Benarkah Hanya Boleh Berguru ke Satu Orang Saja?

Saya pernah mendengar dalam pengajian bahwa berguru hanya boleh ke satu orang saja. benarkah?

***

Saya juga pernah mendengar pengajian seorang tuan guru di Martapura (lewat TV kabel di rumah kami, kebetulan rumah kami dulunya dekat dg beliau), kalau difahami dari kalimat beliau dan disimpulkan tekstual memang sepertinya memang tidak boleh, jangankan berguru, sekedar mendengar pengajian orang lain, lalu dalam hati mengatakan “apa yang disampaikan orang lain tersebut bagus” itupun sudah dianggap tidak punya adab terhadap guru kita.

 

Saya awalnya agak heran, karena selama saya mengaji (guru-guru ngaji pertama saya juga kalangan “aswaja”, mereka murid-murid Kyai Misbah Zainul Musthafa Bangilan), namun tidak ada mereka melarang hal tsb.

Saya ber husnudzdzan ungkapan guru dalam pengajian tersebut objeknya adalah guru tarekat (mursyid), dalam rangka membendung aliran-aliran tarekat yang menyimpang di Martapura dan sekitarnya (ada yang betamat (berhenti) shalat, “nikah bathin”, dll).

Sayangnya ungkapan itu kadang disalahgunakan sebagian kalangan untuk mengeruk keuntungan. Saya pernah ada pertanyaan dari teman istri (wanita) ketika mau berangkat haji, gurunya mau memandikannya dulu, dia takut kalau menolak dianggap tidak beradab pada gurunya, jangankan menolak, bertanya ke guru lain saja tidak boleh…ada juga teman di Kotabaru yang menanyakan hal aneh dari seorang guru di sana yang menisbahkan dirinya ke guru di Martapura yang ngisi pengajian tadi, yang prilakunya “aneh” dan mengajak murid-muridnya jadi “aneh”…

Memang benar jika guru kita itu Nabi Muhammad saw, maka berguru (agama, bukan hanya tarekat) cukup ke beliau, tidak boleh ke lain, beliau pernah marah ketika Umar ra membawa-bawa lembaran Taurat.

Namun, berguru kepada orang yang tidak maksum tidak bisa disamakan dengan berguru ke Nabi. Imam as Syafi’i saat muda, walaupun berguru ke orang yang sangat ‘alim, yakni Imam Malik di Madinah, setelah dua tahun beliau berangkat ke Irak untuk berguru pada murid-murid Imam Abu Hanifah, madzhab yang berbeda dengan Imam Malik.

Imam as Syafi’i memberi contoh bahwa adab kepada guru bukanlah direpresentasikan dengan menutup mata dari khazanah keilmuan Islam yang luas, namun dengan bersikap baik kepada gurunya, termasuk ‘mengoreksi’ dg santun gurunya jika ada yang dirasa kurang tepat, sebagaimana yang dilakukan Imam as Syafi’i muda kepada Imam Malik dalam kasus penjual burung.

Bentuk penghormatan lainnya adalah dengan tidak mengamalkan apa yang menurut beliau sunnah ketika berbeda dengan gurunya. Di lingkungan murid-murid Imam Abu Hanifah beliau tidak membaca qunut dalam shalat subuh, bahkan ketika shalat dekat dengan kuburan Imam Malik pun beliau tidak membaca qunut, ini bentuk penghormatan yang boleh.

Inilah seharusnya sikap seorang muslim, tidak menyia-nyiakan kebaikan hanya karena alasan ‘beda guru’. Apalagi kalau ternyata guru yang kita belajar kepadanya banyak kekurangannya. Ada teman yang dulu ketika ‘nyantri’ di Martapura, gurunya (di pesantren) bercerita bahwa ketika beliau ke Jawa, beliau ikut shalat Jum’at di suatu masjid, ternyata azannya cuma sekali (dalam pandangan beliau ini bukan masjid ‘aswaja’), lalu beliau bilang bahwa beliau mengulangi shalatnya jadi shalat dzuhur. Bayangkan apa jadinya jika masyarakat hanya mau berguru pada guru yang seperti ini, walau beliau dipanggil ‘guru’ dan dikenal ‘alim oleh masyarakat. Saya tidak bermaksud merendahkan beliau, hanya sekedar memberi contoh.

Yang harusnya jadi perhatian bukan bolehnya berguru kepada lebih dari satu orang atau tidak, namun bagaimana prilaku gurunya, itu yang lebih penting. Imam Malik dalam al-Muhaddits al-Fashil Bayna ar-Rawi wa al-Wa’i tidak melarang berguru ke lebih dari satu orang, hanya memberikan rambu supaya jangan mengambil ‘ilmu dari orang yang memperturutkan hawa nafsu, orang yang jelas bodohnya, orang yang biasa berdusta, dan orang yang tidak mengerti apa yang dia bicarakan walaupun dia ahli ibadah dan banyak keutamaannya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

(orang-orang) yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS. Az Zumar: 18). [M. Taufik N.T]

Baca Juga:

Posted on 16 Agustus 2016, in Akhlaq, Syari'ah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s