Ikut Pendapat Imam Madzhab atau Ikut Hadits Shahih?

 

Saat pendapat Imam Madzhab bertentangan dengan hadits shahih?, manakah yang harus diamalkan?.

Mungkin bagi sebagian kalangan hal ini akan dijawab dengan sangat gampang, “ya pasti ikut hadist shahih lah, kan para imam madzhab sendiri menyuruh begitu, Imam as Syafi’i misalnya menyatakan:

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ماقلت

Jika kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi sunnah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam, maka katakanlah (beramalah) dengan sunnah Rasulullah tersebut dan tinggalkanlah apa yang telah kukatakan.”[1]

Hanya saja masalahnya tidak sesepele itu, al Hâfidz Waliyuddin Abu Zur’ah al ‘Irâqy membahas permasalahan tersebut dalam kitab beliau Al-Ajwibah al-Mardliyyah ‘an al-As-ilah al-Makiyyah hlm 65 sd 68. Diantara yang beliau sampaikan adalah[2]: Seorang yang taklid kepada Imam asy-Syafi’i jika menemukan sebuah hadits shahih yang menyelisihi atas apa yang telah difatwakan oleh imam asy-Syafi’i, dan dia mengtahui bahwa (hadits tersebut) tidak dinasakh, tidak pula bertentangan dengan hadits yang lebih rajîh (kuat), maka hadits tersebut ketika itu (menjadi) madzhab asy-Syafi’i[3], dengan syarat orang yang bertaklid tersebut memiliki kapasitas untuk:

  1. Mengetahui keshahihan suatu hadits dari kecacatannya.
  2. Mengetahui pemahaman yang dikandung hadits dan pengetahuan untuk mengamalkannya
  3. Melingkupi (memahami) dalil-dalil lain dalam (permasalahan) bab tersebut.
  4. Mengetahui syarat-syarat dalam masalah tarjih.
  5. Mengetahui pendapat imam asy-Syafi’i dalam masalah tersebut dan mengatahui apa yang dimaksudkan oleh beliau.
  6. Mengetahui bahwasanya imam asy-Syafi’i belum pernah menelaah hadits yang ditemukannya tersebut kemudian meninggalkan hadits tersebut karena adanya pertentangan dengan dalil-dalil yang lain.

Jadi tidak sembarangan seseorang boleh mengamalkan hadits shahih secara langsung dg pemahamannya sendiri, jika tidak memenuhi syarat-syarat tersebut, yang terjadi sebenarnya bukan mengikuti sunnah Rasulullah, namun membuat kesalahan pengamalan dengan menisbahkan kesalahan pengamalan tersebut kepada Rasulullah. Allaahu A’lam.

Baca Juga:


[1] الأجوبة المرضية عن الأسئلة المكية hal 65

[2] فالمقلد للشافعي إذا وجد حديثاً صحيحاً على خلاف ماأفتى به الشافعي مع علمه بأنه ليس منسوخاً ولامعارضاً بما هو أرجح منه عمل به، وهو حينئذ مذهب الشافعي بشرط أن يكون المقلد المذكور فيه أهلية معرفة صحيح الحديث من سقيمه، وأهلية فهم الحديث والعمل به والإحاطة بما في ذلك الباب من الأدلة، ومعرفة شروط الترجيح وبشرط أن يكون نَظَر كلام الشافعي رحمه الله تعالى في تلك المسألة في مظانه، وعلم أن الشافعي لم يطلع على ذلك الحديث وتركه لمعارض

Imam an Nawawi dalam al Majmu’ (1/64) juga menyatakan:

وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ الشافعي ليس معناه ان كل أحد رَأَى حَدِيثًا صَحِيحًا قَالَ هَذَا مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَعَمِلَ بِظَاهِرِهِ: وَإِنَّمَا هَذَا فِيمَنْ لَهُ رُتْبَةُ الِاجْتِهَادِ فِي الْمَذْهَبِ عَلَى مَا تَقَدَّمَ مِنْ صِفَتِهِ أَوْ قَرِيبٍ مِنْهُ: وَشَرْطُهُ أَنْ يَغْلِبَ عَلَى ظَنِّهِ أَنَّ الشَّافِعِيَّ رَحِمَهُ اللَّهُ لَمْ يَقِفْ عَلَى هَذَا الْحَدِيثِ أَوْ لَمْ يَعْلَمْ صِحَّتَهُ: وَهَذَا إنَّمَا يَكُونُ بَعْدَ مُطَالَعَةِ كُتُبِ الشَّافِعِيِّ كُلِّهَا وَنَحْوِهَا مِنْ كُتُبِ أَصْحَابِهِ الْآخِذِينَ عَنْهُ وَمَا أَشْبَهَهَا وَهَذَا شَرْطٌ صَعْبٌ قَلَّ من ينصف بِهِ: وَإِنَّمَا اشْتَرَطُوا مَا ذَكَرْنَا لِأَنَّ الشَّافِعِيَّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَرَكَ الْعَمَلَ بِظَاهِرِ أَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ رَآهَا وَعَلِمَهَا لَكِنْ قَامَ الدَّلِيلُ عِنْدَهُ عَلَى طَعْنٍ فِيهَا أَوْ نَسْخِهَا أَوْ تَخْصِيصِهَا أَوْ تَأْوِيلِهَا أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ

[3] Sebagaimana perkataan Imam as Syafi’i sendiri,

إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي

Apabila suatu hadits itu sahih, maka itulah mazhabku (al Majmu’, 1/92)

Posted on 18 Agustus 2016, in Afkar, Ushulul Fiqh and tagged , , . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. Assalamu’alaikum Ustadz.. sebelumnya saya mohon maaf ustad saya betanya lagi, saya berharap semoga ustad tidak keberatan menjawab pertanyaan saya, krna memang saya orang cuman tamat SMA ustd jad jauh dari ilmu agama.

    Pertanyaan nya diluar tajuk yang diatas ustd.
    1. Ditempat kami banyak toke-toke sawit yang apa bila mereka beli sawit masyarakat, misalnya toke beli hari minggu kemudian diantar ke pabrik hari selasa maka hrga yang dipakai untuk membeli sawit masyarakat bukan harga hari minggu, tetapi harga hari selasa, itu bagaimana hukumnya ustad dalam jual beli.

    2. Usatad saya pernah pinjam uang di bank Konvensional sudah berjalan 2 tahun setelah saya belajar/baca tentang hukum pinjam uang dibank di internet, ternyata saya dalam masalah besar saya baru tahu klau saya sudah melakukan praktek riba. uang yang saya pinjam saya belikan tanah ( tanahnya saat ini belum digarap ) bagaimana dengan status tanah yang saya beli itu ustad apakah harus saya jual lagi atau sayah olah sendiri sementara pembelinya uang dari hasil paktek riba. mohon solusi dan pencerahannya ustad.

    Suka

    • Wa’alaikumussalaam…
      1. Dalam akad jual beli, harga harus jelas dan disepakati, jika tidak jelas maka akadnya rusak (fasad). Maka jika akadnya pada hari ahad dengan harga hari selasa, namun harga hari selasa itu jelas (misalnya hari ahad harganya 5 ribu/kg, hr selasa 4 ribu/kg, dan dia mengatakan “kujual ini dg harga hari selasa (yakni 4 ribu/kg), dibayarnya hari selasa” maka sah. Kalau tidak jelas harganya maka bisa pakai akad samsaroh saja, toke jadi simsar (broker) saja, dia akadnya cuma menjualkan lalu meminta upah berapa persen dari penjualan. Allaahu a’lam. https://mtaufiknt.wordpress.com/2013/07/25/meneladani-rasulullah-saw-dalam-jual-beli/

      2. Tanah tsb sah saja sampiyan miliki, hanya saja riba utang tersebut segera saja diselesaikan, segera lunasi, kalau perlu dengan menjual barang untuk melunasinya maka segera saja diselesaikan, moga Allah memudahkan sampiyan.

      Suka

  2. Terimakasih banyak ustad atas Jawabannya.

    Suka

  3. Kalau toke itu tidak mau cara yang sebenar, yang akad nya jelas tadi, itu gimana ustad kan cara jual beli kita salah dalam pandangan islam. karna seluruh toke caranya seperti itu ustad kalau pakai cara yang kedua yang ustad bilang itu ada juga itu hanya untuk petani yang panen sawitnya 2 ton keatas ada juga toke yang hanya sekedar ambil upah angkut saja. itupun sulit ustad. boleh dbilang gk ada paling untuk kelurga toke aja. gimana solusinya ustad.

    Suka

    • Intinya mau dibayar minggu atau selasa, harga harusnya sudah ditentukan dulu. Atau akadnya minta dijualkan, dengan harga diserhkan pada kebijakan toke, terima uangnya hari selasa juga tdk mengapa. Allaahu A’lam.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s