Terlilit Hutang atau Terjajah?

Imam Abu Dawud[1] meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam masuk masjid dan mendapati seorang sahabat dari anshar yang dipanggil Abu Umamah, beliau bertanya:

يَا أُمَامَةَ، مَا لِي أَرَاكَ جَالِسًا فِي الْمَسْجِدِ فِي غَيْرِ وَقْتِ الصَّلَاةِ؟

“Wahai (Abu) Umamah, ada apa hingga aku lihat engkau duduk di masjid bukan pada waktu shalat?”.

Abu Umamah menjawab;

هُمُومٌ لَزِمَتْنِي، وَدُيُونٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ

kegundahan dan hutang yang selalu menyelimutiku wahai Rasulullah!

Beliau lalu berkata:

أَفَلَا أُعَلِّمُكَ كَلَامًا إِذَا أَنْتَ قُلْتَهُ أَذْهَبَ عَزَّ وَجَلَّ هَمَّكَ، وَقَضَى عَنْكَ دَيْنَكَ؟

“Maukah aku ajarkan perkataan yang apabila kamu ucapkan maka Allah Azza wa jalla akan menghilangkan kegundahanmu dan melunaskan hutang-hutangmu?”

Abu Umamah berkata:

بَلَى، يَا رَسُولَي

ya wahai Rasulullah.

Beliau saw bersabda:

قُلْ إِذَا أَصْبَحْتَ، وَإِذَا أَمْسَيْتَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Apabila kamu berada dipagi dan sore hari maka ucapkanlah: “ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL HAMMI WAL HAZANI WA A’UUDZU BIKA MINAL ‘AJZI WAL KASALI, WA A’UUDZU BIKA MINAL JUBNI WAL BUKHLI WA A’UUDZU BIKA MIN GHALABATID DAINI WA QAHRIR RIJAAL (Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kegundahan dan kesedihan dan aku berlindung kepadaMu dari kelemahan dan kemalasan dan aku berlindung kepadaMu dari sifat penakut dan bakhil dan aku berlindung kepadaMu dari terlilit hutang dan pemaksaan dari orang lain.

Abu Umamah berkata:

فَفَعَلْتُ ذَلِكَ، فَأَذْهَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَمِّي، وَقَضَى عَنِّي دَيْنِ

maka akupun melaksanakannya dan ternyata Allah ‘azza wajalla menghilangkan kegundahanku dan melunasi hutang-hutangku.

Ibnu Qayyim dalam Kitab Al Jawâbul Kâfy[2] menjelaskan al hamm (kegundahan) adalah kekhawatiran akan terjadi sesuatu dimasa depan yang tidak disukai hati, sedangkan jika telah terjadi dimasa lalu disebut al hazn (kesedihan).

Seseorang yang tidak mau melakukan upaya perbaikan bisa jadi karena tidak punya kemampuan, ini disebut al ‘ajzu (kelemahan), atau bisa jadi karena tidak punya kemauan, ini yang disebut dengan al kasal (malas).

Rasulullah juga sandingkan sifat jubn dan bukhl. Jubn (pengecut) adalah ketiadaan manfa’at darinya sebab badan (akal dan kemampuan fisik)nya, sementara bukhl (pelit) adalah ketidak mauan memberi manfa’at dari hartanya.

Sedangkan berkaitan Ghalabatud/Dhala’ud dayn/ (lilitan utang) dengan qahr al-rijal (pemaksaan orang lain), beliau menyatakan:

فَإِنَّ اسْتِعْلَاءَ الْغَيْرِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ بِحَقٍّ فَهُوَ مِنْ ضَلَعِ الدَّيْنِ، وَإِنْ كَانَ بِبَاطِلٍ فَهُوَ مِنْ قَهْرِ الرِّجَالِ

“penguasaan orang lain atas dirinya, jika dengan (cara yang) benar maka merupakan lilitan hutang, jika dengan (cara yang) bathil, dia termasuk pemaksaan orang lain”

***

Tahun 2016 ini, utang luar negeri Indonesia melejit ke angka Rp 4.281 triliun, cicilan bunga utang sebesar Rp 191,2 triliun, sementara tahun depan cicilan bunga yang harus dibayarkan mencapai Rp 221,4 triliun.

Dan kalau kita simak paparan sebelumnya, maka negeri ini bukan dalam kondisi terlilit hutang (ghalabatud dayn), namun dalam kondisi terjajah (qahrur rijâl), mengapa demikian? Karena ‘penguasaan asing’ atas negeri ini dilakukan dengan cara-cara yang bathil[3], walau dikesankan legal. Syara’ mengharamkan sumber daya alam yang sangat melimpah diserahkan kepada asing, namun sekarang rata-rata 70% berbagai sumber daya alam negeri ini ‘diserahkan’ kepada asing, bahkan mereka turut ‘mengintervensi’ pembuatan undang-undang. Syara’ mengharamkan riba, namun riba bisa tumbuh subur di negeri ini dengan mengatasnamakan investasi.

***

Hadits di awal, disamping memberikan solusi secara pribadi, juga seharusnya ‘menginspirasi’ untuk menyelesaikan problem nasional; yakni dengan minta perlindungan dan penjagaan kepada Allah dari semua hal tersebut, bukan berlindung kepada musuh!. Bagaimana caranya? Rasulullah saw katakan:

اِحْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ

jagalah Allah, maka pasti Allah menjagamu… (HR. at Tirmidzi)

Imam Ibnu Rajab (w. 795)[4] menjelaskan maksud hadits ini: “Jagalah perintah-perintah, larangan-larangan dan batasan-batasan serta hak-hak Allah yaitu dengan menjalankan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan serta menjauhi apa yang dilarang-Nya”.

Dengan kata lain, meminta perlindungan dan penjagaan kepada Allah hanya dapat dilakukan dengan cara  menjalankan seluruh hukum syari’ah-Nya yang bisa terlaksana dengan tegaknya sistem Khilafah,  bukan malah dengan mencampakkan hukum-hukum-Nya dan ‘menantang perang’ Allah dengan tetap mengambil riba, atau memilih-milih hukum yan dianggap cocok saja yang diterapkan. Rasulullah telah memperingatkan:

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan mereka memilih-milih apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka. (HR. Ibnu Majah). Allaahu A’lam. [M. Taufik NT]

Baca Juga:


[1] Juga diriwayatkan oleh Imam al Baihaqi dalam Ad Da’wâtul Kabîr, 1/414, maktabah syamilah

[2] الجواب الكافي لمن سأل عن الدواء الشافي أو الداء والدواء, hal 73, maktabah syamilah:

فَالْهَمُّ وَالْحَزَنُ قَرِينَانِ: فَإِنَّ الْمَكْرُوهَ الْوَارِدَ عَلَى الْقَلْبِ إِنْ كَانَ مِنْ أَمْرٍ مُسْتَقْبَلٍ يَتَوَقَّعُهُ أَحْدَثَ الْهَمَّ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَمْرٍ مَاضٍ قَدْ وَقَعَ أَحْدَثَ الْحَزَنَ.

وَالْعَجْزُ وَالْكَسَلُ قَرِينَانِ: فَإِنْ تَخَلَّفَ الْعَبْدُ عَنْ أَسْبَابِ الْخَيْرِ وَالْفَلَاحِ، إِنْ كَانَ لِعَدَمِ قُدْرَتِهِ فَهُوَ الْعَجْزُ، وَإِنْ كَانَ لِعَدَمِ إِرَادَتِهِ فَهُوَ الْكَسَلُ.

وَالْجُبْنُ وَالْبُخْلُ قَرِينَانِ: فَإِنَّ عَدَمَ النَّفْعِ مِنْهُ إِنْ كَانَ بِبَدَنِهِ فَهُوَ الْجُبْنُ، وَإِنْ كَانَ بِمَالِهِ فَهُوَ الْبُخْلُ.

وَضَلَعُ الدَّيْنِ وَقَهْرُ الرِّجَالِ قَرِينَانِ: فَإِنَّ اسْتِعْلَاءَ الْغَيْرِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ بِحَقٍّ فَهُوَ مِنْ ضَلَعِ الدَّيْنِ، وَإِنْ كَانَ بِبَاطِلٍ فَهُوَ مِنْ قَهْرِ الرِّجَالِ.

[3] Contoh gholabatud dayn adalah seperti yang dialami Muhammad bin Sirin yang dipenjara gara-gara tdk mampu bayar hutang. (baca Khutbah Jum’at-Bisnis yang Berkah)

[4] Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, 1/462, Maktabah Syamilah:

قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” احْفَظِ اللَّهَ ” يَعْنِي: احْفَظْ حُدُودَهُ، وَحُقُوقَهُ، وَأَوَامِرَهُ، وَنَوَاهِيَهُ، وَحِفْظُ ذَلِكَ: هُوَ الْوُقُوفُ عِنْدَ أَوَامِرِهِ بِالِامْتِثَالِ، وَعِنْدَ نَوَاهِيهِ بِالِاجْتِنَابِ، وَعِنْدَ حُدُودِهِ، فَلَا يَتَجَاوَزُ مَا أَمَرَ بِهِ، وَأَذِنَ فِيهِ إِلَى مَا نَهَى عَنْهُ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ، فَهُوَ مِنَ الْحَافِظِينَ لِحُدُودِ اللَّهِ

Posted on 6 September 2016, in Ekonomi, Khutbah Jum'at, Mutiara Hadits, Politik, Syari'ah and tagged , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Assalamu’alaikum Ustadz, do’a yang diatas itu ustadz kok beda ya ustad antara bacaan arab dengan bacaan latinnya, yang benar yang mana ustad??

    boleh tidak ustad do’a yang aslinya do’a untuk sendiri, cuman kita robah jadi do’a untk umum, seprti do’a diatas ustad, padahal kita juga tidak ada ilmunya terutma tentang bahasa arab atau ilmu yang berkaintan dengan hal itu. cuman bsanya merubah kata-kata ” ni ” aku, menjadi Kata “na”kami. gimana itu ustadz?

    Kemudian Ustad, saya pernah dengar adan seorang yang baca do’a. do’anya ini do’a dalam Alquran yaitu ” Rabbana Atina Fiddunya hasanah….dst diakhir do’anya kan seharusnya ” Waqina ‘azabannar ” cuman oleh orang tadi ditambah ustad ” waqina ‘azal mahsyar, waqina ‘azalqubri dan baru waqina ‘aza bannar, smentara itukan ayat alquran lalu disela dengan bacaan yang lain itu gimana ustad hukumnya??

    Suka

    • Wa’alaikumussalaam….
      rasanya sama saja, yang ini kan?:
      اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَقَهْرِ الرِّجَالِ

      “ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL HAMMI WAL HAZANI WA A’UUDZU BIKA MINAL ‘AJZI WAL KASALI, WA A’UUDZU BIKA MINAL JUBNI WAL BUKHLI WA A’UUDZU BIKA MIN GHALABATID DAINI WA QAHRIR RIJAAL

      Boleh saja berdo’a dengan ‘mengarang’ redaksi sendiri, walau lebih afdholnya do’a yang ma’tsur dari Rasulullah saw

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s