nya’ bagian dalam untuk dibasuh, baik saat bersuci dari najis (kencing), atapun saat mandi junub.

Imam An Nawawi menjelaskan dalam al Majmu’ Syarh al Muhazddzab, 2/199[2]:

وَلَوْ كَانَ غَيْرَ مَخْتُونٍ فَهَلْ يَلْزَمُهُ فِي غُسْلِ الْجَنَابَةِ غَسْلُ مَا تَحْتَ الجلدة التى تقطع في الختان: فيه وَجْهَانِ حَكَاهُمَا الْمُتَوَلِّي وَالرُّويَانِيُّ وَآخَرُونَ أَصَحُّهُمَا يَجِبُ صَحَّحَهُ الرُّويَانِيُّ وَالرَّافِعِيُّ لِأَنَّ تِلْكَ الْجِلْدَةَ مُسْتَحِقَّةُ الْإِزَالَةِ وَلِهَذَا لَوْ أَزَالَهَا إنْسَانٌ لَمْ يَضْمَنْ وَإِذَا كَانَتْ مُسْتَحِقَّةَ الْإِزَالَةِ فَمَا تَحْتَهَا كَالظَّاهِرِ

Jika dia tidak dikhitan, apakah wajib baginya saat mandi janabah untuk membasuh apa yang ada dibawah kulit yang dipotong saat khitan: dalam masalah ini ada dua pendapat sebagaimana yang diceritakan oleh al Mutawalli, ar Ruyani dan yang lain, yang paling shahih adalah wajib (membasuhnya), yang dishahihkan ar Ruyani dan ar Rafi’i, karena kulit tersebut patut untuk di buang dan karena inilah jika manusia membuangnya (dengan di khitan) maka dia tidak akan mempunyai (qulfah/kulup tersebut), dan jika kulit tersebut layak dibuang, maka apa-apa yang dibawah kulit tersebut adalah seperti organ luar…

Adapun bersentuhan dengan orang yang belum dikhitan saat sholat apakah batal sholatnya? Jika menganut pendapat bahwa ‘kepala burung’ dan kulup bagian dalam itu dihukumi organ luar maka tidak batal shalatnya. Namun jika mengambil qoul ashohh dalam madzhab Syafi’i perlu di rinci:

· Jika hanya menyentuh/tersentuh pakaian/bagian tubuh orang tersebut yang tidak najis, maka tidak batal shalatnya, karena yang batal itu adalah membawa (hamlu) najis, sedangkan kesenggol, tidak bisa dikatakan sebagai hamlu (membawa), sebagaimana kita shalat di karpet yang luas, lalu diujung karpet ada najisnya, maka tidak dikatakan kita membawa najis sehingga batal shalatnya.

· Jika menggendong atau memegang atau mengikat dia dengan kita saat kita shalat, maka batal shalat kita karena ini berarti membawa (hamlu) najis.

Hanya saja itu berlaku jika memang diketahui atau diduga kuat orang tersebut membawa najis; yakni ketika kencing ‘kepala burung’ dan bagian dalam kulufnya tidak dibasuh. Namun jika tidak diketahui, atau diketahui bersuci dari najisnya memenuhi syarat saja (misalnya ketika membasuh kencing dengan membuka ‘kepala burung’nya (bahasa jawanya dicele’ kan dulu baru dibasuh, dan ini memang susah dilakukan kepada anak-anak) maka tidak batal shalat dengan membawa/menggendong anak tersebut. Keterangan ini bisa disimak dalam fatwa Syaikh Isma’il Zain dalam Qurratul ’Ain, hal 55:

ﺳﺆﺍﻝ: ﻣﺎ ﻗﻮﻟﻜﻢ ﻓﻴﻤﻦ ﻳﺼﻠﻰ ﻓﺎﻋﺘﻨﻘﻪ ﺻﺒﻲ ﻟﻢ ﻳﺨﺘﺘﻦﻭﺗﻌﻠﻖ ﺑﻪ ﻭﻣﻌﻠﻮﻡ ﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺼﺒﻰ ﻻ ﺑﺪ ﻣﻦ ﺃﻥ ﻳﺤﻤﻞ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻓﻲ ﻓﺮﺟﻪ ﻓﻬﻞ ﺻﻼﺗﻪ ﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﺻﺤﻴﺤﺔﺃﻡ ﻻ؟ ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ: ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻣﻌﻠﻮﻣﺎ ﺃﻥ ﺍﻟﺼﺒﻲ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﻳﺤﻤﻞ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻓﻲ ﺟﻠﺪﺓ ﻗﻠﻔﺔ ﺍﻟﺨﺘﺎﻥﺃﻭ ﻓﻲ ﻇﺎﻫﺮ ﻓﺮﺟﻪ ﻣﺜﻼ ﻓﺼﻼﺓ ﻣﻦ ﻳﺤﻤﻠﻪ ﺑﺎﻃﻠﺔ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﻌﻠﻮﻣﺎ ﻭﻻ ﻣﻈﻨﻮﻧﺎ ﻇﻨﺎ ﻏﺎﻟﺒﺎ ﻓﺼﻼﺓﻣﻦ ﻳﺤﻤﻠﻪ ﺻﺤﻴﺤﺔ ﻋﻤﻼ ﺑﺄﺻﻞ ﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ1). (1) ( ﺃﻣﺎ ﻣﺠﺮﺩ ﻣﻤﺎﺳﺔ ﻟﺒﺎﺱ ﺍﻟﺼﺒﻲ ﻭﺗﻌﻠﻘﻪ ﺑﺎﻟﻤﺼﻠﻲﺩﻭﻥ ﺃﻥ ﻳﺤﻤﻠﻪ ﻓﻼ ﺗﺒﻄﻞ ﺑﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﻫﻮ ﻛﻤﻦ ﻳﺼﻠﻰ ﻭﻳﻀﻊ ﺗﺤﺖ ﻗﺪﻣﻪ ﻃﺮﻑ ﺍﻟﺤﺒﻞ ﺍﻟﻤﺘﺼﻞ ﺑﺎﻟﻨﺠﺎﺳﺔﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ

Oleh sebab itu, alangkah baiknya jika anak-anak kita khitan sejak kecil sehingga ketika dibawa kemasjid tidak membuat orang yang belum tahu was-was akan batal shalatnya. Lalu bagaimana dengan hadits Rasulullah saw menggendong cucu beliau saat sholat? Insya Allah ada pembahasannya. Allahu A’lam. [M.Taufik NT]

Baca juga:


[1] Menurut qoul yang muqobilul ashoh dihukumi sebagai organ dalam, sebagaimana pendapat Abu ‘Ashim al Abbâdiy, dalam al majmu’ dinyatakan:

وَالثَّانِي لَا يَجِبُ وَبِهِ جَزَمَ الشَّيْخُ أَبُو عَاصِمٍ الْعَبَّادِيُّ فِي الْفَتَاوَى لِأَنَّهُ يَجِبُ غَسْلُ تِلْكَ الْجِلْدَةِ وَلَا يَكْفِي غَسْلُ مَا تَحْتَهَا فَلَوْ كَانَتْ كَالْمَعْدُومَةِ لَمْ يَجِبْ غَسْلُهَا فَبَقِيَ مَا تَحْتَهَا بَاطِنًا

[2] Penerbit Darul Fikr, versi Maktabah Syamilah


[1] Menurut qoul yang muqobilul ashoh dihukumi sebagai organ dalam, sebagaimana pendapat Abu ‘Ashim al Abbâdiy, dalam al majmu’ dinyatakan:

وَالثَّانِي لَا يَجِبُ وَبِهِ جَزَمَ الشَّيْخُ أَبُو عَاصِمٍ الْعَبَّادِيُّ فِي الْفَتَاوَى لِأَنَّهُ يَجِبُ غَسْلُ تِلْكَ الْجِلْدَةِ وَلَا يَكْفِي غَسْلُ مَا تَحْتَهَا فَلَوْ كَانَتْ كَالْمَعْدُومَةِ لَمْ يَجِبْ غَسْلُهَا فَبَقِيَ مَا تَحْتَهَا بَاطِنًا

[2] Penerbit Darul Fikr, versi Maktabah Syamilah

Posted on 14 September 2016, in Ibadah, Ikhtilaf and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s