Sunnah – Sunnah Shalat

Sunnah-sunnah shalat [1] adalah perbuatan dan ucapan yang dianjurkan syara’ , yang dilakukan/diucapkan Rasulullah dalam sebagian besar shalat beliau, namun jika tidak dikerjakan tidak membatalkan shalat. Banyaknya sunnah shalat menurut imam as Syairozi ada 35, imam an Nawawi menambah 10, dan ulama lainnya menyatakan lebih banyak lagi bahkan sampai 1000 sunnah.

Sunnah Sebelum Shalat:

1. Adzan. Shalat yang disunnahkan adzan dan iqomah adalah shalat wajib 5 waktu dan sholat Jum’at. Untuk shalat jama’ hanya sunnah adzan di awalnya saja, yang kedua cukup iqomah, sedangkan shalat sunnah tidak disyari’atkan adzan dan iqomah, hanya saja shalat sunnah berjamaah disunnahkan menyeru semisal “shalaatal ‘id rahimakumullaah” (“ayo sholat ‘id moga Allah merahmati kalian”)

Syarat sah adzan: 1) muwaalah (berlanjut tdk jeda lama), 2) tartiib (berurutan kalimatnya) 3) masuk waktu, kecuali adzan pertama subuh dan adzan pertama jum’at (ada khilaf dlm azan pertama jum’at, yg mu’tamad harus masuk waktu juga), 4) dari satu orang (tidak sah separo-separo), 5) dengan bahasa arab, 6) keras jika untuk berjamaah.

Syarat Muadzzin: 1) Islam, 2) Tamyiz, 3) Laki-laki. wanita dan khuntsa hanya sunnah iqomat untuk shalat sendiri atau jama’ah kalangan sendiri. 4) tahu akan masuknya waktu.

2. Iqomah

3. Menempatkan sutroh didepan musholli, bisa berupa dinding, tiang, tongkat ( 30 cm), garis, atau sajadah.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ يَوْمَ الْعِيدِ أَمَرَ بِالْحَرْبَةِ فَتُوضَعُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَيُصَلِّي إِلَيْهَا وَالنَّاسُ وَرَاءَهُ وَكَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السَّفَرِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika keluar untuk shalat ‘ied, beliau meminta sebuah tombak pendek lalu ditancapkannya dihadapannya. Kemudian beliau shalat dengan menghadap ke arahnya, sedangkan orang-orang shalat di belakangnya. Beliau juga berbuat seperti itu ketika dalam bepergian (HR. al Bukhary).

4. Mendatangi shalat dengan semangat dan mengosongkan hati dari kesibukan dunia, karena hal tersebut mempermudah untuk khusyu’. Allah mencela orang-orang yang shalat dengan malas.

وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى

dan mereka tidak mengerjakan shalat melainkan dengan malas (QS. At Taubah: 54)

Sunnah Saat Shalat:

Sunnah Ab’adh[2]: 1) duduk untuk tasyahhud awwal, 2) membaca tasyahhud awwal[3], 3) membaca shalawat kepada nabi saat tasyahhud awwal, 4) shalawat kepada keluarga nabi saat tasyahhud akhir, 5) qunut saat i’tidal rakaat kedua shalat subuh dan rakaat terakhir witir di separo akhir bulan Ramadhan.[4]

Sunnah Hai’at[5]:

1. Mengangkat tangan saat takbirotul ihrom, ruku’, i’tidal, dan bangkit dari tasyahhud awwal. Caranya: mengangkat kedua tangan dg kedua telapak tangan menghadap kiblat, jari-jari renggang, sejajar dengan bahu dan kedua ibu jari sejajar dengan cuping dua telinga.[6]

أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا وَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَكَانَ لَا يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ

bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangannya sejajar dengan pundaknya ketika memulai shalat, ketika takbir untuk rukuk dan ketika bangkit dari rukuk dengan mengucapkan: ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH RABBANAA WA LAKAL HAMDU (Semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya. Ya Rabb kami, milik Engkaulah segala pujian) ‘. Beliau tidak melakukan seperti itu ketika akan sujud.” (HR. al Bukhary)

2. Bersedekap dengan meletakkan tangan kanan di pergelangan tangan kiri saat berdiri. Imam Muslim meriwayatkan dari Wâ-il bin Hujr:

أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ وَصَفَ هَمَّامٌ حِيَالَ أُذُنَيْهِ ثُمَّ الْتَحَفَ بِثَوْبِهِ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى

“Bahwasanya dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya ketika masuk shalat, bertakbir.” Hammam menggambarkannya, “Di hadapan kedua telinganya, kemudian melipatnya pada bajunya kemudian meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya.

3. Memandang ketempat sujud, kecuali saat tasyahhud maka memandang telunjuk yang memberi isyarat, juga saat shalat jenazah melihat ke jenazah.

4. Membaca do’a iftitah, baik shalat wajib maupun sunnah, shalat sendiri maupun berjamaah, imam maupun makmum; dengan syarat : 1) belum membaca al Fatihah, basmalah ataupun ta’awwudz, 2) mendapati imam masih berdiri, 3) tidak khawatir tertinggal membaca al fatihah jika membaca do’a iftitah, 4) bukan shalat jenazah, 5) tidak khawatir habis waktu shalat (jika shalatnya diakhir waktu).

Ada beberapa redaksi yang bisa dibaca. Diantaranya riwayat Imam Muslim dari Ali bin Abu Thalib bahwa apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat, beliau membaca (do’a iftitah) sebagai berikut:

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا[7] وَمَا أَنَا مِنْ  الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ.

اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Aku hadapkan wajahku kepada Allah, Maha pencipta langit dan bumi dengan keadaan ikhlas dan tidak mempersekutukanNya. Sesungguhnya shalatku, segala ibadahku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya, dan karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan berserah diri kepadaNya.

Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku telah menzhalimi diriku dan aku mengakui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang berwenang untuk mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Dan tunjukilah kepadaku akhlak yang paling bagus. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Dan jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Labbaik wa sa’daik (Aku patuhi segala perintahMu, dan aku tolong agamaMu). Segala kebaikan berada di tanganMu. Sedangkan kejahatan tidak datang daripadaMu. Aku berpegang teguh denganMu dan kepadaMu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampun dariMu dan aku bertobat kepadaMu”

Riwayat al Bukhary dan Muslim:

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju dan es yang dingin”

6. Membaca ta’awwudz (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ) sebelum membaca al fatihah. Jika sudah membaca bismillah berarti terlewat sunnah ta’awwudz dan tidak diulang[8]. Disunnahkan membaca ta’awwudz di tiap-tiap rakaat sebelum membaca al Fatihah.[9]

7. Menyaringkan dan memelankan bacaan pada tempatnya. Sunnah bagi imam dan munfarid menyaringkan bacaan pada shalat shubuh, dua rakaat pertama shalat maghrib dan isya’, shalat ‘iedain, gerhana bulan, istisqa, tarawih dan witir.

8. Membaca “Aamiin” (kabulkanlah wahai Allah), setelah membaca al fatihah, bagi imam dan makmum dan munfarid.

9. Makmum membaca al Fatihah setelah “aamiin”. [10]

10. Membaca ayat al Qur’an setelah membaca al Fatihah, pada rakaat pertama dan kedua, ini berlaku bagi imam dan munfarid, begitu juga sunnah bagi makmum jika tidak mendengar bacaan imam. Afdholnya 3 ayat atau lebih, begitu juga afdhol membaca surat-surat sebagaimana yang ada dalam riwayat bacaan Rasulullah dalam shalat beliau, seperti membaca surah as sajadah dan al insan pada shubuh Jum’at, dst.

11. Memanjangkan bacaan al Qur’an pada rakaat pertama lebih dari rakaat kedua.

12. Takbir intiqâl (perpindahan); ketika akan ruku’, akan sujud, dan akan bangun dari sujud dengan lafadz: “Allaahu Akbar”. Permulaan takbir disunnatkan bersamaan dengan awal turun atau naiknya anggota/tubuh, dan memanjangkan takbir sampai sempurnanya rukun yang akan dikerjakan setelahnya. Pemanjangan takbir dilakukan dengan memanjangkan lâm-nya lafal Allâh asal tidak melebihi tujuh alif.

13. Meletakkan telapak tangan ke lutut ketika ruku’ sembari meratakan punggung dan leher.

14. Tasmi’ ketika i’tidal, yakni membaca “sami’allaahu li man hamidah”, bagi imam, makmum maupun munfarid.

15. Membaca tasbih saat ruku’ dan sujud. Saat ruku’ membaca tiga kali: سبحان ربي العظيم وبحمده sedangkan saat sujud membaca tiga kali[11] : سبحان ربي الأعلى وبحمده

16. Mendahulukan meletakkan lutut ke lantai saat sujud, kemudian kedua tangan, baru dahi.[12]

17. Meletakkan hidung ke lantai saat sujud.

18. Berdo’a diantara dua sujud.

19. Meletakkan kedua tangan pada kedua paha pada saat dua tasyahhud. Caranya: telapak tangan kiri terbuka, jari-jari rapat diletakkan menyamai pangkal lutut sebelah kiri, tangan kanan menggenggam kecuali jari telunjuk, jempol diletakkan dibawah telunjuk sehingga terbentuk genggaman “53”, jari telunjuk diangkat saat mengucap “illallaah” sebagai isyarat tauhid dan sunnat begitu hingga akhir shalat pada tasyahhud akhir.[13]

كَانَ إِذَا جَلَسَ فِي الصَّلَاةِ وَضَعَ كَفَّهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَقَبَضَ أَصَابِعَهُ كُلَّهَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى

“Jika beliau saw duduk dalam shalat, beliau meletakkan telapak tangan kanannya diatas paha kanannya dan beliau genggam semua jari jemarinya sambil memberi isyarat dengan jari sebelah jempol (telunjuk), beliau juga meletakkan telapak tangan kirinya diatas paha kirinya.” (HR. Muslim)

20. Duduk tawarruk pada tasyahhud akhir dan iftirosy pada duduk yang lainnya.[14] Imam al Bukhary meriwayatkan dari Abu Humaid:

… فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ الْيُمْنَى فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ

Apabila duduk pada rakaat kedua, beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan menegakkan kakinya yang kanan. Dan jika duduk pada rakaat terakhir, maka beliau memasukkan kaki kirinya (di bawah kaki kananya) dan menegakkan kaki kanannya dan beliau duduk pada tempat duduknya

21. Membaca shalawat Ibrahimiyyah dan berdo’a setelah tasyahhud akhir. Jika do’anya ngarang sendiri, maka harus dengan bahasa Arab, jika dengan bahasa bukan Arab maka batal sholatnya.[15] afdholnya membaca do’a :

image

22. Niat berhenti shalat saat salam yang pertama.

23. Salam yang kedua. Cara salam: memulainya dengan wajah menghadap kiblat, memulai menoleh sekira huruf mim nya “‘alaikum” dan berakhir tolehannya saat berakhir salam, pipi hendaknya sekira terlihat oleh org yang dibelakang.

24. Khusyu’ dalam keseluruhan shalat, yakni tenangnya anggota beserta hadirnya hati dan mentadabburi bacaan, hendaknya berusaha senantiasa menghadirkan hati, jika ‘melayang’ kemana-mana maka segera hadirkan kembali. Jika tidak mampu, minimal pada tiga tempat: saat “wajjahtu wajhiya” , “iyyaaka na’budu…nasta’iin”, dan “assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu … wabarokaatuh”.[16] Allaahu a’lam. [M. Taufik NT,  disampaikan di Majlis Ta’lim di Graha Falah Mandiri, 4 Sept 2016]


Baca Juga:

 

[1] Di ringkas dari kitab Al Mu’tamad fil Fiqh as Syafi’i, 1/307 dst, ditambah seperlunya dari kitab at Taqriiraat as Sadiidah, 1/226 dst, juga al Fiqh al Manhaji ‘ala Madzhab al Imam as Syafi’i, 1/143 dst, Maktabah Syâmilah.

[2] Jika ditinggalkan baik sengaja atau tidak maka disunnahkan sujud sahwi.

[3] HR. al Bukhary:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمْ الظَّهْرَ فَقَامَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ لَمْ يَجْلِسْ فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ حَتَّى إِذَا قَضَى الصَّلَاةَ وَانْتَظَرَ النَّاسُ تَسْلِيمَهُ كَبَّرَ وَهُوَ جَالِسٌ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ ثُمَّ سَلَّمَ

bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat Zhuhur bersama mereka, lalu beliau berdiri pada dua rakaat yang pertama dan tidak duduk (untuk tasyahud), dan orang-orang ikut berdiri. Sehingga ketika shalat akan selesai, dan orang-orang menanti salamnya, beliau bertakbir dalam posisi duduk, lalu sujud dua kali sebelum salam, setelahitu baru beliau salam.”

[4] HR. al Bukhary : bahwa Anas bin Malik pernah ditanya:

أَقَنَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصُّبْحِ قَالَ نَعَمْ فَقِيلَ لَهُ أَوَقَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوعِ قَالَ بَعْدَ الرُّكُوعِ يَسِيرًا

“Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan qunut dalam shalat Shubuh?” Dia berkata, “Ya.” Lalu dikatakan kepadanya, “Apakah beliau melakukannya sebelum rukuk?” Dia menjawab, “Tidak berapa lama setelah rukuk.” Redaksi do’a qunut bisa menggunakan riwayat Abu Dawud dan at Tirmidzi.

[5] Sunnah hai’at adalah sunnah yang jika ditinggalkan tidak disunnahkan sujud sahwi.

[6] Al fiqh al manhaji, 1/147: وكيفية أداء هذه السنَّة: أن يرفع كفيه مستقبلاً بهما القبلة، منشورتي الأصابع، محاذياً بإِبْهَامَيْه لشَحْمَتَي الأذنين، على أن تكون كفَّاه مكشوفتين

[7] Di riwayat Abu Dawud redaksinya : “haniifan musliman…”

[8] An Nahl : 98 فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk).

[9] Para ‘ulama ittifaq akan kesunahannya pada rakaat pertama, adapun dirakaat berikutnya, menurut madzhab Syafi’i, ibnu Habib dari Malikiyyah dan satu riwayat dari Imam Ahmad maka tetap sunnah. Adapun kalangan Hanafiyyah, Hanabilah dan satu qaul dalam Syafi’iyyah hukum nya makruh pada rakaat kedua dst.

[10] HR. Abu Dawud: Nafi’ berkata; ‘Ubadah bin Shamit terlambat dari shalat shubuh…Abu Nu’aim mengimami shalat orang banyak, tidak lama kemudian Ubadah datang bersamaku hingga kami mengambil shaf di belakang Abu Nu’aim, sedangkan Abu Nu’aim mengeraskan bacaannya, sementara ‘Ubadah membaca Al Fatihah. Ketika shalat selesai, aku bertanya kepada Ubadah; “Aku mendengar kamu membaca Al Fatihah ketika Abu Nu’aim mengeraskan bacaannya.” Dia menjawab; “Ya, kami juga pernah melakukan ketika shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di sebagian shalat yang bacaannya di keraskan.” Katanya melanjutkan; “Hingga bacaannya bercampur, selepas shalat, beliau menghadap kami sambil bersabda:

هَلْ تَقْرَءُونَ إِذَا جَهَرْتُ بِالْقِرَاءَةِ

“Apakah kalian juga ikut membaca ketika aku mengeraskan bacaanku?” sebagian kami menjawab; “Kami melakukan hal itu.” Beliau bersabda:

فَلَا وَأَنَا أَقُولُ مَا لِي يُنَازِعُنِي الْقُرْآنُ، فَلَا تَقْرَءُوا بِشَيْءٍ مِنْ الْقُرْآنِ إِذَا جَهَرْتُ إِلَّا بِأُمِّ الْقُرْآنِ

“Oleh karenanya aku berkata (dalam hati), kenapa ada yang membaca bersamaku dan mendahuluiku dalam membaca Al Qur’an?, janganlah kalian membaca sesuatu pun ketika aku mengeraskan bacaan, kecuali bacaan Al Fatihah.”

[11] Boleh juga membaca sesuai hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْلِي.

“Adalah Nabi saw dalam rukuk dan sujudnya mengucapkan subha-nakalla-humma Rabbana wa bihamdikalla-hummaghfirli.” Boleh juga riwayat-riwayat yang lain.

[12] HR. At Tirmidzi dari Wa-il bin Hujr:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ يَضَعُ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ

[13] Al Fiqh al Manhaji, 1/154.

[14] Imam Malik berpendapat, tasyahhud awwal dan tasyahhud kedua, dua-duanya duduk tawarruk. Imam Abu Hanifah dan Ats Tsaury: tasyahhud awal dan tasyahhud kedua, dua-duanya duduk iftirosy. Imam Ahmad bin Hanbal, jika sholat dua rokaat maka tasyahhud akhir dengan duduk iftirosy, jika empat rakaat maka tasyahhud awal duduk iftirosy dan tasyahhud kedua duduk tawarruk.

[15] Mughni al-muhtaj, 1/384, Maktabah Syamilah:

(وَمَنْ عَجَزَ عَنْهُمَا) أَيْ: التَّشَهُّدِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَهُوَ نَاطِقٌ، وَالْكَلَامُ فِي الْوَاجِبَيْنِ لِمَا سَيَأْتِي (تَرْجَمَ) عَنْهُمَا وُجُوبًا؛ لِأَنَّهُ لَا إعْجَازَ فِيهِمَا. أَمَّا الْقَادِرُ فَلَا يَجُوزُ لَهُ تَرْجَمَتُهُمَا، وَتَبْطُلُ بِهِ صَلَاتُهُ (وَيُتَرْجِمُ لِلدُّعَاءِ) الْمَنْدُوبِ (وَالذِّكْرِ الْمَنْدُوبِ) نَدْبًا كَالْقُنُوتِ وَتَكْبِيرَاتِ الِانْتِقَالَاتِ وَتَسْبِيحَاتِ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ (الْعَاجِزُ) لِعُذْرِهِ (لَا الْقَادِرُ) لِعَدَمِ عُذْرِهِ (فِي الْأَصَحِّ) فِيهِمَا كَالْوَاجِبِ لِحِيَازَةِ الْفَضِيلَةِ.

[16] Imam al Ghazali menyatakan 3 hal untuk menjaga shalat: 1) membaguskan wudhu 2) membanyakkan do’a dalam sholat 3) berjuang keras untuk menghadirkan hati.

Posted on 13 September 2016, in Ibadah and tagged . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Salam,
    Ustadz, mau bertanya, pada poin ke 10. Membaca ayat al Qur’an setelah membaca al Fatihah, pada rakaat pertama dan kedua, ini berlaku bagi imam dan munfarid, begitu juga sunnah bagi makmum jika tidak mendengar bacaan imam,
    Pertanyaannya, jika makmum mendengar bacaan imam namun tetap membaca surah lain selain alfatihah, sahkah sholatnya?
    jika tidak sah, bagaimana sholatnya selama ini yang selalu membacanya karena ketidaktahuannya, apakah perlu diqodho?

    Suka

    • sah saja, rasul tidak menyuruh mengulang sahabat yang membaca saat beliau membaca (lihar hadits terkait di postingan). Allaahu A’lam

      Suka

  2. Assalamu’alaikum Ustadz,
    Mohon Maaf sebelumnya ustad, Saya mau bertanya lagi.
    – Sesudah kita azan dimasjid, lalu tdk ada orang yang datang lalu kita sholat sendrian sebaiknya Niatnya gimana ustad. adaan atau imam

    – saya pernah dengar cermah bahwa laki2 mesti sholat berjamaah dimasjid. misalnya ustad dalam sikon yang mebuat kita tidak bisa datang ke Masjid atau kita berada diladang/hutan kita sholat niatnya gimana ustad adaan atau imam. ada kawan saya bilang niatnya imaman aja kan ada malaikat yag jadi makmum. mohn penjelasannya ustad

    – Sholat berjamaah dirumah dengan anak dan istri apakah nilanya sama dengan sholat berjamaah dimasjid ustad

    – Shlat berjamaah dimasjid bagi laki2 nilanya 27 derajat bagaimana dengan kaum perempuan ustat.

    Mohon jawabannya ustadz, terima kasih sebelumnya.

    Wassalamu’alikum..

    Suka

    • wa’alaikumussalaam…
      1) dan 2) kalau yakin/menduga kuat bakalan akan ada makmum yang datang maka boleh niat imaaman (menjadi imam), jika tidak ada dugaan kuat akan ada makmum maka jika berniat jadi imam shalatnya jadi batal karena itu termasuk main-main. lihat di ‘iaanatut thalibin:
      وتصح نيتها مع تحرمه وان لم يكن خلفه ان وثق بالجماعة على الاوجه_ ومفاده انه اذا لم يثق بها لاتصح نيته للامام فان نوى بطلت صلاته لتلاعبه
      Kalaupun diawal tidak berniat jadi imam, lalu setelah itu datang makmum, maka masih bisa mengubah niat jadi imam ditengah shalat.

      2) saya tidak tahu kalau ada pendapat shalat sendirian bisa berniat jadi imam karena ada malaikat di situ.
      3) perempuan juga afdhol berjamaah, lebih afdhol lagi mereka berjamaah di rumah. Laki-laki afdholnya di masjid. tidak sama shalat jama’ah dirumah dg dimasjid, tdk sama pula dimasjid yg jamaahnya sedikit dg masjid yang banyak jamaahnya… bisa dilihat urutan2nya di kitab taqriiraat as sadiidah. Allaahu A’lam

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s