Mengangkat Pemimpin Kafir; Ikhtilaf?

Jika yang dimaksud hanya pemimpin dalam urusan administrasi, tidak punya hak untuk melegislasi undang-undang (peraturan), tidak punya hak mengangkat kepala daerah, maka memang benar ada ikhtilaf dalam hal ini, sebagian ‘ulama, seperti Imam Badruddin Al-Hamawi As-Syafi’i (w. 733 H) melarang orang kafir menduduki jabatan apapun yang mengurusi urusan kaum muslimin, walau sekedar jadi pemungut zakat, sementara sebagian lainnya, seperti Imam al Mawardi (w. 450 H) membolehkan.

Dalam kitabnya, Tahrîrul Ahkâm fi Tadbîri Ahlil Islâm, hal 146[1], Imam Badruddin menyatakan:

وَلَا يجوز تَوْلِيَة الذِّمِّيّ فِي شَيْء من ولايات الْمُسلمين إِلَّا فِي جباية الْجِزْيَة من أهل الذِّمَّة أَو جباية مَا يُؤْخَذ من تِجَارَات الْمُشْركين. فَأَما مَا يجبى من الْمُسلمين من خراج أَو عشر أَو غير ذَلِك فَلَا يجوز تَوْلِيَة الذِّمِّيّ فِيهِ، وَلَا تَوْلِيَة شَيْء من أُمُور الْمُسلمين

Tidak boleh mengangkat kafir dzimmi untuk jabatan apapun yang mengatur umat Islam kecuali untuk memungut jizyah dari kalangan dzimmi atau untuk memungut pungutan transaksi jual-beli dari kalangan musyrikin. Sedangkan untuk memungut kharaj, zakat (‘usyur) atau lainnya dari penduduk muslim, tidak boleh mengangkat kafir dzimmi untuk jabatan ini, tidak boleh juga mengangkat mereka untuk jabatan apapun yang menangani kepentingan umum umat Islam.

Beliau beralasan dengan firman Allah swt:

وَلنْ يَجْعَل الله للْكَافِرِينَ على الْمُؤمنِينَ سَبِيلا

Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman (QS. An Nisa : 141).

Beliau kemudian melanjutkan:

وَمن ولى ذِمِّيا على مُسلم فقد جعل لَهُ سَبِيلا عَلَيْهِ

Barang siapa yang mengangkat kafir dzimmi sebagai pejabat yang menangani urusan muslim, maka sungguh ia telah memberikan jalan bagi orang kafir untuk menguasai muslim.

Imam Badruddin juga beralasan dengan surat Al Maidah : 51:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.
Imam Ibnu Qayyim al Jawziyyah juga memiliki pendapat yang sama dengan Imam Badruddin. Dalam Ahkamu Ahlidz Dzimmah, 1/499, beliau menyatakan:

وَلَمَّا كَانَتِ التَّوْلِيَةُ شَقِيقَةَ الْوِلَايَةِ كَانَتْ تَوْلِيَتُهُمْ نَوْعًا مِنْ تَوَلِّيهِمْ، وَقَدْ حَكَمَ تَعَالَى بِأَنَّ مَنْ تَوَلَّاهُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

“Ketika tawliyah (pemberian suatu jabatan) adalah ‘saudara kandung’nya wilayah (mengangkat jadi pemimpin) maka  pemberian jabatan adalah salah satu bentuk tawalli (menjadikan mereka wali/pemimpin/kepercayaan) padahal Allah telah memvonis setiap yang mentawalli mereka berarti bagian dari mereka (lihat QS al Maidah :51)…”

Sementara itu, Imam al Mawardi, dalam kitabnya, Al Ahkâm as Sulthâniyyah, hal 58[2] menyatakan:

وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ هَذَا الْوَزِيرُ مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ، وَإِنْ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ وَزِيرُ التَّفْوِيضِ مِنْهُمْ،

Dan boleh wazir ini (yakni wazir tanfidz[3]) dari kalangan kafir dzimmi, walaupun wazir tafwidh tidak boleh dari kalangan mereka.

Adapun jika pemimin itu adalah penguasa (al hukkâm), punya wewenang membuat hukum, maka sependek pengetahuan saya, tidak ada ikhtilaf tentang ketidakbolehan orang kafir memangku jabatan tersebut.

Imam an Nawawi (w. 676H) mengutip pernyataan Qadli Iyadl (w. 544H) yang berkata:

أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الْإِمَامَةَ لَا تَنْعَقِدُ لِكَافِرٍ وَعَلَى أَنَّهُ لَوْ طَرَأَ عَلَيْهِ الْكُفْرُ انْعَزَلَ

“Para ulama telah sepakat (ijma’) bahwa kepemimpinan tidak sah diberikan kepada orang kafir, dan mereka juga sepakat bahwa seandainya terjadi kekufuran atasnya, maka ia wajib dipecat”. (Imam Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, 12/229, Maktabah Syamilah)

Itu semua terkait dengan pemimpin dalam sistem Islam yang menerapkan hukum-hukum Islam, adapun jika yang diterapkan adalah hukum dan aturan yang bertentangan dengan Islam, seorang muslimpun tetap tidak boleh menjalankan aturan yang bertentangan dengan Islam, apalagi non muslim.

Ketika seorang muslim bersedia menjadi penguasa, maka dia wajib terikat dengan syari’at Allah SWT dalam setiap hal dan kebijakannya. Adanya riba, perzinaan yang legal, tayangan yang menonjolkan aurat, miras, bebasnya muslim melanggar aturan Allah; tidak shalat, tidak puasa dll, tidak tegaknya hukum hudud dan jinayat, semua itu tanggung jawab dia, yang tidak akan lepas hanya dengan kesholehan secara pribadi. Allâhu A’lam. [M.Taufik N.T]

Baca Juga:


[1] maktabah syamilah

[2] maktabah syamilah

[3] Wazir tanfidz adalah wakil khalifah/kepala negara dalam urusan administrasi, sementara wazir tafwidl adalah wakil dalam urusan pemerintahan/kekuasaan. Beliau merinci perbedaan wazir tanfidz dan tafwidz sebagai berikut:

وَيَكُونُ الْفَرْقُ بَيْنَ هَاتَيْنِ الْوَزَارَتَيْنِ بِحَسَبِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا فِي النَّظَرَيْنِ، وَذَاكَ مِنْ أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ:

أَحَدُهَا: إِنَّهُ يَجُوزُ لِوَزِيرِ التَّفْوِيضِ مُبَاشَرَةُ الْحُكْمِ وَالنَّظَرُ فِي الْمَظَالِمِ؛ وَلَيْسَ ذَلِكَ لِوَزِيرِ التَّنْفِيذِ.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ يَجُوزُ لِوَزِيرِ التَّفْوِيضِ أَنْ يَسْتَبِدَّ بِتَقْلِيدِ الْوُلَاةِ وَلَيْسَ ذَلِكَ لِوَزِيرِ التَّنْفِيذِ.

وَالثَّالِثُ: إِنَّهُ يَجُوزُ لِوَزِيرِ التَّفْوِيضِ أَنْ يَنْفَرِدَ بِتَسْيِيرِ الْجُيُوشِ وَتَدْبِيرِ الْحُرُوبِ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِوَزِيرِ التَّنْفِيذِ.

وَالرَّابِعُ: إِنَّهُ يَجُوزُ لِوَزِيرِ التَّفْوِيضِ أَنْ يَتَصَرَّفَ فِي أَمْوَالِ بَيْتِ الْمَالِ بِقَبْضِ مَا يَسْتَحِقُّ لَهُ، وَبِدَفْعِ مَا يَجِبُ فِيهِ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِوَزِيرِ التَّنْفِيذِ، وَلَيْسَ فِيمَا عَدَا هَذِهِ الْأَرْبَعَةِ مَا يَمْنَعُ أَهْلَ الذِّمَّةِ مِنْهَا، إلَّا أَنْ يَسْتَطِيلُوا فَيَكُونُوا مَمْنُوعِينَ مِنَ الِاسْتِطَالَة.

Posted on 11 September 2016, in Ikhtilaf, Politik, Syari'ah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s